MADINAH, SAUDI ARABIA,Tugujatim.id – Berikut catatan umrah seri ke-8 oleh Irham Thoriq, Jurnalis dan CEO Tugu Media Group, yang saat sedang berkunjung di Masjid Nabawi, Madinah. Program ini berkat kerja sama Chatour Travel dan Tugu Media Group. Lebih detail soal Chatour Travel bisa kunjungi website chatourtravel.id
Hari pertama di Masjid Nabawi, Rabu (20/8/2025) tentu saja jalani dengan penuh semangat. Madinah, selalu membuat rindu. Suasananya tenang. Banyak orang, tapi tidak krowded. Banyak cerita, juga banyak cinta di Madinah.
Nabi Muhammad SAW adalah magnet utama di Madinah. Sebelum shalat subuh, saya lalui dengan mengucapkan salam ke beliau melalui pintu Babus Salam. Di pintu ini, jama’ah laki-laki bisa mengunjungi Makam Nabi Muhammad sepuasnya karena pintu ini buka 24 jam, dan hanya tutup saat waktu shalat.
Setelah usai shalat subuh, saya lalui dengan i’tikaf sambil membaca Alquran. Setelah membaca sekitar satu juz, saya kembali mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW melalui pintu babus salam.

Setelah itu, saya mencoba membuat konten video. Karena catatan umrah ini konsepnya multi platform yakni outputnya teks dan audiovisual, saya mencoba membuat video di depan kubah hijau. Biasanya tempat ini dibuat foto-foto dan berdoa oleh para jama’ah.
Membuat video ini juga dalam rangka service kepada sponsor program ini yakni Chatour Travel. Tentu saja, agar Chatour Travel yang merupakan salah satu travel terbesar di Jawa Timur, berharap tidak rugi membawa saya serta menggartiskan biaya umrah kepada saya.
BACA JUGA: Baru Nabung Rp200 Ribu, Kader NU asal Surabaya Bisa Umrah berkat Chatour Travel (6)
Saya mencoba membuat video layaknya keluarga Gen Halilintar yang juga pernah syuting di depan kubah Hijau. Saya bicara di depan kamera dengan mikrofon dan bantuan tongsis milik istri yang saya bawa..hehe..
Saya juga sempat dilihat oleh beberapa jama’ah lain. Mungkin, mereka bergumam: kok ada presenter televisi di sini.
Setelah dua tema sudah saya bahas, nahas mulai terjadi. Saya diminta oleh petugas menghadap temannya. Awalnya saya tenang-tenang saja. Saya sekitar 10 menitan menghadap petugas tadi.

Petugas tadi yang namanya di dada bernama Ahmed tersebut, tampak menelepon seseorang.”Tunggu lima menit,” katanya dalam berbahasa arab.
Dia lalu meminta paspor saya. Tapi, saya tidak membawanya karena sudah dikumpulkan lagi ke Tour Leader. Lalu, saya tunjukan foto paspor saya dan tiket pesawat, yang sebelumnya sempat saya foto.
Setelah itu, petugas tadi meminta saya ikut ke sebuah gedung. Berjarak sekitar 200 meter. Tampaknya, ini adalah gedung keamanan karena berlalu lalang petugas keamanan.
Saya diminta duduk. Lalu, sesampainya di gedung inilah handphone saya diambil. Lalu, saya ditanyain berapa pengikut media sosial saya. Lalu, saya tunjukan jumlah media sosial tugu media yakni @tugumalangid dan @tugujatim baik di tik tok dan instagram.”Mashur juga kamu,” kata salah satu petugas.
BACA JUGA: Deretan Kasus Biro Umrah Tipu-Tipu di Jawa Timur: Masyarakat Harus Waspada! (4)
Selanjutnya, karena sudah berjalan lama handphone saya disita, yakni sekitar 40 menit, saya mulai khawatir. Bahkan, beberapa kali saya berdiri meminta handphone saya sambil mengucap saya sedang berdakwah agar semakin banyak orang yang ingin ke Masjid Nabawi dengan cara membuat video tersebut.
“Ke Masjid Nabawi itu berdoa dan berdzkir kepada Allah, jangan membuat video apalagi pakai microphone,” kata salah seorang petugas. Sebenarnya saya ingin menjawab bahwa selain ibadah, saya juga bertugas membuat catatan dan video untuk keperluan kerja sama dengan travel, tapi saya tidak bisa menyampaikannya karena terkendala bahasa arab saya yang apa adanya.

Setelah itu, seorang petugas lantas meminta saya membuka pasword di handphone saya lalu meminta menghapus video yang saya buat.”Kalau ini foto saja tidak apa-apa,” katanya sambil melihat saya menghapus video. Dari dua video yang saya buat, tampaknya hanya satu yang terhapus, sedangkan satunya lagi gagal terdeteksi dan tidak dihapus.
Setelah sekitar satu jam, dan membuat saya deg-degan. Saya diajak menghadap syeikh, seorang pria berjanggot yang ruangannya dekat dengan area Raudhah di Masjid Nabawi.
BACA JUGA: Chatour Travel Tebar Baliho se-Jatim, Kini Mimpi ke Tanah Suci Tak Lagi Sulit!
Di ruangan itu ada tiga syeikh lalu saya salami satu persatu. Lalu, salah seorang diantara mereka, menandatangani surat. Setelah itu saya boleh pergi dan membawa handphone saya.
Lega rasanya. Baru setelah bertemu dengan tour leader (TL) kami, saya tahu bahwa di Masjid Nabawi, mungkin juga di Makkah dilarang membuat konten dengan kamera profesional, juga dengan mikrofon yang mencolok.
Ini pelajaran berharga, mohon maaf Bapak Petugas Keamanan Masjid Nabawi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Irham Thoriq
Editor: Darmadi Sasongko








