Fenomena Baru Tanaman Porang, Jadi Incaran Petani karena Memiliki Nilai Ekonomi Tinggi

  • Bagikan
Budi daya tanaman porang di Sumenep, Jawa Timur yang mulai naik daun lantaran memiliki nilai ekonomi tinggi bagi para petani. (Foto: Dokumen) tugu jatim
Budi daya tanaman porang di Sumenep, Jawa Timur yang mulai naik daun lantaran memiliki nilai ekonomi tinggi bagi para petani. (Foto: Dokumen)

SUMENEP, Tugujatim.id –  Pada 2 April 2021 lalu, salah satu mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), Sri Karyana,mahasiswa program jurusan S1 Pendidikan Teknik Elektro menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri di Desa Kalianget Timur, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Ia mengadakan kegiatan bertajuk “Pembudidayaan Tanaman Porang” yang dibimbing langsung oleh dosen pembimbing lapangan (DPL), Andika Bagus Nur Rahma.

Pembudidayaan tanaman porang ini sendiri diikuti oleh 8 orang setempat. Di mana masyarakat desa setempat sangat tertarik dan antusias terkiat pembudidayaan tanaman ini.

Tumbuhan Porang yang memiliki nama Latin A. oncophyllus merupakan jenis dari umbi-umbian yang kini tengah naik daun di kalangan para petani. Tumbuhan ini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, mengutip dari website Indonesia.go.id, Berdasarkan data Indonesia Quarantine Full Automation System (IQFAST) atau Badan Karantina Pertanian (Barantan), mengemukakan semester pertama 2021, ekspor porang Indonesia mencapai angka 14,8 ribu ton, di mana angka ini melampaui jumlah ekspor semester pertama pada 2019 dengan jumlah 5,7 ribu ton, kenaikan ini menunjukkan aktivitas ekspor sebanyak 160 persen.

Mahasiswa KKN asal Universitas Negeri Malang (UM) saat melakukan pengembangan tanaman porang di Sumenep April lalu. (Foto: Dokumen) tugu jatim
Mahasiswa KKN asal Universitas Negeri Malang (UM), Sri Karyana (kanan) saat melakukan pengembangan tanaman porang di Sumenep April lalu. (Foto: Dokumen)

Dikarenakan kebutuhan tanaman porang ini mengalami kenaikan yang sangat pesat maka hal ini dimanfaatkan para petani untuk membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan. Untuk memulai hal ini, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar menghasilkan porang berkualitas tinggi.

Beberapa yang harus di perhatikan seperti: Pengolahan tanah memiliki peran yang penting dalam pertumbuhan porang, layaknya umbi-umbian pada umumnya porang tentu memerlukan tanah yang subur dan gembur. Pemilihan bibit, untuk bibit yang akan bertumbuh menjadi porang  berkualitas memiliki berat sekitas 200-500 gram. Jarak tanam, pada umumnya jarak tana mini akan disesuaikan dengan usia porang yang akan di panen. jika umur 8 bulan pertama, maka jarak tanam harus 30 cm x 30 cm, lalu jika rencana panen tahun ke dua dianjurkan jarak tanam  45 cm x 45 cm. Apabila  periode panen tahun ke tiga maka perlu jarak tanam yang lebih lebar 60 cm x 60 cm.

Kedalaman tanah, semakin dalam ditanam umbi porang akan sulit peranakan, gunakan kedalaman tanah  sekitar 10 cm dari permukaan tanah ukuran yang cukup ideal untuk penanaman porang. Namun kedalaman juga dipengaruhi  oleh macam dan ukuran bibit yang digunakan. Jika menggunakan umbi katak (bulbil), cukup sekitar 5 cm. Lalu jika menggunakan ubi kecil berukuran 200 gram maka ditanam  kedalaman 10 cm, dan 15 cm ditanam pada kedalaman untuk bibit lebih besar.

Mahasiswa KKN asal Universitas Negeri Malang (UM) saat melakukan pengembangan tanaman porang di Sumenep April lalu. (Foto: Dokumen)
Mahasiswa KKN asal Universitas Negeri Malang (UM) saat melakukan pengembangan tanaman porang di Sumenep April lalu. (Foto: Dokumen)

Selanjutnya yakni penyiangan gulma terutama dilakukan pada awal pertumbuhan tanaman sebelum kanopi menutup. Umumnya,hal ini dilakukan secara manual pada umur 30, 60, dan 90 hari setelah tanam. Dengan tidak melewatkan proses ini maka hasil umbi meningkat 34-285 persen. Disarankan penyiangan dilakukan dua kali selama pertumbuhan tanaman suweg, yaitu pada pada umur dua dan empat bulan setelah tanam.

Selain itu, pengelolaan air juga perlu dilakukan  untuk menghasilkan ubi yang optimum diperlukan tanah dengan kelembaban yang cukup, terutama pada awal pertumbuhan tanaman. Namun tanaman porang umumnya diusahakan di lahan kering. Kandungan air kurang dari 40 persen kapasitas air lapang, maka akar akan lebih cepat kering dibandingkan pada kondisi normal.

Alasan pertama mengapa tanaman porang dijual dengan harga mahal adalah karena di dalam umbi porang, terkandung karbohidrat glukomanan. Glukomanan adalah nutrisi yang termasuk karbohidrat rantai panjang. Artinya, saat dimakan karbohidrat tersebut tidak mudah dicerna dengan baik.

“Karena sifatnya tidak dicerna dengan baik, maka kalau kita itu ingin diet, itu berarti banyak-banyak makan Porang,” ujar petani porang.

Senyawa glukomanan ini dinilai dapat menjadi sumber bahan pangan yang sehat. Sebab, bisa menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, mencegah kanker, dan mengatasi sembelit. Tidak hanya itu, mengutip web Balai Penelitian tanaman aneka kacang dan umbi, kandungan senyawa pada tanaman porang kaya akan karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, kristal, kalsium oksalat, alkaloid, dan serat pangan.

“Begitu banyak manfaat dari tanaman porang ini hal ini tentunya dapat menjadi suatu peluang yang tidak bisa disia-siakan oleh para petani khususnya anak muda untuk meneliti lebih dalam tentang kandungan porang serta dapat menjadi lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar” ujar Pak Suparman selaku ketua RT setempat. (*)

  • Bagikan