BOJONEGORO, Tugujatim.id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah menyusun langkah mengatasi krisis air, salah satunya dengan menghidupkan kembali atau me-revitalisasi ratusan embung dan waduk yang selama ini terbengkalai.
“Revitalisasi embung bukan hanya soal infrastruktur. Ini soal hak dasar masyarakat untuk mendapatkan air. Kita ingin air tidak hanya tersedia, tapi juga terdistribusi secara adil,” tegas Setyo Wahono, Bupati Bojonegoro saat ditemui di Pendopo Malowopati Bojonegoro.
Langkah tersebut bukan isapan jempol. Data dari Dinas PU Sumber Daya Air Bojonegoro mencatat, dari total 433 embung yang tersebar di seluruh kecamatan, setidaknya 172 embung dalam kondisi tak ideal. Sebanyak 23 rusak dan 149 lainnya tertimbun sedimen, sehingga daya tampungnya menurun drastis.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada sumur dangkal dan sumber air musiman. Harapannya, pertanian tetap hidup dan warga tak perlu lagi mengantre air bersih di musim kering.
“Ini bukan pekerjaan satu atau dua tahun. Tapi kami berkomitmen untuk menata Bojonegoro agar lebih tahan terhadap kekeringan,” tegasnya.
Pemkab Bojonegoro menggandeng sejumlah pihak, mulai dari Ditjen Sumber Daya Air KemenPU, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS BS), PDAM Tirta Buana, hingga akademisi dari Universitas Brawijaya. Semua disatukan dalam misi memperkuat ketahanan air daerah.
“Kolaborasi ini bukan proyek semata, tapi bentuk gotong royong untuk masa depan Bojonegoro yang lebih siap menghadapi perubahan iklim,” ungkap Kepala Dinas PU SDA Bojonegoro, Bambang Ciptoyo.
Salah satu fokusnya adalah revitalisasi 16 embung yang strategis dan penambahan jaringan sambungan rumah (SR) agar distribusi air lebih merata ke rumah-rumah warga. Tak berhenti di situ, Pemkab juga menggagas pembangunan enam embung baru pada 2025.
“Kami juga tengah mengoptimalkan lebih dari 500 sumber mata air serta ratusan check dam yang selama ini kurang dimanfaatkan,” tambah Bambang.
Waduk Gongseng pun kini mulai menunjukkan manfaatnya. Airnya dialirkan ke lahan pertanian yang sebelumnya selalu kering kerontang di musim kemarau. Bahkan, Pemkab kini mulai menyiapkan Waduk Karangnongko sebagai proyek jangka panjang guna menambah cadangan air wilayah timur Bojonegoro.
Sementara itu, dari pusat, Ditjen SDA dan BBWS Bengawan Solo turut menyiapkan berbagai program pendukung. Di antaranya adalah pembahasan skema pemanfaatan Solo Valley Werken sebagai sumber air irigasi dan air baku. Bendungan Karangnongko juga masuk dalam agenda besar revitalisasi.
“Kami tidak bisa bergerak sendiri. Maka kolaborasi dengan Pemkab dan akademisi menjadi sangat penting,” ujar perwakilan BBWS BS, Endang Purwanti, dalam forum koordinasi pekan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








