Data Satelit NASA Tunjukkan 410 Juta Penduduk Bumi Tinggal di Daerah Terdampak Kenaikan Laut Tahun 2100

  • Bagikan
Ilustrasi orang terdampak bencana kenaikan laut. (Foto: Pexels)

Tugujatim.id – Satelit ICESat-2 milik NASA yang diluncurkan pada tahun 2018 sedang mengukur ketinggian permukaan bumi dengan sangat akurat. Menurut sebuah jurnal artikel di Nature Communications, peneliti menjelaskan bagaimana mereka menggunakan data dari ICESat-2 untuk memetakan daratan planet yang kurang dari 2 meter di atas permukaan laut. Area ini rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

Dengan menyatukan data ini dengan angka populasi, peneliti menghitung bahwa terdapat 267 juta orang tinggal di daerah berisiko. Bila diasumsikan bahwa permukaan laut akan naik 1 meter pada tahun 2100, mereka memproyeksikan bahwa 410 juta orang pada akhirnya akan tinggal di zona yang terkena dampak.

Negara-negara Asia seperti Bangladesh dan Indonesia sangat rentan, tetapi Amerika Serikat dan Eropa juga memiliki risiko.

Dan peneliti juga menambahkan bahwa perhitungan 2100 mereka, yang mengasumsikan kenaikan permukaan laut satu meter, adalah perhitungan yang konservatif.

Perkiraan ini tidak memperhitungkan ledakan pertumbuhan populasi, karena ketidakpastian yang terlibat dalam menghitung di mana orang pada akhirnya akan pindah tempat.

Menurut WIRED, Aljosja Hooijer, pakar risiko banjir di National University of Singapore and Deltares menyatakan bahwa manusia bisa mengatasi bencana kenaikan air laut ini.

“Kami sangat percaya bahwa jika dunia akan mampu menghadapi kenaikan permukaan laut dan melestarikan alam di zona pesisir. Itu aspek penting. Ketinggian harus diketahui,” ujar Aljosja Hooijer.

Hooijer menemukan bahwa 72 persen dari populasi yang akan berisiko tergenang akan tinggal di daerah tropis. Asia tropis sendiri akan menjadi 59 persen dari wilayah yang berisiko, karena wilayah ini sangat rendah.

“Ini masalah besar bagi negara maju (untuk Eropa dan Amerika Serikat, red). Tetapi jika Anda melihat peta jalan, siapa orang-orang yang paling menderita, dan mungkin yang paling cepat? Mereka adalah orang-orang miskin, yang sebagian besar tinggal di daerah tertinggal. Tidak terlalu diperhatikan, bahwa ini benar-benar hot spot. Dan kami sendiri terkejut dengan angkanya,” pungkasnya.

  • Bagikan