Hindari Gelombang Tinggi, Perahu Nelayan dari 3 Desa di Tuban “Diungsikan”

  • Bagikan
Nelayan di Tuban menyandarkan perahunya di tempat lain agar tidak karam lagi karena cuaca buruk. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)
Nelayan di Tuban menyandarkan perahunya di tempat lain agar tidak karam lagi karena cuaca buruk. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)

TUBAN, Tugujatim.id – Cuaca buruk di wilayah perairan laut Jawa bagian utara belum juga reda. Bahkan, nelayan di Kecamatan Tambakboyo memindahkan perahunya di balik Terminal Kambang Puti, Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, hingga hampir satu bulan.

Para nelayan di Tuban melakukannya karena khawatir beberapa minggu terakhir perahu mereka dihantam gelombang air laut dan menenggelamkan perahunya lagi.

Salah satu yang mengalami kejadian itu adalah Naslam, nelayan asal Desa Jetis, Kecamatan Tambakboyo, yang hampir dua bulan perahunya bersandar di sebelah timur Terminal Kambang Puti. Jika ingin berangkat melaut, dia berangkat dari tempat tinggalnya dengan naik angkutan umum untuk sampai di tempat tujuan. Usai melaut, hal yang sama dilakukan untuk pulang ke rumah.

“Kalau mau berangkat, ya pulang-pergi (PP) naik angkutan, Mas,” kata Naslam usai menjual hasil tangkapannya ke tengkulak ikan pada Rabu (03/02/2021).

Naslam menambahkan, ancaman gelombang dan angin kencang juga dirasakan saat melaut. Ombak air laut hampir 4-5 meter saat menurunkan dan menaikkan jala ikan. Hal itu dia lakukan demi memberikan nafkah kepada keluarga.

“Mau gimana lagi, Mas. Kalau tidak melaut, ya tidak dapat uang. Pendapatan hari ini saja hanya cukup untuk balik modal beli solar dan bekal,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, H. Waras, tengkulak ikan asal Desa Socorejo, mengatakan, pihaknya bersama pekerjanya sudah hampir dua bulan lebih buka stan di area sekitar tambat laboh perahu (tempat nelayan dari Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, untuk menyandarkan perahunya). Kalau biasanya dia datang ke Tambakboyo untuk menampung hasil tangkapan. Kini mau tidak mau mengikuti mereka bersandar untuk mendapatkan ikan.

“Saya mengambil ikan yang sekiranya bukan kebutuhan di pasar. Dengan harga per kilogram Rp 1.100 ikan campuran. Biasanya untuk pakan ternak atau bikin tepung, diolah di pabrik,” katanya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Tugu Jatim, perahu nelayan yang diungsikan di sini berasal dari Desa Glondong, Karangdowo, dan Tambakboyo. (Mochammad Abdurrochim/ln)

  • Bagikan