MOJOKERTO, Tugujatim.id – Triple planetary crisis yakni krisis perubahan iklim, krisis kerusakan alam dan kehilangan biodiversitas, serta krisis polusi dan limbah semakin kentara. Maka dari itu, pemulihan lahan, pengendalian desertifikasi, dan ketahanan terhadap kekeringan menjadi penting.
“Pemulihan lingkungan merupakan kunci dalam membalikkan arus degradasi lahan sekaligus meningkatkan mata pencaharian, mengurangi kemiskinan, dan membangun ketahanan terhadap cuaca ekstrem. Pemulihan juga meningkatkan penyimpanan karbon dan memperlambat proses ataupun dampak akibat perubahan iklim,” ujar Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati dalam keterangan resmi, Jumat (07/06/2024).
Hal tersebut menjadi sambutan Bupati Ikfina dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 pada Rabu (05/06/2024). Bupati Ikfina menambahkan, momen peringatan tersebut penting untuk terus menumbuhkan sekaligus meningkatkan kesadaran serta kepedulian secara konsisten dalam upaya memperbaiki lingkungan secara keberlanjutan.
Bupati Ikfina melanjutkan, pemulihan degradasi lahan menjadi langkah penting. Pasalnya, lahan menjadi ruang hidup manusia untuk persediaan makanan, pakaian, termasuk tempat perlindungan. Tidak hanya itu, ketersediaan lahan turut mendukung laju perekonomian, kehidupan, dan mata pencaharian manusia. Karena itu, ambisi dan investasi perlu ditingkatkan untuk pemulihan lingkungan sekaligus memberikan momen terobosan besar bagi perbaikan lahan.
“Pemulihan juga berurusan langsung dengan upaya penyelesaian krisis iklim. Untuk penyelesaian krisis iklim, inovasi dan prinsip keadilan memegang peran penting. Melalui investasi untuk pemulihan lahan dan ketahanan terhadap kekeringan, tidak hanya cukup dengan mengatasi masalah degradasi lingkungan saja, tetapi bagaimana memberikan kontribusi dalam mitigasi perubahan iklim,” sambungnya.
Selain itu, upaya restorasi lahan juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan keberlanjutan sosial, kesejahteraan masyarakat.
“Namun, pendekatan tersebut harus berdasarkan prinsip keadilan, kepastian bahwa manfaatnya dirasakan oleh semua pihak, termasuk komunitas lokal dan masyarakat adat. Di sisi yang lain, inovasi kebijakan dan teknologi yang inklusif akan mampu menciptakan solusi berkelanjutan atas krisis iklim, sambil memastikan kesejahteraan bagi seluruh pihak yang terlibat,” ujarnya.
Indonesia melalui Enhanced Nationally Determined Contributions (ENDC) meningkatkan ambisi komitmen pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Semula, target penurunan emisi GRK Indonesia sendiri adalah 29%, menjadi 31,89% pada ENDC, sementara target kerja sama internasional sebesar 41% naik menjadi 43,20% pada ENDC.
“Peningkatan target tersebut diiringi pertimbangan mendalam dari kebijakan sektoral terkait, seperti dekarbonisasi, JETP, CCS, percepatan penggunaan kendaraan listrik, kebijakan B40, peningkatan aksi sektor limbah seperti pemanfaatan sludge ipal, serta peningkatan target pada sektor pertanian dan industri,” beber Bupati Ikfina.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








