SURABAYA, Tugujatim.id – Pemprov Jawa Timur mempersiapkan potensi adanya bencana kekeringan dan banjir yang akan mengancam di beberapa daerah.
Sebagai upaya antisipasi, Pemprov gelar Rapat Koordinasi dengan BNPB, BMKG dan Basarnas Surabaya Jawa Timur guna hadapi ancam terjadi kekeringan parah di beberapa daerah.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menanggapi serius potensi kekeringan menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional, mengingat Jawa Timur merupakan salah satu lumbung pangan utama Indonesia.
Menurut dia, indeks pertanaman (IP) Jawa Timur ditargetkan tetap berada di angka 2,7, bahkan di beberapa daerah seperti Ngawi dapat mencapai 3,5 kali tanam dalam setahun.
“Oleh karena itu September ini musim tanam kita berharap bahwa IP indeks pertanaman Jawa Timur 2,7. Tapi ada daerah yang 3,5 seperti Ngawi,” katanya, Jumat (27/3/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jatim menyiapkan strategi penyediaan sumur dalam untuk menjaga ketersediaan air irigasi bagi lahan pertanian, terutama tanaman padi yang sangat bergantung pada suplai air.
“Menyiapkan sumur-sumur dalam untuk bisa melakukan irigasi di sawah-sawah supaya indeks pertanaman kita itu tidak turun. Itu menjadi penting karena ketahanan pangan ini menjadi kebutuhan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, untuk komoditas lain seperti jagung, daging sapi, ayam, dan telur, Khofifah menyatakan optimistis produksi Jawa Timur tetap stabil.
Khofifah menambahkan, koordinasi bersama Kepala BNPB Suharyanto menjadi bagian penting dalam penyusunan rencana aksi berbasis data risiko bencana yang komprehensif.
“Jadi Kepala BNPB, Pak Letnan Jenderal TNI Suharyanto ini punya peta yang sangat komprehensif. Tentu akan menjadi panduan bagi Pemprov Jawa Timur untuk melakukan plan of action secara detail dan terukur,” kata wanita asal Jemursari Surabaya.
Melalui koordinasi lintas lembaga tersebut, Pemprov Jatim menargetkan kesiapsiagaan daerah terhadap dua ancaman sekaligus banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau dapat dilakukan lebih dini agar dampaknya terhadap masyarakat dan sektor pangan dapat ditekan secara maksimal.
“Ini sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi, jadi kami sudah mempersiapkan semuanya,” pungkas mantan Menteri Sosial ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: M.Khaesar (kontributor)
Editor: Darmadi Sasongko








