Tugujatim.id– Rasa tidak percaya diri sering kali datang tanpa diundang, menyelusup di antara pikiran, membisikkan bahwa kita tidak cukup baik, tidak cukup pintar atau tidak cukup layak. Bagi sebagian orang, rasa itu hanya sesekali singgah. Alvi Ardhi, seorang penulis muda, mencoba memotret fenomena ini lewat bukunya yang bertajuk Insecurity.
Alvi dalam Insecurity merangkai cerita, refleksi dan pesan motivasi yang mengajak pembaca untuk berdamai dengan rasa kurang berharga yang selama ini mungkin membelenggu.
Menurut Alvi, ide menulis Insecurity muncul dari kebiasaan sederhana yakni mencatat perasaan. Ia bercerita bahwa selama bertahun-tahun, kerap menuliskan kegelisahan di buku harian. Dari sana, menyadari bahwa banyak orang di luar sana merasakan hal serupa.
“Kalau perasaan ini dialami begitu banyak orang, kenapa kita harus merasa sendirian? Itulah yang ingin saya sampaikan,” ujarnya.
BACA JUGA: Resensi Buku: Petualangan Don Quixeto Karya Miguel de Cervantes
Buku ini juga dibagi menjadi beberapa bagian yang dijadikan motivasi buat para pembaca mulai dari rasa tidak percaya diri—mulai dari membandingkan diri dengan orang lain, merasa gagal, hingga terjebak dalam standar yang diciptakan media sosial. Namun, alih-alih hanya mengurai masalah, Alvi juga menyisipkan langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mulai menerima diri apa adanya.
Ada salah satu bagian yang banyak menyentuh para pembaca adalah tentang “kalau kita mau berkembang dan sukses dimasa yang akan datang, kita harus mau dan mampu melewati susah payahnya perjuangan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan”.
Alvi dalam bab ini menulis tentang bagaimana kita bisa menekankan bahwa perkembangan diri bukanlah hadiah gratis yang bisa kita terima tanpa usaha. Alvi Ardhi menggambarkan proses belajar dan bertumbuh layaknya perjalanan menanjak—melelahkan, kadang membuat ingin berhenti, namun pada akhirnya membawa kita ke pemandangan yang tak bisa dilihat dari bawah.
Tak hanya menyajikan tulisan motivasi, Insecurity juga dilengkapi dengan kutipan dan ilustrasi yang membuat pembaca betah berlama-lama. Ilustrasi-ilustrasi tersebut memperkuat pesan bahwa rasa tidak percaya diri adalah hal manusiawi, namun bukan alasan untuk berhenti melangkah.
BACA JUGA: Buku Trilogi The Power of Silaturahim Layak jadi Bacaan Wajib Keluarga Indonesia
Respon pembaca terhadap buku ini cukup hangat. Banyak yang mengaku merasa “didengar” saat membaca setiap halamannya. “Rasanya seperti ngobrol sama teman yang ngerti banget apa yang aku rasain,” tulis salah satu pembaca di media sosial.
Fenomena Insecurity sendiri memang semakin relevan di era digital. Paparan terhadap pencapaian orang lain di media sosial, tren gaya hidup, hingga ekspektasi yang dibentuk oleh lingkungan, membuat banyak orang merasa tertinggal atau kurang. Menurut Alvi, inilah yang membuat bukunya menemukan tempat di hati pembaca. “Buku ini bukan obat yang instan, tapi ajakan untuk kita memulai perjalanan penyembuhan,” katanya.
Menariknya, Alvi tidak pernah mau memposisikan dirinya sebagai motivator yang seolah sudah sepenuhnya bebas dari rasa insecure. Ia justru mengakui bahwa perasaan itu masih datang sesekali. Bedanya, kini tahu cara menghadapinya.
“Saya tidak mau memberikan kesan bahwa saya adalah orang yang sudah sempurna. Justru saya ingin pembaca melihat bahwa kita bisa bertumbuh bersama,” ujarnya.
Alvi dalam penutup bukunya menulis sebuah pesan, “Kamu boleh merasa insecure, tapi jangan biarkan itu menghalangi langkahmu. Karena setiap orang berhak punya panggungnya sendiri.”
Pesan ini, disampaikan dengan hangat dan tanpa rasa menggurui, menjadi pengingat bahwa menerima diri adalah proses, bukan tujuan akhir.
Bagi kalian yang sedang mencari pelukan dalam bentuk kata-kata, Insecurity mungkin bisa menjadi teman perjalanan yang tepat. Seperti halnya seorang sahabat, buku ini tidak akan menghakimi, melainkan menemani—pelan-pelan membantu kita menemukan kembali suara yang pernah hilang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis : Nafsiatul Kamilah – Magang
Editor: Darmadi Sasongko








