Ganti ke TV Digital, 200 Juta Pengguna Internet Semakin Asyik

Ganti ke TV Digital, 200 Juta Pengguna Internet Semakin Asyik

  • Bagikan
Maskot Modi sebagai penanda peralihan dari TV analog ke digital.
Maskot Modi sebagai penanda peralihan dari TV analog ke digital. (Foto: Siarandigital.kominfo.go.id)

Tugujatim.id –  Migrasi ke TV digital tidak hanya menyediakan kualitas siaran televisi yang bagus, tetapi juga memberikan manfaat bagi para pengguna internet di Indonesia yang saat ini jumlahnya mencapai 200 juta pengguna.

Demikian pemaparan Hardly Stefano Fenelon Pariela, komisioner KPI Pusat, dalam acara forum diskusi publik bertajuk Partisipasi Masyarakat Menyongsong TV Digital sebagaimana ditayangkan kanal Siaran TV Digital Indonesia.

Menurut Hardly, penghentian siaran analog atau Analog Switch Off (ASO) bermaksud mengefisiensi frekuensi yang selama ini digunakan secara boros oleh beberapa stasiun televisi Indonesia. Efisiensi ini nantinya akan dialihkan pada maksimalisasi penggunaan internet.

“Zaman dulu yang menggunakan frekuensi hanya radio dan televisi. Tetapi saat ini ada smart phone. Setiap kita saat ini menggunakan frekuensi. Karena gadget kita menggunakan frekuensi,” katanya.

Semakin banyaknya para pengguna frekuensi ini, lanjut alumni Universitas 17 Agustus Surabaya itu, membuat semakin hari penggunaan frekuensi sering ada masalah. Internet jadi sering buffering.

“Ketika menggunakan internet tiba-tiba jadi lemot. Ketika menggunakan video konferensi atau virtual meeting tiba-tiba gambar kita tidak bergerak, atau suaranya tidak terdengar. Itu karena frekuensinya semakin banyak digunakan,” kata dia.

Pria asal Maluku itu memaparkan data, bahwa hari ini masyarakat pengguna internet yang tercatat sebanyak 200 juta pengguna. Setiap orang ini menggunakan frekuensi, maka tentu saja ada kepadatan.

Analoginya, kata dia, ketika berada di jalan lalu jalannya macet atau terasa sempit karena volume kendaraan yang semakin banyak, maka pemerintah perlu merelokasi rumah-rumah warga di sekitar jalan itu agar bisa dilakukan pelebaran jalan.

“Dalam konteks frekuensi itu juga sama,” imbuhnya.

Atau kalau digambarkan satu frekuensi yang besarnya 8 MHz yang dipakai oleh televisi sebagai petak rumah. Ada petak-petak rumah yang itu perlu direalokasi yang katakanlah dulunya beli untuk 12 siaran televisi membutuhkan 12 petak rumah atau 12 petak tanah. Maka dalam siaran TV digital 12 siaran televisi ini hanya butuh satu petak tanah.

“Kemudian tanah itu dibangun seperti apartemen yang bisa digunakan secara bersama-sama oleh televisi. Nah, sisanya akan menjadi kosong,” kata dia.

Lahan kosong itulah yang disebut digital deviden yang akan digunakan untuk internet berkecepatan tinggi. Agar kemacetan penggunaan frekuensi ini bisa terurai maka diperlebarlah infrastrukturnya dari digital deviden ini.

“Itu pentingnya TV digital. Karena selama ini ada yang merasa seolah-seolah pemerintah kurang kerjaan,” tuturnya.

Kualitas TV Digital

Selain itu, lanjut Hardly, digitalisasi ini adalah kesepakatan internasional sejak tahun 2006 dan targetnya sebenarnya 2015 seluruh dunia sudah digital.

“Jadi kalau ada yang bertanya mengapa sekarang pemerintah tergopoh-gopoh mengejar digitalisasi penyiaran? Jawabannya bukan terburu-buru, bahkan terlambat karena harusnya 2015, kita baru buat deadline tahun 2022,” kata dia.

Lalu mengapa deadline ini bisa telat? Menurutnya, karena ada permasalahan salah satunya adalah landasan hukum sebelumnya belum memberikan legitimasi yang cukup. Makanya saat ini digitalisasi diatur di dalam UU Cipta Kerja.

Apa manfaat siaran digital untuk masyarakat? Hardly menjelaskan paling tidak ada 3 manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pertama, manfaat teknis. Dengan TV digital masyarakat akan mendapat gambar yang jauh lebih bersih. Karena modulasi secara digital memiliki interferensi atau gangguannya lebih kecil atau stabil.

“Gambarnya jadi bersih, tidak ada lagi gambar yang berbintik-bintik,” katanya.

Kedua, suara televisinya jauh lebih jernih. Ketiga, teknologinya canggih. Kecanggihan ini, bisa dilihat misalnya di STB ada program guide.

“Kalau hari ini ingin tahu acara beberapa televisi dari pagi sampai malam maka cukup diklik di salah satu TV maka akan keluar jadwalnya. Ini tidak ada di TV analog,” kata dia.

Kemudian pengembangannya ke depan bisa dilakukan perekaman video. Misalnya, salah satu acara televisi saat ini bisa ditonton di dua jam yang akan datang dengan cara direkam.

Kemudian manfaat secara konten, masyakat akan semakin banyak menikmati saluran televisi. Diperkirakan saluran televisi akan meningkat dua kali lipat dari yang ada sekarang.

“Jadi kalau sekarang televisi yang induk jaringannya diawasi oleh KPI ada sekitar 20, mungkin ke depan bisa sampai 40,” kata dia.

Hal ini karena satu frekuensi bisa dipakai bersama-sama. Maka yang dulunya mau buat televisi tetapi frekuensi terbatas ke depan sudah bisa membuat. Ini akan memunculkan keberagaman kepemilikan.

“Kalau sekarang televisi hanya dimiliki oleh segelintir orang, maka ke depan dengan adanya TV digital dimungkinkan diversity ouwnership artinya siapapun yang memiliki idealisme membangun siaran yang berkualitas bisa membuat televisi,” kata dia.

“Beragamnya televisi ini akan membuat beragamnya konten, karena masing-masing televisi akan menghadirkan kekhasan televisinya masing-masing. Dan, beragamnya konten ini diharapkan lahirnya konten-konten yang berkualitas,” pungkasnya.

#ASO#analogswitchoff #TVdigital #siarandigitalindonesia #ASO2022


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan