JAKARTA, Tugujatim.id – Forum inovasi digital bertajuk Ruang Cipta 2025 resmi digelar di Ganara Art & BINUS University International, FX Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (11/09/2025).
Event akbar yang berlangsung pukul 09.00-16.00 WIB ini menghadirkan sederet pemimpin inspiratif, pakar industri, hingga changemakers lintas sektor yang membahas masa depan transformasi digital di Indonesia.
Mengusung tema “Empowering Innovation, Collaboration, and Creativity in the Digital Era”, forum ini menjadi wadah kolaborasi strategis antara pemerintah, korporasi, akademisi, hingga startup dalam memperkuat ekosistem digital nasional.
Baca Juga: Industri Kecantikan Tembus Panggung Sains, ParagonCorp Curi Perhatian di KSTI 2025
Salah satu sesi berbagi pengalaman, membahas jatuh bangunnya, perusahaan transportasi bernama Bluebird. Di tengah persaingan ketat dengan layanan transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek dan Grab, Bluebird justru menjawab tantangan dengan berbagai inovasi berbasis teknologi.
Vice President for Digital Product Bluebird Group Muhammad Ario Adimas menegaskan bahwa arah baru Bluebird bukan hanya sekadar perusahaan transportasi, melainkan menjadi mobility company yang berteknologi tinggi.
“Bluebird adalah perusahaan mobility yang benar-benar punya kendaraannya sendiri. Kalau kompetitor sebagian besar mengandalkan mitra, Bluebird melakukan investasi penuh. Itu sebabnya standar layanan tidak bisa ditawar,” ujar Ario di forum RuangCipta 2025 itu.
Bluebird Bertahan lewat Dua Guncangan Besar
Perjalanan inovasi Bluebird tidak lepas dari dua tantangan besar. Pertama, hadirnya “dua sahabat” yakni Uber, Gojek, dan Grab, yang saat itu membawa gebrakan aplikasi transportasi online. Bluebird sempat tertinggal karena memulai dari aplikasi Blackberry, namun segera berbenah dengan membangun My Bluebird App.
“Awalnya memang kalah cepat, tapi Bluebird menemukan celah dengan menjual keunggulan yang tidak dimiliki kompetitor, yaitu standar layanan dan kenyamanan armada,” jelas Ario.
Tantangan kedua datang saat pandemi Covid-19. Hampir semua perusahaan transportasi terpukul, namun Bluebird mengambil keputusan berbeda. Alih-alih melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), perusahaan memilih mempertahankan seluruh karyawan dan driver.
“Pak Purnomo Prawiro, CEO lama Bluebird, waktu itu berpesan: hidup kita sudah cukup, kenapa justru karyawan yang dikorbankan? Karena itu lahirlah inovasi Bluebird Kirim. Dari yang biasanya hanya mengantar manusia, kami mulai mengantar barang,” tutur Ario.
Meski tidak sebesar kompetitor karena layanan menggunakan mobil, Bluebird Kirim saat itu mampu menyelamatkan perusahaan di masa krisis. Setelah pandemi, Bluebird justru bangkit dan tumbuh lebih stabil.
Strategi 3M: Multiproduct, Multichannel, dan Multipayment
Untuk memperkuat posisi di industri, Bluebird mengusung strategi 3M:
1. Multiproduct – Bluebird menghadirkan berbagai lini layanan, mulai dari taksi reguler (Bluebird, Silver), Golden Bird untuk premium, Big Bird untuk bus, hingga akuisisi City Trans untuk layanan antarkota. Perusahaan juga memiliki layanan corporate, Bird Mobil, hingga lelang kendaraan.
2. Multichannel – Selain aplikasi My Bluebird, layanan perusahaan juga hadir di platform lain seperti GrabCar Plus dan GoCar (GoBluebird). Kehadiran di banyak kanal membuat Bluebird lebih mudah diakses pelanggan.
3. Multipayment – Bluebird melengkapi opsi pembayaran dengan berbagai metode digital, mengikuti perkembangan tren cashless yang semakin digemari masyarakat.
“Dengan strategi 3M, Bluebird tidak hanya bertahan, tapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan konsumen yang makin dinamis,” tegas Ario.
AI for Today dan AI for Tomorrow
Salah satu fokus besar Bluebird adalah penerapan Artificial Intelligence (AI). Namun, Ario menekankan bahwa AI harus dipilah menjadi dua: AI for Today dan AI for Tomorrow.
AI for Tomorrow mencakup riset teknologi masa depan, misalnya autonomous car atau taksi tanpa sopir. Meski belum diluncurkan, Bluebird sudah memulai riset bersama mitra strategis untuk mempersiapkan teknologi ini.
Sementara AI for Today lebih praktis dan langsung diterapkan untuk mendukung bisnis. Beberapa inovasi yang sudah berjalan di antaranya:
- Fixed Price berbasis AI, yang menghitung tarif perjalanan secara akurat dengan membandingkan argo dan kondisi lalu lintas.
- AI Dispatch System, yang mengarahkan driver ke lokasi potensial order terdekat, bukan sekadar ke pusat keramaian.
- AI Interview System, menggantikan wawancara driver oleh manusia agar lebih objektif.
- AI Customer Service, di mana jawaban untuk pelanggan mulai digantikan suara AI yang natural, mirip manusia, bahkan bisa bercanda.
“Kami ingin AI bukan hanya sebagai mesin, tapi hadir dengan interaksi yang manusiawi. Itu tantangan yang sekarang sedang kami kerjakan,” tambah Ario.

Visi Lebih Penting dari Sekadar Teknologi
Menariknya, Ario sendiri mengaku bukan berasal dari latar belakang teknologi. Sebelumnya dia berkarir di bidang marketing, bahkan sempat menjabat sebagai VP Marketing di Gojek.
Namun, CEO Bluebird Sigit Joko Sutono melihat pentingnya menghadirkan orang yang bisa membawa visi, bukan sekadar menguasai coding.
“Programmer dan engineer bisa dicari, tapi orang yang bisa memberi arah ke mana teknologi Bluebird harus dibawa, itu yang dibutuhkan. Jadi yang utama adalah visi, bukan hanya kemampuan teknis,” imbuhnya.
Hal ini yang membuat Bluebird semakin yakin melangkah ke depan. Dengan kombinasi antara standar layanan, inovasi teknologi, serta visi yang jelas, Bluebird membuktikan bahwa perusahaan berusia lebih dari 50 tahun ini tidak kalah gesit dengan startup digital.
“Bluebird membuktikan bahwa inovasi adalah kunci bertahan. Kami tidak hanya memadamkan api hari ini, tapi juga menyiapkan masa depan. AI dan teknologi hanyalah alat, yang penting adalah bagaimana menggunakannya dengan tepat untuk membawa manfaat,” pungkas Ario.
Paragon Tekankan Pentingnya Inovasi dan People First
Narasumber kedua dalam sesi berbagi pengalaman, perwakilan Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute ParagonCorp Kamal Muzakki turut menyampaikan paparan. Dia menegaskan bahwa inovasi dan nilai perusahaan menjadi kunci keberlangsungan bisnis selama 40 tahun.
Kini Paragon memiliki sekitar 14 ribu karyawan dengan 85 persen di antaranya perempuan. Pabrik berpusat di Jatake, Tangerang, sementara laboratoriumnya menjadi salah satu RnD kosmetik terbesar di Asia Tenggara.
“Paragon berawal dari UMKM kecil bernama Pusaka Tradisi Ibu, kini berkembang menjadi Paragon Technology and Innovation (PTI). Kami selalu percaya, kekuatan utama ada pada people dan inovasi,” ujar Kamal.
Menurut dia, Paragon tidak hanya tumbuh karena strategi bisnis, tetapi juga berkat keberanian untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Paragon bertahan karena inovasi. Kalau kita berhenti berinovasi, brand tidak akan relevan lagi di mata konsumen,” jelasnya.
Hyper Segmentation Jadi Strategi Inovasi
Menurut Kamal, kunci lain kesuksesan Paragon adalah strategi hyper segmentation. Wardah hadir sebagai pelopor kosmetik halal, Emina menyasar segmen remaja, Make Over ditujukan untuk kalangan profesional, sementara OMG menjadi pilihan dengan harga terjangkau.
“Setiap brand punya segmennya masing-masing. Dengan begitu, Paragon bisa menjangkau semua lapisan konsumen,” jelasnya.
Pandemi Covid-19 juga menjadi tantangan besar karena orang jarang keluar rumah sehingga penjualan makeup menurun drastis. Namun, Paragon cepat beradaptasi dengan meningkatkan produksi skincare yang justru naik permintaannya.
“Kalau tidak berinovasi, mungkin Paragon sudah tertinggal. Tapi pandemi justru membuka peluang baru untuk memperkuat lini skincare,” sambung Kamal.
Inovasi Digital, AI, dan Open Innovation
Kamal menuturkan, Paragon kini tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga digitalisasi. Perusahaan menerapkan open innovation, yaitu kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk mempercepat riset dan pengembangan.
Selain itu, teknologi Artificial Intelligence (AI) juga mulai dimanfaatkan dalam proses inovasi produk maupun pemasaran.
“Inovasi itu bukan hanya soal produk, tapi juga cara kita membangun ekosistem. Paragon harus hadir di semua lini, termasuk digital dan AI,” ungkap Kamal.
Jika dulu sebuah studi kasus membutuhkan waktu hingga tiga bulan, kini dengan bantuan AI, proses tersebut bisa diselesaikan dalam hitungan jam.
“CEO kami selalu bertanya: sudah diskusi dengan AI atau belum? Kalau belum, berarti pekerjaan belum selesai. AI wajib digunakan, bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk memberdayakan,” jelasnya.
Meski begitu, Kamal menegaskan bahwa Paragon tidak ingin AI membuat pengurangan tenaga kerja, melainkan justru membuka peluang kerja baru.
Mindfulness di Tengah Gempuran Teknologi
Selain inovasi teknologi, Paragon juga menekankan pentingnya mindfulness agar karyawan tetap seimbang secara mental. Berbagai metode sederhana diterapkan, seperti latihan pernapasan, yoga, hingga teknik menyadari lingkungan sekitar.
“Teknologi menuntut kecepatan, tapi kita harus tetap waras. Mindfulness membuat kita tetap tenang dan manusiawi di tengah gempuran teknologi,” kata Kamal.
People First: Menyaring Talenta Berkualitas
Paragon juga menaruh perhatian besar pada sumber daya manusia (SDM). Proses rekrutmen disebut Kamal sangat ketat, bahkan kandidat Management Trainee (MT) harus bertemu langsung dengan owner.
“Ibaratnya, mencari karyawan itu seperti mencari menantu. Bukan hanya soal skill, tapi juga values,” tuturnya.
Saat ini, Paragon telah menembus pasar Malaysia dan Brunei, dan dalam waktu dekat menargetkan ekspansi ke Timur Tengah. Kamal berharap produk-produk Paragon bisa menjadi teman masyarakat Indonesia saat umrah maupun haji.
“Produk Paragon adalah karya anak bangsa. Kami ingin membuktikan bahwa inovasi dari Indonesia bisa mendunia,” pungkasnya.
Selain dua narasumber di atas, Ruang Cipta 2025 dihadiri tokoh-tokoh penting, antara lain Chairman of IATIB Agustin Peranginangin; Menteri Komunikasi dan Digital Affairs Indonesia Meutya Hafid; Campus Director BINUS University International Dr Andreas Chang M.B.A; VP Digital Product Bluebird Group Ario Adimas; dan CEO Radya Labs Puja Pramudya.
Kemudian Fintech Product & Operations Advisor Nadhira Ayuningtyas; Partner, DSX Ventures Rama Mamuaya; Head of Entrepreneurship and Incubation Section, BINUS Raissa Almanda; hingga AI Skills Director for Indonesia, Microsoft Elevate Arief Suseno.
Acara ini juga didukung oleh deretan mitra strategis seperti ParagonCorp, Microsoft, BINUS University, Tugu Jatim ID, Bespin Global, SILCS, dan Radyalabs.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








