Budi Daya Jamur Tiram, Perempuan Bojonegoro Ini Bisa Raup Untung Rp 7 Juta Sekali Panen

  • Bagikan
Jamur tiram hasil budidaya Diny Anggraeni, perempuan asal Bojonetoro yang bisa meraup omzet hingga Rp 7 juta sekali panen. (Foto: Mila Arinda/Tugu Jatim)
Jamur tiram hasil budidaya Diny Anggraeni, perempuan asal Bojonetoro yang bisa meraup omzet hingga Rp 7 juta sekali panen. (Foto: Mila Arinda/Tugu Jatim)

BOJONEGORO, Tugujatim.id – Budi daya jamur tiram dianggap sebagian orang sebagai usaha yang cukup membutuhkan kesabaran. Bagaimana tidak, untuk satu kali panen butuh waktu kurang lebih empat bulan lamanya. Namun sebanding dengan penghasilan yang didapat bisa sampai Rp 7 juta dalam sekali panen.

Hal itu seperti yang dilakoni Diny Anggraeni, perempuan asal Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro ini telah sukses membudi daya jamur tiram sejak 2016 silam. Dengan modal awal Rp 1 juta dan bisa dapat 300 baglog (media yang digunakan untuk tempat tumbuhnya jamur, red).

“Awalnya ada tiga rak baglog jamur tiram yang saya taruh di dapur. Namun karena tempatnya dirasa kurang luas akhirnya ia membuat lumbung budi daya jamur tiram,” katanya.

Awalnya Diny membeli baglog jamur tiram tersebut dari Tulungagung. Sebab menurutnya jika membuat sendiri, hal tersebut justru malah rumit dan membutuhkan dana yang cukup banyak.

Hingga saat ini, Diny tengah membudidayakan 1.300 baglog jamur tiram meski lumbungnya bisa menampung 2.000 baglog. Satu baglog, kata dia, bisa bertahan hingga 7 bulan, akan tetapi kekuatan setiap baglog berbeda.

Dalam membudidayakannya, Diny menggunakan media tanam dari baglog yaitu serbuk gergaji halus, terutama serbuk kayu sengon yang cocok untuk jamur tiram. Karena menurutnya jika menggunakan serbuk kayu yang lain, ia merasa hasilnya kurang bagus.

Baglog kemudian dikeluarkan dan langsung diisi dengan bibit jamur tiram. Jamur tiram ini, kata dia, ada beberapa warna dan perbedaannya, di antaranya jamur tiram coklat, kuning, putih serta merah muda. Sedangkan, untuk jamur tiram coklat lebih tebal dibandingkan dengan lainnya.

“Kalau untuk panennya empat bulan sekali mulai dari awal tanam. Meski setiap hari juga jamur ini tumbuh tapi tidak sebanyak waktu panen. Bahkan, satu baglog bisa panen tujuh kali,” ungkap, perempuan asal

Sedangkandalam pemasarannya, Diny menjual dari pasar ke pasar, seperti Pasar Tanjungharjo dan Pasar Mojoranu.

Meski jangkauan pasar masih secara lokal dan belum meluas, saat ini Diny bisa meraup untung hingga Rp 7 juta untuk satu kali panen.

Hasil budi daya jamur tiram milik Diny juga bisa diolah menjadi aneka camilan seperti keripik jamur atau jamur krispi. Diny berharap ke depannya mampu memperbanyak budidaya jamur tiram.

“Ke depan, saya ingin terus mengembangkan dan memperbanyak budi daya jamur tiram. Terutama juga memasarkan keripik jamur tiram,” ungkapnya.

  • Bagikan