Belajar Daring, Guru Rasakan Learning Lost

Belajar Daring, Guru Rasakan Learning Loss

  • Bagikan
Ilustrasi interaksi guru dan murid saat belajar online/tugu jatim
Ilustrasi interaksi guru dan murid saat belajar online. (Foto: Pexels)

Oleh: Auliya Rahma Maziidah*

Tugujatim.id– Kondisi pandemi sejak 2020 lalu, membuat segala aspek kegiatan harus mengubah sistemnya. Transisi perubahan sistem belajar-mengajar dari tatap muka ke pertemuan depan layar membuat adanya sesuatu yang hilang pada suatu aspek pembelajaran.

Dalam sebuah wawancara, Dr. Sugeng Susilo Adi, M.Hum. selaku dosen Universitas Brawijaya (UB) mengatakan bahwa pada awal mula pembelajaran online tentu kaget karena harus menyesuaikan dengan suasana yang berbeda. Dari tatap muka di kelas hingga bertatap muka secara maya. Dari situ saya merasa ada ‘Learning Lost’. Contohnya, diskusi di kelas yang menumbuhkan atmosfir pada kita sekarang.

Perasaan ini juga dirasakan oleh Sugeng saat  pembelajaran berlangsung dan beliau sedang menjelaskan materi. Beberapa mahasiswa keluar dan masuk ruang kelas akibat sinyal yang tidak stabil. Akibatnya ada materi yang tidak tersampaikan secara sempurna. Di sinilah seorang pengajar tidak dapat mengontrol pembelajaran selama kelas berlangsung. Karena, koneksi yang stabil maupun tidak berada di luar kendali pengajar.

“Ada juga yang menghilang tiba-tiba karena lelah, jenuh, dan lain sebagainya. Itu juga di luar kontrol saya. Kalau didalam kelas, kita bisa datangi mereka dan meminta untuk mengulang penjelasan atau membaca materi. Tapi di sini saya selalu batasi penjelasan materi untuk meminimalisir hal di atas terjadi. Lebih baik diajak berdiskusi dengan mengirimkan komentar mengenai materi yang saya kirimkan,” tutur  Sugeng.

Untungnya, para dosen di Universitas Brawijaya tidak terlalu kaku dalam menghadapi hal ini, karena pembelajaran tatap muka secara online telah menjadi poin pada pembelajaran konvensional. Sehingga tidak perlu memakan banyak waktu untuk bersandingan dengan sistem yang baru.

Penilaian antara mahasiswa yang aktif dan pasif dilihat dari seberapa antusias mereka menyalakan kamera saat kelas berlangsung. Asessment ini sempat menjadi perbedaan tolak ukur antar dosen. Karena, tidak bisa dipungkiri dosen yang mengajar juga dapat kehilangan sinyal saat menjelaskan materi dengan menyalakan kamera. Hingga memutuskan untuk memaklumi keadaan, dan mengubah tolak ukur aktif adalah respon saat kegiatan dikelas berjalan.

Semakin lama, proses pembelajaran ini terus mengalami perbaikan. Dan, setiap pengajar terus berusaha meningkatkan kualitas mengajarnya meski dalam kondisi yang tidak konvensional.

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang.

  • Bagikan