Tugujatim.id – Nama Trans7 tengah menjadi sorotan publik setelah muncul sejumlah kontroversi tayangannya di media sosial. Di balik ramainya perbincangan tersebut, stasiun televisi ini memiliki sejarah panjang sejak berdiri di awal 2000-an hingga berada di bawah kendali konglomerat besar Indonesia, CT Corp.
Awal Berdirinya Trans7
Trans7 awalnya dikenal dengan nama TV7. Cikal bakalnya dimulai pada 25 Oktober 1999, ketika Duta Visual Nusantara Televisi (DVN TV) berdiri dengan pemilik awal H. Sukoyo, seorang pengusaha tambak asal Jawa Timur.
Tidak lama kemudian, Sukoyo menjual 80 persen sahamnya kepada Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Stasiun ini kemudian resmi mengudara pada 25 November 2001 pukul 17.00 WIB dengan fokus menayangkan program berita dan hiburan edukatif.

Secara hukum, TV7 terdaftar sebagai PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Nomor 8687 Tahun 2001.
Transformasi besar terjadi pada 4 Agustus 2006, ketika Para Group (kini CT Corp) menjalin kerja sama strategis dengan Kompas Gramedia dan mengambil alih sebagian besar saham TV7.
Empat bulan kemudian, tepat pada 15 Desember 2006, TV7 resmi berganti nama menjadi Trans7 dan melakukan peluncuran ulang di bawah bendera Trans Media.
Trans7 di Bawah Kendali CT Corp
Kini Trans7 berada di bawah kendali Trans Media, bagian dari CT Corp yang dimiliki oleh Chairul Tanjung. CT Corp merupakan salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia dengan tiga pilar utama bisnis, yaitu Trans Media (media dan hiburan), Trans Retail (Transmart, Carrefour, Metro), dan CT Finance (Bank Mega, Allo Bank, Mega Insurance).
Di bawah kepemimpinan Chairul Tanjung, Trans Media tumbuh menjadi jaringan media nasional yang kuat dan tepercaya. Trans7 kini dikenal dengan tayangan-tayangan informatif, edukatif, dan menghibur untuk seluruh kalangan masyarakat.
Berdasarkan data Nielsen 2022, gabungan Trans7 dan Trans TV menguasai 13,1 persen pangsa pemirsa televisi nasional, memperkuat posisi CT Corp dalam industri media Indonesia.
Sebagai bagian dari Grup Transmedia, Trans7 kini beroperasi secara digital di 32 provinsi dengan 60 wilayah layanan siaran dan 74 stasiun transmisi aktif.
Mengusung positioning “Smart, Entertaining & Family”, Trans7 berkomitmen menjadi sahabat keluarga Indonesia melalui program-program inspiratif, informatif, dan edukatif. Berkantor pusat di Kawasan Terpadu CT Corp, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Trans7 dilengkapi empat studio terintegrasi dan teknologi siaran berformat High Definition (HD).
Profil Chairul Tanjung, si Anak Singkong di Balik Trans7
Sosok Chairul Tanjung dikenal luas sebagai pengusaha sukses di balik kerajaan bisnis CT Corp. Pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1962, ini berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Abdul Ghafar, merupakan wartawan media cetak, sementara ibunya, Halimah, adalah ibu rumah tangga.
Sejak kecil, Chairul dikenal mandiri dan cerdas, dengan nilai akademik yang memuaskan dari SD hingga SMA. Dia menempuh pendidikan di SD Van Lith Jakarta dan lulus pada 1975, melanjutkan ke SMP Van Lith Jakarta hingga lulus 1978, lalu ke SMA Negeri 1 Boedi Oetomo Jakarta, lulus pada 1981.
Usai SMA, Chairul melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI) dan lulus pada 1987. Menariknya, selama kuliah dia sudah aktif berwirausaha dengan berjualan buku, kaus, serta membuka usaha fotokopi.
Dia bahkan sempat menjadi penyedia alat laboratorium dan kedokteran di kawasan Pasar Senen, meski bisnis itu akhirnya bangkrut.

Dari pengalaman tersebut, muncul naluri bisnis yang kuat dalam diri Chairul Tanjung. Setelah lulus, dia bersama tiga temannya mendirikan PT Pariarti Shindutama dengan modal Rp150 juta pinjaman dari Bank Exim. Perusahaan ini memproduksi sepatu anak-anak dan mengekspornya ke Italia. Meski sempat sukses, Chairul akhirnya keluar karena perbedaan pandangan internal.
Tidak menyerah, Chairul kemudian mendirikan Para Inti Holdindo yang membawahi tiga subholding: Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti).
Pada 1 Desember 2011, perusahaan ini resmi berganti nama menjadi CT Corp dengan tiga pilar utama: Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources, yang mencakup bisnis media, finansial, ritel, gaya hidup, hiburan, dan sumber daya alam.
Julukan “Si Anak Singkong” melekat pada Chairul bukan karena kesukaannya pada makanan tersebut, melainkan sebagai simbol perjalanan hidup dari kalangan pinggiran hingga menjadi konglomerat sukses. Julukan itu menggambarkan perjuangan kerasnya meniti karir dari bawah.
Kini Chairul Tanjung dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Menurut Forbes 2024, kekayaannya mencapai sekitar US$4,8 miliar atau setara Rp79,6 triliun. Selain menjadi pengusaha, dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








