MALANG, Tugujatim.id – Siapa yang menyangka, fasad rumah berwarna cokelat yang tampak sederhana nan elegan di Jl Selat Sunda Raya No D5/35, Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jatim, ini berubah menjadi kafe yang menyimpan sebuah dunia yang penuh kehangatan, seni, dan kenangan. Namanya Ruang Warna.
Ruang Warna ini bukanlah kafe biasa. Begitu melangkahkan kaki ke dalam, pengunjung seolah ditarik ke dalam dimensi lain, sebuah galeri seni yang kini bertransformasi menjadi Ruang Warna, sebuah kafe estetik yang sarat makna. Kafe ini merupakan wujud impian seorang maestro lukis difabel, almarhum Sadikin Pard.
Galeri ini dulu menjadi saksi bisu kreativitas pelukis difabel legendaris almarhum Sadikin Pard yang kini hidup kembali dalam nuansa yang berbeda. Ruang Warna, nama yang dipilih dengan cermat, seolah menjadi cerminan dari kanvas kehidupan almarhum Sadikin Pard yang penuh dengan goresan warna dan cerita.
Baca Juga: 13 Wartawan Kupas Program CSR TBIG Tangerang, JFC 2025 Gaungkan Inklusi Libatkan Jurnalis Difabel
Begitu memasuki kafe pada Senin (01/09/2025), Tugu Jatim ID disambut hangat oleh Almedo Pard, anak bungsu Sadikin Pard. Sambil mengantar ke salah satu sudut yang nyaman, Almedo, sapaan akrabnya, membuka obrolan dengan menceritakan asal muasal kafe ini berdiri.
Dia mengatakan, kafe ini menjadi bukti impian sang maestro yang kini terwujud. Sambil ngobrol santai, Almedo menceritakan galeri seni yang didirikan pada 14 Desember 2019 ini resmi dibuka sebagai kafe pada 23 Juni 2025.
“Dulu, almarhum Papa sering melihat Mama memasak di dapur. Masakannya enak-enak. Makanya, Papa mengusulkan untuk membuat kafe sebagai bentuk dukungan untuk Mama yang jago masak,” ujar Almedo sambil tersenyum.

Dia melanjutkan ceritanya, ide sederhana itu kini menjadi fondasi utama Ruang Warna. Perubahan ini bukan sekadar pergantian fungsi, dia melanjutkan, melainkan perwujudan dari mimpi sang maestro yang ingin karyanya terus dinikmati banyak orang, bahkan dalam suasana yang lebih santai.
Meskipun telah menjadi kafe, Almedo mengatakan, esensi seninya tidak pernah hilang. Lukisan-lukisan Sadikin Pard yang menghiasi setiap sudut ruangan bukan sekadar pajangan.
“Itu adalah kenangan dari almarhum Papa yang tidak ternilai harganya,” kata Almedo sambil tatapannya lekat pada salah satu lukisan.
Menurut dia, kehadiran kafe ini menjadi cara bagi keluarga untuk terus menghidupkan semangat Sadikin Pard. Hingga saat ini, lukisan-lukisan tersebut belum dijual, meskipun sudah ada beberapa pengunjung yang menanyakan.

“Itu adalah kenangan dari almarhum Papa. Semua adalah kenangan bersama Papa yang tidak ternilai harganya bagi kami,” ujar Almedo.
Dia mengatakan, sang kakak Alrona Setiawan, bahkan masih membuka kelas melukis. Dia melanjutkan, kakaknya melanjutkan warisan sang ayah.
“Jadi, bagi yang ingin belajar melukis, silakan datang dan belajar di sini,” ajaknya.
Jam Operasional Kafe
Sejak dibuka, kafe ini telah menarik perhatian banyak pengunjung, terutama dari Malang. Suasananya yang tenang, nyaman, estetik, dan didukung oleh staf yang ramah, menjadikan kafe ini tempat favorit untuk melepas penat.
Untuk jam operasional kafe, buka dari pukul 07.00-22.00. Ruang Warna pun menjadi oase di tengah hiruk pikuk kota.
Setiap menu yang disajikan di sini adalah resep orisinal dari sang ibunda Almedo. Almedo memastikan, masakan yang dihidangkan di Ruang Warna tidak akan ditemukan di tempat lain.

Keaslian rasa ini menjadi daya tarik tersendiri, membuat setiap hidangan terasa seperti masakan rumahan yang dibuat dengan penuh cinta.
Berdasarkan menu yang tersedia, pengunjung bisa menikmati aneka pilihan kopi seperti Kopi Jadul Hitam, Kopi Lanang Hitam, hingga racikan modern seperti Cappuccino dan Moachaccino. Selain itu, ada juga pilihan minuman non-kopi seperti Gokelat, Matcha, dan Thai Tea.
Untuk makanan, kafe estetik ini menawarkan hidangan rumahan yang mengenyangkan. Mulai dari Nasi Dadar Telur, Nasi Ayam Goreng, Nasi Goreng Kecap, hingga hidangan instan yang dikreasikan ulang, seperti Indomie Telur. Bagi pengunjung yang sekadar ingin camilan, tersedia pula Kentang Goreng, Pisang Goreng, dan Tahu Goreng.
Almedo mengungkapkan, Ruang Warna memang diperuntukkan bagi semua kalangan yang mencari ketenangan dan inspirasi. Meskipun baru dibuka, semua menu di Ruang Warna masih menjadi favorit dan belum ada best seller yang menonjol. Namun, Almedo berharap, seiring berjalannya waktu, kafe ini akan terus berkembang.
“Untuk saat ini kami masih memfokuskan pada penyajian makanan dan minuman. Tetapi jika memungkinkan, kami akan terus berkembang dan menyediakan fasilitas lain bagi pengunjung,” tutupnya.
Salah satu pengunjung kafe pun memberikan respons positif lewat Instagram. Dia adalah Kemal, seorang konten kreator. Dalam reel Instagram-nya, dia menyebut Ruang Warna penuh cerita.
“Di sini tidak hanya menikmati secangkir kopi, tapi juga warisan seni yang penuh cerita,” ujarnya.
Tempat ini tidak hanya menyajikan hidangan lezat dan minuman segar, tetapi juga sebuah pengalaman, sebuah perjalanan ke dalam dunia seni dan kenangan yang abadi. Di setiap cangkir kopi yang disajikan, dan di setiap lukisan yang terpajang, pengunjung seolah dapat merasakan kehadiran almarhum Sadikin Pard, seorang maestro yang karyanya kini hidup kembali dalam kehangatan sebuah kafe.
Bagi keluarga Pard, Ruang Warna bukan hanya bisnis, tetapi sebuah persembahan tulus untuk mengenang sang ayah, seorang seniman yang karyanya akan selalu dikenang dan dicintai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Novia Hilmiasari/Magang
Editor: Dwi Lindawati








