News  

Fakultas Pertanian UB Dampingi Komunitas Puri Hijau Royo-royo, Ajarkan Cara Branding Produk

Imaniar Ilmi Pariasa (UB) tengah menunjukkan salah satu contoh ide pengemasan produk yang digagas oleh tim mahasiswa KKN UB.
Imaniar Ilmi Pariasa (UB) tengah menunjukkan salah satu contoh ide pengemasan produk yang digagas oleh tim mahasiswa KKN UB. (Foto: Shinta Alifia C. H.)

MALANG, Tugujatim.id – Tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) bersama dengan Laboratorium Manajemen Operasi dan Produksi Agribisnis Fakultas Pertanian UB melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendampingan cara membranding produk.

Acara tersebut digelar bersama komunitas Puri Hijau Royo-royo, Kedungkandang, Kabupaten Malang pada Selasa (16/08/2022). Tema yang diangkat yaitu “Pendampingan Inovasi New Packaging dan Strategi Pemasaran Produk Teh Bunga Telang Komunitas Puri Hijau Royo-royo (KPHR) dalam Meningkatkan Kualitas dan Daya Saing Produk Lokal.”

Kegiatan yang bertempat di Puri Cempaka Putih, Arjowinangun ini merupakan kolaborasi dari Lab MPOA (Manajemen Operasi dan Produksi Agribisnis) FP UB, KPHR, dan mahasiswa UB.

Dalam kesempatan tersebut, Imaniar Ilmi Pariasa, dosen prodi Agribisnis Universitas Brawijaya memberikan materi kepada anggota KPHR mengenai pentingnya pengemasan produk guna meningkatkan daya saing dan kualitas produk. Ia menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih dan membuat kemasan produk.

Seperti yang diketahui, pengemasan atau packaging dapat mengubah peruntukan atau penggunaan dan manfaat dari produk yang ada.

Perlu diketahui, karakteristik dari produk pertanian adalah mudah rusak, klimaterik (respon terhadap udara luar di sekeliling produk tinggi), juga umur konsumsinya pendek. Namun, produk hasil pertanian ini berperan penting dalam pemenuhan pangan.

Dosen wanita tersebut menjelaskan bahwa pengemasan bukan hanya bertujuan untuk melindungi produk dari kerusakan.

Kemasan yang baik juga merupakan gabungan seni dengan ilmu teknologi yang mendukung promosi produk, memberikan nilai tambah produk, serta daya tarik pembeli. Selain itu, pengemasan yang baik juga harus memperhatikan karakteristik produk itu sendiri.

“Jangan sampai kita menggunakan kemasan yang terlalu berbeda dan kimia karena itu bisa mengubah karakteristik dari produknya,” terangnya.

Ia juga berpesan agar logo dari produk olahan Bunga Telang hasil usaha KPHR dapat segera ditentukan dan digunakan secara pakem.

Bukan tanpa alasan, hal ini dikatakan karena KPHR telah berganti logo sebanyak tiga kali dalam perjalanannya sejak 2021. Imaniar mengatakan bahwa logo produk itu penting sehingga harus ada maknanya dan disesuaikan dengan tidak meninggalkan karakteristik produk.

Dalam kesempatan yang sama, tim mahasiswa Universitas Brawijaya juga menunjukkan sebuah contoh desain logo dan pengemasan produk untuk usaha “Bu Teri”, Bunga Telang Kering milik KPHR.

Para peserta yang kebanyakan ibu-ibu mengungkapkan rasa senang mereka begitu melihat contoh kemasan produk yang dibuat oleh para mahasiswa UB tersebut. Desain dari kemasan juga nantinya dapat disesuaikan dengan target pasar dan karakteristik produk.

“Nah, logo dan kemasan ini yang jadi tugas bersama dengan mahasiswa UB. Nanti bapak dan ibu bisa mendesain logo dan kemasan dari produk olahan ‘Bu Teri’ ini. Kemasan ini adalah salah satu cara untuk tampil beda dan menarik”, ujar dosen tersebut.

Para mahasiswa ini juga akan mengajarkan cara mempromosikan produk melalui sosial media seperti Instagram dan TikTok. Hal ini sesuai dengan tema acara yang ada, yaitu penguatan inovasi kemasan dan pelatihan pemasaran secara online.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim