Dari Tumpukan Koran jadi Perpustakaan, Ini Kisah Perjuangan Eko Cahyono Dirikan Perpustakaan - Tugujatim.id

Dari Tumpukan Koran jadi Perpustakaan, Ini Kisah Perjuangan Eko Cahyono Dirikan Perpustakaan

  • Bagikan
pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Malang/Tugu Jatim)
pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Perpustakaan Anak Bangsa yang berada di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang mungkin menjadi salah satu perpustakaan terbesar di Kabupaten Malang. Namun, siapa sangka perpustakaan yang menyimpan ribuan buku ini ternyata berawal dari berton-ton tumpukan koran.

“Dulu waktu 90-an buku itu masih susah, tapi aku memang suka baca-baca koran, dan menurutku koran itu meskipun dibaca kapanpun masih relevan. Karena di koran kita bisa baca cerpen, iklan dan masih banyak lagi,” terang pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono saat melakukan live Instagram bersama Tugumalang.id grup Tugu Jatim, Kamis (08/04/2021).

Waktu itu, pria asli Jabung ini membeli berton-ton koran yang harganya waktu itu masih Rp 4.000,- per kuintal.

“Nah waktu itu aku beli berton-ton koran yang waktu itu harganya masih Rp 4.000,- per kuintalnya. Dan aku baca satu per satu karena memang sejak kecil aku suka baca,” ujarnya.

Kemudian, terpikirkan olehnya untuk mendirikan sebuah perpustakaan di desanya. Namun, ada masalah, ia membutuhkan banyak buku dan waktu itu harganya cukup mahal untuknya.

“Kemudian aku mulai berencana mengumpulkan buku buat melengkapi koleksi di perpustakaanku. Nah dulu kan gak kayak sekarang yang bisa serba online, jadi harus dor to dor,” bebernya.

Salah satu kisah uniknya dalam mengumpulkan buku adalah saat ia membuntuti salah satu pembeli buku di Gramedia.

pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Malang/Tugu Jatim)
pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Malang/Tugu Jatim)

“Misalnya pernah aku duduk di depan Gramedia dan nunggu orang yang beli banyak buku. Logikanya kan kalau dia beli banyak buku pasti koleksi bukunya juga banyak di rumahnya, jadi aku nyobain minta donasi buku ke dia,” kenangnya sambil tersenyum.

“Jadi, aku ikuti dia di jalan sampai dia sampai ke rumahnya, lalu gak sia-sia dia mau ngasih donasi 5 buku kan lumayan,” imbuhnya.

Ia bahkan juga sering mendatangi rumah-rumah penulis asal Malang guna mendapatkan donasi buku di perpustakaannya.

“Kemudian aku juga datangi rumah-rumah penulis di Malang dan mereka mau ngasih donasi buku-buku karangan mereka,” tuturnya.

Kini, ia mengatakan untuk mendapat ratusan buku sangatlah mudah dan tidak memerlukan usaha seperti dulu lagi.

“Kalau sekarang mudah banget, tinggal SMS Pak Jokowi atau Pak Menteri Pendidikan langsung dikirim ke Perpustakaan Anak Bangsa. Kemudian aku tinggal datang aja ke Gramedia atau Toga Mas dan mereka akan langsung kasih donasi buku,” ucapnya sambil tertawa.

“Intinya kalau kita membuat gerakan dengan tulus maka akan dilihat dan bakal banyak yang mensupport,” tambahnya.

Terakhir, ia memberi bocoran bagaimana caranya mendapatkan ratusan buku secara gratis untuk membuat perpustakaan sendiri.

“Sama saya kasih tahu satu rahasia, sekarang ini di Indonesia ada lebih dari 1 juta buku yang siap dibagikan secara gratis. Tapi tentu saingannya banyak dan gimana caranya kita mendapatkan perhatian dari mereka salah satunya Perpustakaan Republik Indonesia,” ungkapnya.

“Kalau mau tau caranya, datang langsung ke Perpustakaan Anak Bangsa biar aku kasih tahu caranya,” pungkasnya.

  • Bagikan