JEMBER, Tugujatim.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat bahwa Kabupaten Jember mengalami periode deflasi di awal 2025. Kepala BPS Jember Tri Erwandi menyatakan bahwa pergerakan harga yang menyebabkan deflasi tidak terlepas dari faktor permintaan dan penawaran di pasar.
Menurut dia, indikator yang dipantau oleh BPS lebih berfokus pada harga barang yang dikonsumsi masyarakat, bukan harga di tingkat produsen.
Baca Juga: Harga Bawang Merah ‘Guncang’ Pasar di Jember, Melonjak Sampai Rp50 Ribu per Kilogram
“Deflasi yang terjadi pada Januari dan Februari tahun ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya kebijakan pemerintah terkait tarif listrik,” ujar Tri Erwandi pada Kamis (13/03/2025).
Setidaknya, data BPS menunjukkan bahwa pada Januari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,14%, yang kemudian meningkat menjadi 0,76% pada Februari. Penurunan harga ini sebagian besar disebabkan oleh kebijakan diskon 50 persen untuk pelanggan listrik dengan daya di bawah 2.200 KWH.
“Kebijakan ini berdampak langsung pada pola belanja masyarakat, mengingat hampir seluruh sektor ekonomi bergantung pada penggunaan listrik,” jelasnya.
Komoditas Pertanian Juga Sumbang Deflasi
Selain faktor listrik, penurunan harga beberapa komoditas pertanian seperti cabai rawit dan tomat juga turut berkontribusi terhadap deflasi. Tri menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi berpengaruh terhadap produksi dan daya tahan komoditas tersebut.
“Kondisi cuaca yang basah dapat membuat pasokan komoditas tertentu lebih melimpah sehingga harga cenderung turun,” tambahnya.
Menghadapi bulan Ramadan, BPS memperkirakan pola inflasi dapat berubah.
“Biasanya, menjelang Ramadan permintaan masyarakat meningkat sehingga harga barang-barang kebutuhan pokok bisa naik. Namun, kami masih menunggu data selanjutnya untuk melihat tren yang terjadi,” kata Tri Erwandi.
Selain itu, dia juga menyoroti dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat. Meski tingkat pengangguran di Jember masih lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi, inflasi yang terlalu tinggi dapat menekan kesejahteraan warga.
Dia menekankan bahwa sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi Jember. Dia berharap ada peningkatan produksi pertanian guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah agar bisa melampaui angka 5%.
“Pada 2024, pertumbuhan ekonomi Jember tercatat di angka 4,86%, sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Untuk mendukung ketahanan ekonomi, Tri Erwandi mendorong generasi muda agar lebih aktif terlibat dalam sektor pertanian.
“Keberlanjutan produksi pertanian harus dijaga agar kesejahteraan masyarakat tetap terjamin,” ujar Tri Erwandi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








