Dampak Pandemi, Dunia Penerbangan di Malang Babak Belur

  • Bagikan
Ilustrasi bandara yang terdampak pandemi. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi bandara yang terdampak pandemi. (Foto: Pixabay)

MALANG, Tugujatim.id – Pandemi COVID-19 ini rupanya sangat berdampak pada dunia industri di sektor penerbangan. Tak terkecuali dampak pandemi menampar bisnis Sriwijaya Air.

“Karena Pandemi COVID-19 ini sifatnya global, terutama dunia pariwisata, perhotelan, kampus akhirnya terganggu. Sehingga sektor perekonomian terutama sektor penerbangan mendapatkan imbasnya,” ungkap Station Manager Sriwijaya Air Malang, M Yusri Hansyah, saat dikonfirmasi tugumalang.id partner Tugu Jatim, Jumat (25/12/2020).

“Sehingga orang membatasi diri saat pandemi ini. Kedua, dengan adanya regulasi di penerbangan membuat orang merasa was-was untuk bepergian. Terutama saat ini ada rapid test dan rapid test antigen serta swab membuat orang yang tadinya mau mengeluarkan uangnya jadi tidak mau lagi,” sambungnya.

Baca Juga: Mengenal Gerry Yo, Desainer Masker Glamor Asal Malang yang Mendunia

Menurutnya, dunia industri pasti terdampak karena semua kesinambungan antara pariwisata, akademisi sampai perjalanan dinas akhirnya tidak berputar.

Yusril mengungkapkan jika saat pandemi Sriwijaya Air harus memberikan pemahaman kepada klien/relasi bahwa di situasi ini ada pembatasan penumpang dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Terutama saat kita mengangkut penumpang itu tidak bisa maksimal, sehingga yang tadinya bisa mengisi 100 persen sekarang hanya 70 persen,” ujarnya.

Bahkan, di Malang sendiri kini Sriwijaya Air jarang menyediakan pesawat karena minimnya penumpang.

“Di Malang sendiri sebelum pandemi kita ada 3 pesawat, sekarang karena ada pandemi jadi kadang ada pesawat tapi kadang tidak ada sama sekali. Karena saat kita coba beberapa kali penerbangan ternyata demand-nya tidak signifikan, sehingga tidak seimbang antara produksi dan revenue,” bebernya.

Oleh karena itu, pihaknya memutuskan untuk memindahkan rute perjalanan agar tidak terlalu merugi.

“Sehingga kita putuskan lebih baik kita terbangkan ke sektor lain yang mana aturan protokol kesehatannya masih ada toleransi. Ada yang rapid tes saja, jadi itu yang kita manfaatkan. Kita eksplore daerah yang lain untuk armada yang ada,” tegasnya.

Penurunan penumpang saat pandemi juga dirasakan sangat signifikan daripada tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Minthil, Sepeda Motor Unik Berbentuk Keong Karya Mekanik asal Malang

“Total pelanggan Sriwijaya kalau sebelum pandemi sekitar 34 ribu sampai 35 ribu pelanggan aktif selama satu bulan di Malang saja. Sekarang setelah ada pandemi ini pelanggan kita arahan ke Juanda Surabaya, dan turunnya sangat drastis sampai 60 persen. Jadi, kadang tinggal 40 persen kita arahkan ke Juanda Surabaya,” ungkapnya.

“Kalau dulu satu hari rata-rata bisa mengangkut 400 orang pelanggan, sekarang mungkin sehari hanya 100 pelanggan saja. Sehingga 2 flight kita cancel, karena gak ada packnya. Bahkan, ironisnya di kuartal kedua (Bulan April 2020) itu kita nyaris tidak terbang, karena demand-nya tidak ada memang,” sambungnya.

Yusril mengatakan jika hal ini berada dari dampak para mahasiswa sudah pulang dan perjalanan dinas tidak ada.

“Sifatnya jadi temporary jadinya, orang-orang hanya memerlukan ketika benar-benar membutuhkan perjalanan saja. Dulu waktu itu hanya tinggal 10 persen saja, tapi sekarang apalagi diberlakukan PSBB lagi sehingga aturannya ketat lagu,” ucapnya.

“Kita tidak tahu lagi kedepannya bakal berjalan seperti apa,” lanjutnya.

Yusril sendiri saat pandemi lebih banyak bekerja untuk memberikan informasi pada pelanggan.

Baca Juga: Sinopsis Film Eagle Eye, Kala Telepon Misterius Mulai Ancam Keselamatan Jiwa

“Saat pandemi ini yang kita kerjakan seperti mengupdate informasi pada pelanggan, ketika ada aturan dari kementrian atau regulator kita sampaikan ke pelanggan. Sehingga pelanggan tahu apa yang bisa mereka lakukan ketika bepergian,” ucapnya.

Saat ini pihaknya harus aktif menjual rute-rute yang lain contohnya ke wilayah timur dan sumatera. Sriwijaya Air juga bakal optimalkan pelayanan orang-orang dari Malang.

“Harapannya pandemi ini segera berakhir, dan ekonomi tumbuh kembali. Sehingga tidak berdampak tragis pada semua dunia usaha, pariwisata, pendidikan sampai perindustrian,” ujarnya.

“Saya perkirakan ini bisa kembali seperti semua akan membutuhkan waktu lama, belum tentu satu dua tahun akan pulih. Bisa tiga tahun lagi akan pulih, artinya harus pintar-pintar dalam kondisi saat ini,” pungkasnya. (rap/gg)

  • Bagikan