Hadi Sutejo, Kakek asal Malang Konsisten Lestarikan Kuliner Manisan Buah Warisan Nenek Moyang hingga 73 Tahun - Tugujatim.id

Hadi Sutejo, Kakek asal Malang Konsisten Lestarikan Kuliner Manisan Buah Warisan Nenek Moyang hingga 73 Tahun

  • Bagikan
Kuliner manisan buah. (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang)
Hadi Sutejo menjajakan kuliner manisan buah warisan nenek moyangnya di Jalan Besar Dempo, Kota Malang, Sabtu (14/05/2022). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang)

MALANG, Tugujatim.id – Kuliner manisan buah! “Hmm,,, membayangkannya saja sudah bikin mulut ngiler dengan kesegarannya, apalagi jika menikmatinya secara langsung. Pasti bikin ketagihan!” Ya, kuliner yang satu ini bisa Anda jumpai di Kota Malang, salah satunya seperti yang dijajakan oleh Hadi Sutejo. Secara konsisten, kakek berusia 89 tahun ini terus melestarikan peninggalan resep kuliner legendaris dari nenek moyangnya sejak tahun 1949 atau selama 73 tahun lho!

Kakek kelahiran Pasuruan ini dulu mulai menjual kuliner manisan buah di Surabaya sejak 1949. Dia mendapatkan resep rahasia itu langsung dari orang tuanya yang juga meneruskan peninggalan nenek moyangnya.

“Saya mulai jualan manisan di Kota Malang sejak 1976. Ini asli buatan tangan saya sendiri. Tentu resepnya turun temurun dari peninggalan ayah dan nenek moyang saya,” kata Hadi pada Sabtu (14/05/2022).

Dia mengatakan, setelah berjualan di Kota Malang, biasanya menetap di Jalan Besar Dempo, setiap hari mulai sekitar pukul 11.00-16.30. Khusus Minggu, dia akan berjualan mulai pukul 09.00.

“Kuliner manisan buah yang saya jual, tapi ada juga manisan sayur. Mulai manisan buah mangga, salak, kedondong, hingga manisan sayur sawi. Ada manisan basah dan ada manisan kering juga,” ujarnya.

Hadi menjual manisan miliknya di gerobak dorong berwarna kuning, bukan di toko maupun kedai. Meski begitu, tampilan produk manisannya tampak rapi dan menggiurkan bagi Anda yang melintasi gerobak miliknya.

Hadi menyimpan manisan buah dan sayur itu dalam toples kaca berukuran besar. Bahkan, toplesnya ditata dengan rapi di atas gerobak. Warna segar dari manisan itu seolah-olah memanggil pengguna jalan yang melintas untuk menghampiri, membeli, dan menikmatinya.

“Manisan ini bahannya alami semua, gak pakai pengawet sama sekali. Jadi bahannya buah, gula pasir untuk manisan basah, dan gula merah untuk manisan kering,” jelasnya.

Kuliner manisan buah. (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang)
Hadi Sutejo saat melayani pembeli kuliner manisan buah buatannya pada Sabtu (14/05/2022). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang)

Dia mengatakan, proses produksi manisan ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa menciptakan cita rasa murni seperti yang dibuat nenek moyangnya. Dia melanjutkan, proses membuat manisan itu bisa memakan waktu 7-15 hari. Karena itu, dia mengaku selalu memproduksi manisan setiap hari agar bisa memiliki persediaan untuk dijual hari ini dan seterusnya.

“Kalau manisan kering prosesnya agak lama, sampai 10-15 hari. Kalau manisan basah hanya seminggu. Saya tiap hari buat, kan prosesnya lama jadi buat stok juga,” ungkapnya.

Dia juga mengaku mulai kesulitan mencari buah-buahan dengan kualitas baik di Kota Malang. Sebab, dia harus memesan buah mangga dari luar kota agar bisa mendapatkan kualitas terbaik. Bahkan buah cerme yang menjadi salah satu andalan manisannya kini telah tiada karena sudah langka ditemui di Kota Malang dan daerah lain.

Sementara agar kuliner manisan buah dan sayuran warisan nenek moyangnya ini tidak punah di tangannya, Hadi juga telah menurunkan resep manisannya ke anak-anaknya. Dari ketujuh anaknya, empat orang di antaranya kini juga berjualan manisan di Kota Malang.

“Memang dari orang tua saya dulu berpesan agar manisan buatan kami ini tetap ada dan tidak punah, atau tetap bisa lestari. Resep-resepnya juga kami jaga turun temurun. Mudah-mudahan manisan ini akan tetap ada hingga nanti. Saya juga akan berjualan sampai semampu saya,” ujarnya.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan