Dompet Amal untuk Kakek Satirun, Pria Berusia 86 Tahun yang Masih Berjualan Dawet Keliling dengan Berjalan Kaki - Tugujatim.id

Dompet Amal untuk Kakek Satirun, Pria Berusia 86 Tahun yang Masih Berjualan Dawet Keliling dengan Berjalan Kaki

  • Bagikan
Kakek Satirun yang terbaring lemah karena sakit, ditemani istrinya Nenek Tiah di rumah kontrakan sederhanya, tepatnya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)
Kakek Satirun yang terbaring lemah karena sakit, ditemani istrinya Nenek Tiah di rumah kontrakan sederhanya, tepatnya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang. (Foto: Irham Thoriq)

MALANG, Tugujatim.id – Jika hidup Anda sedang merasa berat, maka tengoklah kehidupan dari Kakek Satirun, 86; dan Nenek Tiah,79. Pada usia yang sudah cukup senja, keduanya masih dan mungkin terus berjuang melawan kerasnya kehidupan.

Selasa lalu (10/08/2021), kami berkunjung ke rumah kontrakannya yang sederhana di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang. Ketika itu, kami rencananya mengunjungi Kakek Satirun dan Nenek Tiah bersama Surya Burhanuddin, pemerhati pendidikan yang juga penulis buku “Para Pemburu Masa Depan”. Namun, karena satu dua hal, Surya gagal bergabung menemui mereka bersama kami.

Gerobak Kakek Satirun dan Nenek Tiah di rumah kontrakan sederhanya, tepatnya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)
Gerobak Kakek Satirun dan Nenek Tiah di rumah kontrakan sederhanya, tepatnya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)

Surya juga-lah yang menulis cerita soal Satirun kali pertama di media milik Tugu Media Group, yakni www.tugumalang.id dan www.tugujatim.id. Berita ini cukup viral. Bahkan, video soal keduanya di TikTok tugumalang.id, dilihat lebih dari 179.000 penonton, 20 ribu like, dan 640 komentar.

CEO Tugu Media Group Irham Thoriq bersama Surya Burhanuddin, pemerhati pendidikan yang juga penulis buku "Para Pemburu Masa Depan" saat ngobrol soal dompet amal untuk Kakek Satirun. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)
CEO Tugu Media Group Irham Thoriq bersama Surya Burhanuddin, pemerhati pendidikan yang juga penulis buku “Para Pemburu Masa Depan” saat ngobrol soal dompet amal untuk Kakek Satirun. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)

Cerita Kakek Satirun memang layak ditulis. Sebab, dia bersama istrinya saban hari berjualan dawet keliling dengan berjalan kaki dan menggunakan gerobak. Mereka berangkat dari rumah, lalu melewati Jalan Wilis, Jalan Rajek Wesi, Jalan Kawi, Jalan Ijen, dan Jalan Dieng. Pada usia senjanya, dengan tertatih-tatih, keduanya saban hari harus jualan dawet dengan berjalan kaki, kurang lebih membutuhkan waktu tiga jam, yakni mulai pukul 09.00-12.00 WIB. Keduanya melintasi kawasan elite di Kota Malang tersebut dengan penuh kegetiran.

Namun, sudah sekitar sebulan ini, Kakek Satirun dan Nenek Tiah tidak lagi bisa berjualan dawet. Lantaran, Kakek Satirun sakit dan hanya bisa berbaring di rumah sederhananya.

Kakek Satirun dan Nenek Tiah yang pantang menyerah. (Foto: Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat mendorong gerobak es dawet. (Foto: Surya Burhanuddin/Tugu Jatim)
Kakek Satirun dan Nenek Tiah yang pantang menyerah. (Foto: Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat mendorong gerobak es dawet. (Foto: Surya Burhanuddin)

”Kayaknya kecapekan, jadi sakit,” kata Kakek Satirun yang waktu itu ditemani Nenek Tiah.

Nenek Tiah mengatakan, biasanya kalau sakit gini ada yang datang ke sini untuk memberikan rezeki.

”Biasanya kalau sakit gini, ada mahasiswa dan relawan yang datang ke sini, memberi uang, biasanya Rp 200 ribu,” imbuhnya.

Terus Bekerja dan Tidak Mau Merepotkan Orang Lain

Kakek Satirun yang sudah tidak bisa lagi berjalan dengan tegap ini bercerita, dia terus bekerja karena tidak mau merepotkan orang lain, termasuk anak-anaknya. Kakek Satirun saat ini mempunyai lima anak. Ada yang tinggal di Batu; Ngawi; Sawojajar, Kota Malang; dan Surabaya. Semua anaknya itu merupakan anak dari istrinya yang dulu, yakni Musiyem. Setelah Musiyem meninggal sekitar 2010 silam, Kakek Satirun menikah dengan Nenek Tiah.

”Yang tinggal bersama saya, ya si ragil ini, namanya Arif Sugianto, kerja ojek online. Kalau pandemi begini, ya sepi,” katanya.

Kondisi rumah Kakek Satirun dan Nenek Tiah di rumah kontrakan sederhanya, tepatnya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)
Kondisi rumah Kakek Satirun dan Nenek Tiah di rumah kontrakan sederhanya, tepatnya di Gading Kasri, Nomor 14 B, RT 04, RW 06, Klojen, Kota Malang. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)

Dia bercerita, anak-anaknya hidup pas-pasan semua.

”Makanya saya gak mau minta, gak mau ngrepoti karena mereka punya anak yang peru disekolahkan. Tapi, kadang ada yang ke sini, ngasih, kalau ngasih ya saya terima, kalau gak ngasih ya saya tidak minta,” imbuhnya.

Selain itu, Kakek Satirun meski sudah senja, dia mengaku senang saja bekerja.

’’Kalau gak bekerja ngapain juga, diam ya capek semua,’’ imbuhnya.

Selanjutnya, ketika sembuh, Kakek Satirun ingin terus bekerja.

”Karena ada tanggungan bayar kontrakan ini Rp 1 juta, bulan depan harus bayar,” imbuhnya.

Tugu Media Group dan Surya Buka Dompet Amal untuk Kakek Satirun

Setelah mengunjungi Kakek Satirun, kami kembali bertemu lagi dengan Surya Burhanuddin. Kami lantas bersepakat untuk membuka dompet donasi untuk Kakek Satirun.

”Dompet donasi ini semoga di sisa umur beliau, bisa mengurangi bebannya,” imbuhnya.

Menurut Surya, Kakek Satirun adalah orang yang luar biasa. Tetap berusaha, di tengah getirnya keadaan serta di tengah usia yang senja.

Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat berjualan dawet keliling. (Foto: Surya Burhanuddin/Tugu Jatim)
Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat berjualan dawet keliling. (Foto: Surya Burhanuddin)

”Ini nilai tersendiri yang patut diteladani, karena beliau berusaha dan punya kemauan meski keadaannya sudah tidak sehat dan tak muda lagi,” imbuh pria yang juga penulis buku “Para Pemburu Masa Depan” ini.

Surya berharap nanti dari dana yang terkumpul akan digunakan untuk membayarkan rumah kontrakan.

”Syukur-syukur kita bisa membedah rumahnya dan membangunkan toko untuk beliau agar tidak lagi perlu berjualan dengan berjalan kaki dan mendorong gerobak,” imbuhnya.

Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat mendorong gerobak es dawet. (Foto: Surya Burhanuddin/Tugu Jatim)
Kakek Satirun dan Nenek Tiah saat mendorong gerobak es dawet. (Foto: Surya Burhanuddin)

Bagi para pembaca yang ingin berpartisipasi untuk Kakek Satirun dan Nenek Tiah, bisa menyumbangkan donasi melalui nomor rekening Bank Jatim: 0041122226 atas nama Tugu Media Peduli.

Agar tidak ada kerancuan dengan kegiatan sosial lain, kode untuk donasi ini adalah 02. Jadi, untuk transfer harap ada akhiran 02. Semisal menyumbang Rp 100.000, maka harap transfer Rp 100.002. Setelah transfer, diharapkan konfirmasi ke admin Tugu Media Group atas nama Neni Eka di nomor WhatsApp (+6282145665462).

Semoga donasi kita mampu mengurangi beban Kakek Satirun dan istrinya Nenek Tiah. Aamiin. (*)

 

  • Bagikan