Zaman Dulu, Ganja Jadi Bahan Kertas dan Medis di Semenanjung Arab

  • Bagikan
Ilustrasi ganja. (Foto: Pixabay/Tugu Jatim)
Ilustrasi ganja. (Foto: Pixabay/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Ganja memang dikenal sebagai tanaman yang misterius, meskipun saat ini penggunaannya dilarang oleh pemerintah, tapi ternyata banyak catatan mengenai kebermanfaatannya di masa lalu. Contohnya, berdasarkan buku Hikayat Pohon Ganja yang diterbitkan oleh Lingkar Ganja Nusantara (LGN) pada 2011, ternyata ganja sudah dimanfaatkan oleh orang-orang di Semenanjung Arab sebagai bahan medis dan kertas pada zaman kekhalifahan Abbasiyah.

Mereka mempelajari manfaat ganja sebagai kertas pada 751 M. Saat itu kekhalifahan Abbasiyah mengalahkan Dinasti Tang dalam Perang Talas untuk memperebutkan wilayah di Sungai Syrdarya yang terletak di daerah Khazakstan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgistan.

Kekhalifahan Abbasiyah yang berhasil menangkap salah seorang tawanan asal China dipaksa mengungkapkan rahasia pembuatan kertas yang sudah disembunyikan selama berabad-abad. Akhirnya pada 794 M, lahirlah pabrik kertas pertama di Baghdad dan membuat kertas menyebar ke Eropa.

Lalu bangsa Arab juga yang kali pertama memperkenalkan pembuatan kertas menggunakan serat-serat batang ganja. Inovasi ini kali pertama ditemukan pada 1.151 oleh orang-orang Arab yang mendirikan pabrik kertas di Spanyol.

Di bidang medis, kemajuan bangsa Arab sangat dipengaruhi oleh buku-buku dari Yunani. Di antaranya, seperti Materia Medica yang ditulis Dioskorides yang diterjemahkan Istifan bin Basil di masa pemerintahan Al-Mutawakkil pada 847-861 M, dan juga buku De Simplicium Medicamentorum Temperamentis ac Falcultatibus karya Galenus tahun 199 yang diterjemahkan oleh Hanayn bin Ishak pada 873 M.

Lalu Ibnu Masawayh yang wafat pada 857 M menyebutkan kali pertama bahwa ganja memiliki manfaat berupa minyak yang diambil dari biji untuk menyembuhkan sakit telinga bila diteteskan ke area yang sakit.

Lalu pada abad ke-X, Ishak bin Sulaiman membenarkan manfaat ganja tersebut dan mengatakan jika minyak ganja juga bisa mengangkat benda-benda asing di telinga.

Lalu pada abad ke-XII, Ibnu Al-Baithar, seorang ahli botani dari Malaga, mengatakan jika minyak ganja bisa digunakan untuk menyembuhkan gas rih pada telinga.

Ibnu Al-Khatib dari Granada pada abad XIV menyatakan jika minyak ganja yang dicampur getah tanaman Ferula galbaniflua bisa menyembuhkan penyakit panas yang disebabkan penyakit telinga Tinnitus aurium.

Dan pada abad ke-XVI, Al-Antaki mengatakan jika minyak ganja juga bisa digunakan untuk membunuh cacing yang ada di telinga.

Hal ini sesuai dengan catatan penulis ganja bernama Al-Dima pada abad ke-IX yang mengatakan jika ganja dapat membunuh parasit yang hidup di dalam tubuh.

Pada abad ke-X Masehi, Ibnu Sina bahkan memasukkan ganja sebagai kumpulan tanaman yang berfungsi sebagai obat. Salah satunya adalah berfungsi untuk mengobati dan mengeluarkan gas yang ada di dalam perut.

Lalu Ibnu Al-Badri pada 1464 mengatakan jika ganja dapat menyembuhkan putra penasihat kekhilafan dari penyakit epilepsi secara permanen, tapi menimbulkan kecanduan terhadap ganja.

Tanaman ganja memang menjadi pro-kontra saat itu karena memang diakui sebagai obat, tapi efeknya yang memabukkan dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dan pada masa pemerintahan Sultan Baibars pada awal abad ke-XIII menyatakan jika ganja dilarang digunakan.

Namun, keputusan tersebut diprotes beberapa dokter seperti Umar bin Yusuf bin Rasul yang mengatakan jika ganja bisa digunakan sebagai obat kepala, Al-Qazwini juga mengatakan jika jus ganja dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada radang bola mata, dan masih banyak manfaat lainnya. (rap/ln)

  • Bagikan