MOJOKERTO, Tugujatim.id – Jejak ulama besar sekaligus pahlawan nasional KH Hasyim Asy’ari ternyata dapat ditelusuri di Lapas Kelas IIB Mojokerto. Tempat yang menjadi sentral pembinaan warga binaan ini menyimpan sejarah penting perjalanan sosok penting bangsa Indonesia.
Saksi bisu sejarah tersebut adalah Kamar 2 yang pernah menjadi lokasi penahanan KH Hasyim Asy’ari oleh tentara Jepang pada 1943 silam. Keterangan tersebut disampaikan oleh Kalapas Mojokerto Rudi Kristiawan.
Rudi mengaku bahwa sejarah panjang kamar nomor 2 ini kerap dia ceritakan kepada pegawai hingga tamu yang datang berkunjung. Sosok KH Hasyim Asy’ari yang sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini ditangkap dan dipenjara oleh tentara Jepang karena menolak ritual Seikerei, sebuah ritual untuk penghormatan terhadap Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari.
“Bukan sekadar ruang tahanan, kamar nomor 2 ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar. Di sini, sosok KH Hasyim Asy’ari mengalami beragam tekanan fisik dan mental, namun tetap teguh memperjuangkan ajaran Islam serta mempertahankan semangat perjuangan melawan penjajah,” beber Rudi, Jumat (21/03/2025).
Baca Juga: Sambangi Ponpes Lirboyo, Menko Luhut Klarifikasi Soal Nama KH Hasyim Asy’ari di Kamus Sejarah
Dia mengatakan, harapannya perjuangan KH Hasyim Asy’ari ini memotivasi dan menginspirasi masyarakat.
“Dalam kesempatan ini, kami sekaligus ingin mengingatkan bahwa sejarah ini bukan hanya milik Mojokerto saja, namun menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Semangat perjuangan KH Hasyim Asy’ari harapannya menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua untuk tetap teguh berprinsip dalam nilai-nilai kebaikan,” pungkas Rudi.
Dia melanjutkan, Lapas Kelas IIB Mojokerto terus berusaha melestarikan nilai-nilai sejarah tersebut. Sebab, generasi mendatang perlu memahami dan meneladani betapa pentingnya peran ulama dan pejuang bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








