• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Pameran Invisible Territories di Orasis Art Space Surabaya, salah satu venue Biennale Jatim X. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Pameran Invisible Territories di Orasis Art Space Surabaya, salah satu venue Biennale Jatim X. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Invisible Territories, Ruang Pameran yang Pertemukan Budaya dan Seni di Jatim

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
2 years ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Invisible Territories memperlihatkan ruang-ruang perjumpaan yang selama ini tak terlihat oleh banyak masyarakat. Di Biennale Jatim X, melalui pamerannya dari seniman nasional dan internasional meringkas budaya itu dalam wujud karya seni.

Memasuki tempat bak museum yang seolah memperlihatkan sisi sifat tertutup dari sang pemilik, pengunjung diajak menyusuri lorong demi lorong menuju satu ruangan di mana karya-karya seniman Biennale Jatim X tersimpan.

You might also like

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

29/05/2026 7:00 AM
Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

27/05/2026 8:08 PM

Di deretan taman, di rumput yang hijau. Satu karya Yosep Rizal, berjudul “Makan Makam”. Sekilas, memang hanya berbentuk nisan. Tapi jika dimaknai lebih dalam, huruf-huruf Arab yang ditulis pada papan memberikan kesan bahwa nisan bukan hanya sebatas penanda.

WhatsApp Image 2023 12 17 at 16.07.38 1 scaled
“Makan Makam” karya Yosep Rizal di Pameran Invisible Territories di Orasis Art Space Surabaya. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Karya yang menurut Yosep baru selesai 60 persen ini masuk dalam sub tema urban. Tak salah, nisan yang menonjolkan warna silver ini dilatari dari bagaimana seluk beluk makam Kembang Kuning Surabaya.

“Secara konsep, saya terkejut sih pas pertama tau bahwa makam Kembang Kuning jadi tempat prostitusi ‘ilegal’. Jadi idenya adalah bagaimana makam Kembang Kuning secara tidak langsung menjadi perpanjangan,” katanya, pada Jumat (15/12/2023).

Jika melihat sisi historis, makam Kembang Kuning Surabaya yang mayoritas menjadi makam bagi etnis Tionghoa selama ini memang melekat sebagai tempat prostitusi ilegal. Bukan lagi menjadi makam, tempat kedukaan. “Padahal secara teoritis, masyarakat kita punya adab yang tinggi dan menghargai makam. Lalu kenapa itu tidak terjadi pada makam Cina?,” ucapnya.

“Dan saya memilih huruf Arab untuk menuliskan kalimat-kalimat itu adalah imajinasi saya, seandainya semua makam Cina ada tulisan-tulisan Arabnya pasti gak ada orang mau berbuat cabul di situ, secara kan masyarakat Islam kita menganggap semua yang ditulis pakai aksara arab itu suci,” ucap Yosep.

Lalu, memasuki lorong berikutnya, masuk ke dalam satu ruang yang luas, satu karya pembuka. Bergantung di langit-langit, bak tirai yang menjuntai membentuk persegi. Dominasi putih dan setiap sisinya lembaran-lembaran kain dengan raturan warna memberikan kesan penuh cerita. Itulah karya Anas Hope “Renovasi Otak”.

WhatsApp Image 2023 12 17 at 16.07.39
“Renovasi Otak” karya Anas Hope di Pameran Invisible Territories di Orasis Art Space Surabaya. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Berbentuk seperti Gorden, Anas mengingatkan bahwa ruang persegi ini sebagai sarana privasi untuk menutup sesuatu yang ada dari luar. “Dari sudut pandang ini, saya mencoba mengaitkan problematis keberlanjutan ekologis dan border personality. Merayakan cara bernalar untuk sarana privasi yang lebih sehat dan keberlanjutan,” katanya.

Tak jauh, pengunjung kembali diperlihatkan sisi historis dari sebuah karya seni milik Asep Saepuloh  berjudul “Menggali Ingatan Gumok”. Karya ini tak lepas dari budaya pada masa lampau di Kabupaten Jember.

WhatsApp Image 2023 12 17 at 16.07.41
“Menggali Ingatan Gumok” karya Asep Saepuloh di Pameran Invisible Territories di Orasis Art Space Surabaya. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Dalam penuturannya, pada 2012 Jember memiliki 1.955 Gumok, namun kini menyusut menjadi 600-an lantaran dieksploitasi.

Fenomena ini menjadi khawatiran tersendiri. Oleh sebab itu, Asep menunjukkan melalui karyanya, 18 batu dengan potret cerita masing-masing, tertempel pada lapisan pasir.

“Saya mencoba menggali ingatan Gumok melalui beberapa ingatan warga Kalisat yang tinggal di sekitar Gumok,” ucapnya.

Kemudian, pada karya milik Rakhmi Fitriani berjudul “Fragmen Brantas”. Tiga bingkai berbahan kain, membantuk lukisan dengan ceritanya tersendiri melalui sulaman kain dan benang.

WhatsApp Image 2023 12 17 at 16.07.40
“Fragmen Brantas” karya Rakhmi Fitriani di Pameran Invisible Territories di Orasis Art Space Surabaya. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Sungai Brantas, sungai terpanjang kedua di Jawa yang berada di Jawa Timur digali oleh Rakhmi dengan menghasilkan realitas tutupan lahan di sekitar sungai sangat berpengaruh pada aliran Sungai Brantas.

“Setiap fragmen diambil dari gambar citra satelit melalui Google Earth dan diterjemahkan menjadi karya tekstil dengan setiap teksturnya mewakili tutupan lahan dari peta,” jelasnya.

Secara garis besar, pameran Biennale Jatim X pada Invisible Territories merangkum dari tiga wilayah yakni urban, lautan, dan pegunungan. Di mana setiap budaya yang digali memberikan pemahaman kepada pengunjung tentang sisi-sisi yang selama ini tak terlihat di mata umum.

Pameran Invisible Territories dapat diamati di Orasis Art Space Surabaya dari 9 Desember 2023 hingga 6 Januari 2024.

Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Lizya Kristanti

Tags: berita Surabayaberita Surabaya hari iniInvisible TerritoriesPameran seniSurabaya
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

by Mochamad Abdurrochim
29/05/2026 7:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun...

Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

by Dwi Linda
27/05/2026 8:08 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Duka mendalam menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyusul insiden ledakan balon...

Biya Agus.

Biya Agus, Magister Fisika yang Viral di TikTok Berkat Pembahasan soal Rezeki bersama Chatour Travel

by Dwi Linda
19/05/2026 4:41 PM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Senin malam (18/05/2026), H Agus Rahman MPd atau yang populer dengan nama Biya Agus Chatour Gresik, sesenggukan...

Mie Cendana.

Atika C. Larasati, Owner Mie Cendana Viral di Malang Kolaborasi Unik bareng Pelaku UMKM Lokal Perempuan

by Dwi Linda
01/05/2026 7:27 PM
0

MALANG, Tugujatim.id - Siapa sih yang nggak mengenal Mie Cendana sebagai salah satu kuliner viral dari Malang, Jawa Timur? Bahkan,...

Next Post
Berangkat Kerja, Pemotor Asal Batu Luka Tertimpa Dahan Pohon Tumbang di Jalan Nasional Pasuruan-Surabaya

Berangkat Kerja, Pemotor Asal Batu Luka Tertimpa Dahan Pohon Tumbang di Jalan Nasional Pasuruan-Surabaya

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID