JEMBER, Tugujatim.id – Harga tomat yang anjlok karena hasil panen terlalu melimpah kerap kali membuat petani kewalahan. Dosen program studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (UNEJ), Dr. Nurhayati, S.TP, M.Si., memberi tips olah tomat saat harga anjlok agar tetap bisa dikonsumsi dan punya nilai lebih.
Menurut Nurhayati, musim panen sering kali menjadi kabar baik sekaligus tantangan bagi para petani tomat. Saat produksi berlebih dan jalur distribusi belum optimal, harga tomat di pasaran kerap anjlok. Kondisi ini justru menjadi momentum yang bagus untuk berinovasi.
“Ketika harga tomat sedang murah karena overproduksi, kita tidak bisa hanya pasrah. Inovasi teknologi adalah kunci agar tomat tidak cepat rusak, punya nilai tambah, dan bisa dipasarkan lebih luas,” ujarnya.
Menurut Nurhayati, ada banyak cara untuk mengolah tomat menjadi produk yang lebih bernilai, bahkan bisa lebih mahal sampai untung yang besar. Inovasi ini bisa dimulai dari skala rumahan hingga industri besar.
Beberapa produk olahan bernilai tinggi yang bisa diolah dari tomat, diantaranya dengan menyulapnya menjadi berbagai olahan seperti pasta, saus, jus tomat sampai selai tomat.
1. Pasta, saus, dan pure tomat : Produk ini jauh lebih awet dan bisa menjadi bahan baku untuk industri makanan.
2. Jus tomat : Dengan menambahkan vitamin atau mineral, jus tomat bisa menjadi minuman fungsional yang menyehatkan.
3. Selai tomat : Ini bisa menjadi alternatif selai buah yang unik dan menarik.
4. Tomat kering atau sun-dried tomato : Produk ini sangat populer di kuliner internasional dan memiliki harga jual yang tinggi.
Selain itu, tomat juga bisa dimanfaatkan melalui pengolahan berbasis teknologi modern seperti bubuk tomat, freeze drying hingga fermentasi.
1. Bubuk tomat atau spray drying : Bubuk ini bisa dimanfaatkan sebagai bumbu, bahan sup instan, atau mie instan.
2. Freeze drying : Teknologi ini menjaga warna merah dan kandungan antioksidan (likopen) dalam tomat.
3. Fermentasi : Tomat bisa difermentasi menjadi anggur tomat (tomato wine), cuka tomat, atau produk probiotik.
Lebih jauh, inovasi juga bisa menyentuh ranah pangan fungsional, seperti ekstraksi likopen yang bermanfaat untuk suplemen kesehatan dan kosmetik. Bahkan, kulit dan biji tomat yang sering dianggap limbah ternyata dapat dimanfaatkan karena kaya akan antioksidan dan bisa diolah menjadi bahan dasar kosmetik atau pewarna alami.
Nurhayati sendiri telah membuktikan pentingnya inovasi melalui risetnya yang berhasil mendapatkan paten. Ia adalah salah satu peneliti yang berhasil mematenkan teknologi pengolahan berbagai komoditas, seperti lombok terong khas Tengger menjadi saus (IDS000010441), kedelai menjadi keju tahu (IDP000074819), dan pengolahan limbah pisang menjadi pektin (IDP000071851).
“Inovasi dengan formula dan cita rasa spesifik berpotensi untuk dipatenkan. Ini memberikan nilai ekonomi dan perlindungan hukum bagi produk kita,” jelasnya.
Menurut Nurhayati, diversifikasi produk memiliki banyak keuntungan. Selain mengurangi kerugian petani saat harga anjlok, inovasi ini juga membuka pasar baru dan mendorong munculnya UMKM dan industri pangan yang lebih inovatif.
“Peran universitas sangat vital sebagai jembatan alih teknologi pengolahan kepada para pelaku UMKM dan industri. Kami bisa memfasilitasi jejaring bisnis agar produk olahan tomat bisa tersalurkan dengan baik,” jelasnya.
Nurhayati menyampaikan harapannya kepada seluruh pemangku kepentingan, baik petani maupun pelaku industri. Kepada petani, ia berpesan agar mereka memiliki pola tanam yang jelas, disesuaikan dengan iklim dan musim. Petani juga diharapkan dapat menjalin koneksi yang baik dengan sesama petani untuk mencegah penumpukan hasil panen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








