SIDOARJO, Tugujatim.id – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sidoarjo memetakan sejumlah wilayah yang dinilai rawan terhadap aktivitas peredaran narkotika. Jalur transportasi udara melalui Bandara Internasional Juanda menjadi perhatian karena diduga kerap dimanfaatkan para pelaku sebagai jalur masuk maupun keluar peredaran narkotika.
Pemetaan tersebut didasarkan pada hasil survei prevalensi penyalahgunaan narkotika yang untuk pertama kalinya dilakukan secara mandiri bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Hasil survei itu menjadi dasar penyusunan langkah pencegahan yang lebih terarah.
Baca Juga: Viral Angka Kasus HIV di Sidoarjo Tembus 7.230, Kadinkes Jelaskan Fakta di Baliknya
Kepala BNNK Sidoarjo Kombes Pol Gatot Soegeng Soesanto menyampaikannya saat peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 di Kantor BNNK Sidoarjo, Kamis (23/07/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sidoarjo H. Subandi dan Wakil Ketua III DPRD Sidoarjo Warih Andono.
Menurut Gatot, kondisi geografis Sidoarjo sebagai kabupaten penyangga yang berada dekat dengan ibu kota Jawa Timur, serta memiliki wilayah pesisir dan akses jalur udara, mengharuskan seluruh pihak memperkuat sinergi untuk mencegah masuknya narkotika.
“Angkanya masih lebih kecil dibandingkan nasional. Tetapi bukan berarti kita kemudian leha-leha,” kata Gatot.
Dia mengatakan ancaman narkotika terus berkembang. Para pelaku peredaran gelap narkotika akan terus mengubah modus operandi, mencari pasar baru, dan menyusun berbagai cara untuk menghindari pengungkapan aparat. Setiap kali satu modus berhasil diungkap, para pelaku akan mencari cara baru untuk kembali menjalankan aksinya.
“Masalah narkotika itu selalu berkembang. Mereka akan selalu mencari pasar baru dan membuat modus-modus operandi baru,” ujarnya.
Bandara Juanda Masuk Fokus Pengawasan
Gatot mengatakan, BNNK Sidoarjo juga memberi perhatian khusus terhadap jalur transportasi udara. Menurut Gatot, Sidoarjo memiliki Bandara Internasional Juanda yang mendapat pengawasan ketat karena berpotensi dimanfaatkan oleh para pelaku peredaran narkotika sebagai jalur masuk maupun keluar.
“Beberapa kali petugas mencurigai barang bawaan penumpang di Bandara Internasional Juanda. Setelah dilakukan pemeriksaan, barang tersebut terbukti merupakan narkotika dan kemudian diamankan serta dimusnahkan sesuai prosedur,” kata Gatot.
Menurut Gatot, kondisi geografis Sidoarjo sebagai kabupaten penyangga yang memiliki wilayah pesisir serta akses jalur udara mengharuskan seluruh pihak memperkuat sinergi untuk mencegah masuknya narkotika.
Selain mengawasi jalur peredaran, Gatot mengatakan BNNK Sidoarjo juga mencermati setiap munculnya modus baru penyalahgunaan narkotika, termasuk melalui rokok elektrik atau vape.
BNNK Sidoarjo menilai langkah kewaspadaan terhadap peredaran rokok elektrik menjadi penting setelah BNN RI bersama Bea Cukai dan Kepolisian mengungkap penyelundupan sekitar 3,37 ton kuncup bunga ganja di Gresik pada 2 Juli 2026. Barang tersebut diduga akan diekstrak untuk dijadikan bahan campuran rokok elektrik.
“Persoalan ini menjadi perhatian kami karena modus peredaran narkotika terus berkembang, termasuk melalui rokok elektrik,” kata Gatot.
Gatot mengingatkan semua pihak agar tidak terlena dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika yang relatif rendah berdasarkan hasil survei. Menurut dia, kondisi tersebut harus disikapi dengan kewaspadaan karena penyalahgunaan narkotika merupakan fenomena gunung es.
Karena itu, semua pihak tidak boleh underestimate, tetapi harus overestimate dalam menjaga kewaspadaan terhadap ancaman peredaran narkotika.
“Kami tidak boleh terlena dengan angka prevalensi yang rendah. Persoalan narkotika ini seperti fenomena gunung es. Kelihatannya di puncak rendah, yang di bawahnya bisa lebih besar,” tegas Gatot.
Pemkab Sidoarjo Perkuat Edukasi Pencegahan
Sementara itu, Bupati Sidoarjo H. Subandi mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba. Menurut dia, keberhasilan pemberantasan narkoba tidak hanya dilihat dari jumlah pelaku yang ditangkap aparat, tetapi juga dari kemampuan bersama dalam menekan jumlah pengguna, terutama di kalangan remaja.
“Yang lebih penting adalah bagaimana bisa menekan dan mengurangi jumlah pengguna narkoba, terutama di kalangan remaja,” kata Subandi.
Dia mengatakan hasil survei prevalensi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan seluruh pihak dalam menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian khusus. Dari data tersebut, langkah pencegahan dapat diperkuat melalui edukasi bersama BNN, kepolisian, sekolah, dan para guru agar bahaya penyalahgunaan narkoba dapat dicegah sejak dini.
“Kalau dari data prevalensi ditemukan wilayah yang perlu perhatian, semua pihak diminta turun bersama. Pemerintah daerah, pemerintah desa, kecamatan, dan kepolisian dengan pendampingan BNN memberikan edukasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba,” ajak Subandi.
Dia berharap seluruh pihak terus bersinergi untuk membuat Sidoarjo semakin siap menghadapi ancaman penyalahgunaan narkoba.
“Harapannya, Sidoarjo benar-benar siap menyatakan perang terhadap narkoba. Semua pihak harus terus bersinergi agar penyalahgunaan narkoba dapat dicegah,” tegas Subandi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Fauzan
Editor: Dwi Lindawati








