Kabid Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Dr Sonny: Jangan Beri Stigma Buruk pada Penyintas Covid-19 yang Sudah Sembuh - Tugujatim.id

Kabid Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Dr Sonny: Jangan Beri Stigma Buruk pada Penyintas Covid-19 yang Sudah Sembuh

  • Bagikan
Ketua Bidang (Kabid) Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Dr Sonny Harry B. Harmadi saat menyampaikan materi via virtual Zoom. (Foto: Dok/Tugu Jatim)
Ketua Bidang (Kabid) Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Dr Sonny Harry B. Harmadi saat menyampaikan materi via virtual Zoom. (Foto: Dok/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id –  Hingga saat ini, masih perlunya mengedukasi masyarakat soal virus Covid-19. Bahkan, Ketua Bidang (Kabid) Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Dr Sonny Harry B. Harmadi menyampaikan bahwa masyarakat jangan sampai memberikan stigma buruk, negatif, maupun kurang indah pada penyintas Covid-19 yang sudah sembuh. Hal itu Dr Sonny jelaskan karena akan berdampak pada kejiwaan penyintas Covid-19 tersebut.

“Memang tidak mudah, tapi stigma (buruk dan negatif, red) jangan sampai diberikan pada orang yang sembuh dari virus Covid-19. Secara kejiwaan juga mengalami tekanan setelah sembuh, jangan sampai jadi stigma. Semakin banyak penyintas (Covid-19, red) bercerita dan membuka diri, akan menambah penerimaan di masyarakat,” terang Dr Sonny pada agenda Zoom Cloud Meeting Unesa, Pandemi Talk bertajuk “Berbagi Pengalaman dan Dialog dengan Para Penyintas Covid-19” pada Sabtu (27/02/2021).

Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa berkat upaya bersama selama ini, perlahan kasus harian Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan. Dr Sonny mengatakan bahwa aturan 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak) dapat meringankan fasilitas kesehatan hingga tidak kewalahan.

“Alhamdulilah, kami berjuang keras dalam menurunkan kasus harian (Covid-19, red) sehingga faskes (fasilitas kesehatan, red) tidak kewalahan. Masalah ini tidak ada, makanya 3M itu penting,” imbuhnya.

Mengenai 3M, Dr Sonny melanjutkan bahwa jika seluruh masyarakat Indonesia dapat menerapkan 3M dengan optimal, maka tingkat potensi penularan hanya 1,5 persen. Perlu perlindungan berlapis, bagai mengenakan jaket di Eropa tatkala musim dingin.

“Bahkan, kalau semua patuh menjalankan 3M, ada potensi tertular 1,5 persen saja. Lalu dikombinasikan dengan vaksinasi, jadi kaya pertahanan berlapis-lapis. Kalau kita pergi ke Eropa, musim dingin, harus memakai jaket berlapis,” jelasnya.

Perpaduan pencegahan penyebaran Covid-19 yang disarankan oleh Dr Sonny, yaitu 3M, 3T (tracking, testing, dan treatment), serta vaksinasi sinovac Covid-19 pada masyarakat. Apabila 3 hal itu dipadukan, Dr Sonny menjelaskan, dapat menurunkan angka penyebaran kasus Covid-19.

“Strategi 3M, vaksinasi, dan 3T harus dilaksanakan bersama-sama. Ini 3M kalau diterapkan, dampaknya seperti apa dan menurunkan risiko tinggal 1,5 persen (dalam meminimalisasi penularan Covid-19,red),” tuturnya.

Dr Sonny memberi rumus agar dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19 dan menurunkan angka penyebaran setiap waktu, yaitu iman, aman, dan imun. Karena tanpa iman, Dr Sonny mengatakan, tidak mungkin bisa menyelesaikan persoalan.

“Bagaimana warga tangguh untuk mendukung kesehatan jiwa yang baik? Yang pertama, iman, karena tidak mungkin kita menyelesaikan masalah tanpa iman. Kekuatan doa dan ngaji bersama, memohon pada Allah SWT,” imbuhnya.

Sebelum mengakhiri pemaparan, Dr Sonny menyampaikan bahwa bila ingin membentuk “herd immunity“, masyarakat harus divaksinasi secepatnya dan dalam waktu tertentu harus tervaksin seluruhnya.

“Iman, aman, dan imun dipakai untuk mengendalikan Covid-19. Kalau kita ingin membentuk ‘herd immunity‘, masyarakat kita harus tervaksin dalam waktu tertentu. Kita juga tidak tahu bisa berapa lama vaksin dapat bertahan di tubuh,” ujarnya.

Untuk diketahui, protokol kesehatan (prokes) Covid-19 menjadi kata kunci yang tidak boleh ditawar. Selain itu, juga melaksanakan 3M, 3T, dan vaksinasi untuk seluruh lapisan masyarakat. (Rangga Aji/ln)

 

 

  • Bagikan