JEMBER, Tugujatim.id – Kolaborasi mahasiswa lintas jurusan di Universitas Jember (UNEJ) melahirkan terobosan teknologi ramah lingkungan. Gabungan mahasiswa UNEJ dari Program Studi Teknik Mesin dan Teknik Pertambangan berhasil merancang alat granulator yang mengubah limbah industri pertambangan menjadi pupuk bernilai ekonomis tinggi.
Kreativitas ini hadir sebagai solusi ganda: mengatasi masalah penumpukan sampah tambang sekaligus menyediakan alternatif pupuk murah untuk sektor pertanian.
Baca Juga: Reorganisasi BUMD Jember: Pakar Hukum Unej Sebut sesuai Kewenangan, Bukan Langkah Politik
Di bawah bimbingan Prof Mahros Darsin selaku Koordinator S2 Teknik Mesin UNEJ, Iwan Ahmad, salah satu mahasiswa yang terlibat menceritakan perjalanan pembuatan alat tersebut memerlukan kurang lebih 90 hari.
Fase awal selama 30 hari digunakan untuk perencanaan dan perancangan, sedangkan 60 hari berikutnya dihabiskan untuk proses pembuatan di Lab Manufaktur.
“Material utama yang kami pakai adalah pelat besi dan pipa galvanis anti karat untuk komponen roller. Untuk penggeraknya, kami aplikasikan motor 1.500 Watt yang dilengkapi speed reducer WPA dengan rasio 1:50 guna memaksimalkan tenaga putar,” jelas Iwan pada Selasa (03/02/2026).
Keunggulan mesin karya tim mahasiswa UNEJ ini terletak pada penggabungan dua fungsi sekaligus, mulai pencampur dan pembentuk butiran dalam satu perangkat.
“Konsep seperti ini belum ada di tanah air. Kami merancangnya secara mandiri tanpa meniru desain perusahaan mana pun karena kami ingin memastikan alat ini optimal untuk mengolah material yang tersedia,” imbuhnya.
Inovasi Berawal dari Timbunan Residu Batu Kapur Tidak Terserap
Di sisi lain, Rina Lestari yang memimpin riset sekaligus dosen Teknik Pertambangan UNEJ, menuturkan, gagasan proyek ini muncul dari kegelisahan melihat timbunan residu batu kapur di area pertambangan Grenden, Puger, yang tidak terserap pasar.
“Kami menemukan fakta bahwa sisa batu kapur ini dijual sangat murah, cuma sekitar seratus rupiah per kilo. Berbekal dana hibah inovasi industri LP2M, kami berusaha mendongkrak nilai jual limbah ini dengan mentransformasikannya menjadi pupuk,” ungkap Rina.
Walaupun batu kapur tergolong material anorganik, tim peneliti memadukan dengan berbagai komponen organik agar memenuhi kriteria pupuk organik bermutu.
Formula pupuknya terdiri dari batu kapur sebagai basis utama, fosfat untuk memperkaya kandungan hara, pupuk kandang sapi hasil fermentasi, plus molase sebagai perekat sekaligus sumber nutrisi tambahan.
Menurut Rina, inovasi ini selaras dengan agenda nasional soal kemandirian pangan.
“Produktivitas tanaman bergantung pada kualitas pupuk. Kami optimis penelitian ini akan berlanjut sampai mendapat sertifikasi resmi, sehingga industri bisa memproduksi dalam skala besar, menciptakan peluang kerja, dan menawarkan pupuk dengan harga terjangkau untuk warga sekitar,” katanya.
Rina menambahkan, kesuksesan menciptakan teknologi ini bukan semata-mata prestasi teknis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial. Menurutnya, penerapan teknologi tepat guna adalah kunci supaya usaha rintisan dan pelaku UMKM bisa melesat hingga mampu merekrut tenaga kerja lokal.
“Ekspektasi kami, perangkat ini mampu menghasilkan pupuk berkualitas dengan biaya rendah. Ketika ongkos produksi tertekan, keuntungannya langsung bisa dinikmati para petani. Perusahaan juga berkesempatan berkembang dan membuka peluang pekerjaan lebih banyak,” imbuh Rina.
Bukan hanya urusan produksi, dia juga menyampaikan harapan kepada Pemkab Jember agar lebih serius mendorong inovasi warga. Dia mengajukan gagasan agar pemerintah daerah secara berkala menyelenggarakan kompetisi Teknologi Tepat Guna yang terbuka untuk delegasi dari tingkat desa, kecamatan, kampus, maupun masyarakat umum.
Dia berharap, teknologi tepat guna dapat menjadi jawaban nyata untuk menekan angka pengangguran dan memperkokoh ketahanan pangan Jember. Rina optimis pemerintah akan merespons positif usulan ini demi kemajuan ekonomi rakyat yang lebih masif.
Lebih jauh, Pemkab Jember juga diharapkan bisa menginisiasi program pelatihan dan pendampingan bagi anak jalanan serta warga binaan lembaga pemasyarakatan terkait inovasi terbaru ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








