MOJOKERTO, Tugujatim.id – Tanggal 2 Mei umum diketahui sebagai Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Dalam momen ini disajikan obrolan santai bersama salah satu akademisi sekaligus Wakil Rektor bidang Manajemen Informasi, Perencanaan dan Pengembangan Unim Mojokerto Dr Sakban Rosidi.
Bagaimana Kita Memperingati Hardiknas?
Ada tiga pilihan, yaitu: Selebrasi, Seremoni dan Refleksi. Baik selebrasi maupun seremoni, mustahil dilakukan secara solitair, secara sendiri-sendiri. Jadi, bila masih ada kepedulian terhadap pendidikan nasional, maka cara senantiasa tersedia adalah memperingati Hardiknas dengan refleksi dan introspeksi.
Jadi begitulah, dalam kesendirian, para pedagog niscaya mawas diri dan merenung. Yang apabila hasil refleksinya berimplikasi terhadap aksinya, maka terjadilah praksis, sebagaimana Marx dan Freire ungkapkan, yakni: daur berkesinambungan antara aksi dan refleksi.
Baik. Lantas Bagaimana Hasil Refleksi Pak Sakban terhadap Kondisi Pendidikan Kita Sekarang?
Sepertinya kita lupa bahwa dalam segala usaha manusia, senantiasa menghadapi paradoks, tempat segala nemesis mengintai untuk membalikkan hasil usaha itu, hingga kita sampai pada kesimpulan yang sama dengan refleksi para pemikir terdahulu, seperti Ivan Illich lewat Celebration of Awareness, Erick Fromm lewat The Nature of Man, John Naisbit lewat Global Paradox, atau yang lebih berbasis riset Arthur Mosher lewat Experiences in Farm Mechanizaton.
Kejutannya, semua pemikir itu menggarisbawahi pokok pikiran Marx dalam Economic and Philosophical Manuscripts, yang terbit medio 1800an, tepatnya 1844.
Bisa Lebih Spesifik?
Tentu saja bisa. Kebetulan saya hafal benar pernyataan Marx yang merupakan antitesis terhadap pemikiran mazhab Ricardo ini. Dia katakan, ‘They want production to be limited to ‘useful things,’ but they forget that the production of too many useful things results in too many useless people. Mereka ingin produksi dibatasi pada ‘barang-barang yang bermanfaat’, tetapi mereka lupa bahwa produksi terlalu banyak ‘barang-barang yang bermanfaat’, akan menghasilkan terlalu banyak orang tak berguna.’
Begitulah, mesin-mesin pertanian dan pengolahan hasil pertanian, meminggirkan begitu banyak buruh pertanian. Automated Teller Machine, yang terjemahan Indonesia-nya tidak memunculkan kata mesin, menyingkirkan begitu banyak Mbak-mbak Teller. Mesin pembayar toll, mesin pembayar parkir, aplikasi ticket-online, aplikasi toko online, mesin sigaret kretik (SKM), sampai dengan nantinya akan semakin banyak self-driving car, yang berpotensi menggantikan sebagian pengemudi, dan bahkan pengusaha angkutan.
Relevansinya dengan Dunia Pendidikan?
Lembaga persekolahan modern bisa menjadi ancaman besar bagi belajar dan pembelajaran. Mereka yang belajar mandiri, didiskriminasi dan dipandang sebelah mata. Aktivitas belajar berubah menjadi sekadar memenuhi penugasan instruksional dan institusional. Berbagai macam test dan angka dikumpulkan sebagai dasar pemeringkatan, hingga cukup layaklah kita ini disebut mengidap penyakit gila tes (testomania) dan gila angka (quantofrenia). Hasrat ingin tahu dan sifat dasar menyelidik manusia, tidak lagi menjadi motif belajar dan meneliti.
Sebangun dengan kecenderungan sekolah sebagai agama baru, juga muncul istilah medical nemesis. Kalau sekolah telah menjadi acaman hakikat belajar, maka lembaga medis telah menjadi ancaman besar bagi kesehatan yang merampas kekuatan individu untuk menyehatkan dan menyembuhkan diri sendiri.
Jadi, tidak hanya dalam kedokteran, kita mengenal iatrogenesis, yakni kondisi dimana intervensi pendidikan yang menjadi sumber keogahan belajar, seperti tindakan medis dan intervensi obat yang berefek samping sebagai sumber penyakit baru.
Ada Contoh Lain dalam Dunia Pendidikan?
Banyak. Tetapi yang sangat patologis adalah tergerusnya rasa tanggungjawab baik para siswa maupun orang tua siswa dalam pendidikan. Politik pendidikan sosialistis dalam bentuk wajib belajar, naik kelas dan lulus otomatis, sekolah gratis, seragam gratis, dan belakangan makan bergizi gratis, adalah iatrogenesis bagi tumbuh-kembangnya keogahan para siswa menempa diri, hingga menjadikan mereka sebagai anak-anak yang lembik, lebai, kolokan, mudah patah tanpa ketangguhan diri.
Memang terkesan semakin mudah dan ringan bagi orang tua untuk menyekolahkan anak, tetapi ini juga menjadikan keluarga-keluarga kita mengalami ketergantungan yang tentu saja menjadikan beban negara ke depan semakin berat. Jadi ancaman nyata kita ke depan adalah rapuhnya ketangguhan baik personal, keluarga, sosial dan sangat mungkin nasional.
Politik, praktik dan outcome pendidikan kita selama ini tampak tak sejalan dengan Trisakti Bung Karno: Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam bidang ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan.
Jalan Keluarnya?
Jujur agak gelap dan pasti tidak populer! Dan pastinya, ini akan dihindari oleh para gladiator politik yang hasrat kemenangannya sangat besar. Bagaimana tidak? Para siswa harus dibiasakan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri, sistem evaluasi sebagai social screening harus dirancang agar siswa memiliki ketangguhan personal dengan membiasakan diri kegagalan, kebangkitan dan perjuangan terus-menerus.
Para orang tua harus mengambil kembali tanggung jawab dalam pengasuhan dan pembiayaan pendidikan. Pun semua orang harus bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kebugaran jasmani mereka. Jadi memang agak pesimis gambarannya.
Alternatif Lain?
Memberi ruang kepada model dan jalur-jalur alternatif, tetapi dengan tetap memastikan sejumlah kecakapan dasar bagi siapa pun untuk belajar sepanjang hayat, antara lain kecakapan abstraksi, literasi, numerasi, imajinasi, dan kreasi.
Model home-schooling dan jalur belajar nonformal yang tidak sekadar bersifat sumplementer dan komplementer bagi persekolahan, bisa menjadi inspirasi dan embrio solusi ketika persekolahan yang masif dan terstruktur benar-benar gagal dalam membantu anak-anak manusia tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa, dengan mengasah daya-budi demi kehidupan yang baik (good life), dan budi-daya penghidupan yang baik (good living).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati







