MALANG, Tugujatim.id – Pelatihan literasi keuangan dan manajemen konflik menjadi sajian topik terakhir dalam rangkaian Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan 2023 yang digelar oleh Fakultas Psikologi UM, Sabtu (12/08/2023). Acara tersebut dilaksanakan secara daring dengan diikuti oleh para alumni berbagai angkatan.
Literasi keuangan dan manajemen konflik dianggap penting demi keberlanjutan karir para alumni Fakultas Psikologi UM. Sebelumnya, telah dilaksanakan pelatihan dengan topik public speaking, critical thingking, dan manajemen waktu.
Pada sesi kali ini menghadirkan dua pembicara kompeten. Pertama adalah Kepala Galeri Investasi UIN Malik Ibrahim Malang Mega Noeman Ningtyas MSc yang didapuk membawakan materi literasi keuangan. Selanjutnya ada seorang psikolog dan praktisi Fadhillah Ramadhani MPsi yang dipercaya memberi materi seputar manajemen konflik dan stres.
Pelatihan Literasi Keuangan, Alumni Psikologi Wajib Paham Cara Mengatur Keuangan
Sebagai pemateri pertama dalam pelatihan Fakultas Psikologi UM ini, Mega Noeman Ningtyas menjelaskan secara detail apa itu literasi keuangan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, dengan mengatur keuangan, seseorang masih bisa melanjutkan hidup walaupun nantinya memiliki masalah ekonomi dan penghasilan.
“Pembelajaran literasi keuangan tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang ekonomi, tapi diperlukan oleh semua orang dari berbagai latar belakang untuk membekali dirinya untuk mengelola kekayaannya,” jelas Mega.
Literasi keuangan sendiri dapat dianggap sebagai sebuah investasi karena dengan wawasan tersebut, seseorang bisa memilih strategi dan keputusan keuangan yang tepat. Hingga nantinya berdampak terhadap keputusan keuangan yang diambil.

Dalam sesi diskusi Fakultas Psikologi UM ini, Muhammad selaku alumni dan peserta bertanya apakah manajemen keuangan hanya dilakukan untuk orang yang memiliki keuangan lebih di atas kebutuhannya. Mega yang juga dosen di UIN Malang pun menjawab bahwa manajemen keuangan tidak hanya untuk yang memiliki sisa gaji atau berpendapatan lebih.
“Lantas, apa yang harus diatur kalau keuangan mepet? Justru yang mepet yang perlu diatur sedemikian rupa sehingga agar penghasilannya tidak sia-sia,” ujarnya pada peserta daring.
Dia pun menekankan pentingnya menata psikologis saat mengatur keuangan. Hal yang perlu diatur pertama kali dalam pengelolaan keuangan adalah rasa ingin konsumtif, apalagi kini masyarakat dimanjakan oleh berbagai kemudahan pembayaran dan platform belanja online serta pinjaman online.
Konstruksi Manajemen Konflik dan Stres, Solusi agar Tetap Produktif
“Stres tidak hanya bersifat destruktif, tapi ada yang konstruktif,” ujar Fadhillah Ramadhani dalam pembuka materi kedua. Dia menjelaskan jika stres memang berdampak pada produktivitas berkurang, performa kerja turun, ketidaknyamanan di lingkungan kerja, kehilangan minat dan semangat, serta penurunan kepuasan kerja. Stres dalam pekerjaan bisa terjadi karena ambiguitas kerja dan konflik pekerjaan.
Karena itu, menurut Fadhillah, manajemen konflik sangat diperlukan karena bermanfaat untuk menghasilkan perubahan atau inovasi sebagai pemecahan persoalan yang lebih baik. Dia juga menyebut jika konstruksi manajemen konflik dapat dilakukan dengan cara meminimalkan kerugian dan memaksimalkan prospek pada kedua belah pihak sehingga terjadi win-win solution.
“Ketika menghadapi situasi yang menekan, bisa dengan latihan pernapasan,” tambah Fadhillah.
Tujuannya, dia mengatakan, yakni memberi jeda sehingga muncul kesadaran penuh atau mindfulness yang berkaitan dengan respons fisik terhadap konflik.
Secara ilmiah, latihan pernapasan juga akan membantu tingkat kortisol dan menjaga reaktivitas dari system kardiovaskular.
“Ini bisa mengurangi kecenderungan untuk merespons konflik secara destruktif. Dengan kondisi kesadaran penuh, kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang lain,” terangnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Anti Gerah di Malang, Tiket Masuk Murah Bikin Healing Makin Asyik
Rikza, salah satu alumni yang turut menjadi peserta pun bertanya dalam sesi diskusi tentang bagaimana cara menghadapi konflik dengan orang yang beda generasi. Menurut Fadhillah, perbedaan generasi memang muncul perlakuan yang berbeda. Hal pertama yang perlu dilakukan ketika menghadapi konflik beda generasi adalah mengatur napas dan mengambil jeda.
“Pendekatan yang konstruktif adalah pendekatan yang sehat. Solusi tidak harus selalu mencapai win-win solution, bisa saja hanya pada tahap kompromi. Jika tidak bisa mencapai kompromi, menghindar pun termasuk solusi,” jelasnya dalam acara pelatihan literasi keuangan dan manajemen konflik untuk alumni Fakultas Psikologi UM tersebut. (adv)
Writer: Imam A. Hanifah
Editor: Dwi Lindawati








