JEMBER, Tugujatim.id – Kampus Politeknik Negeri Jember (Polije) mencetak globalpreneur muda lewat program Project Based Learning (PBL). Selain itu, kampus Polije bekerja sama dengan badan usaha milik desa (BUMDes) di 28 desa Kabupaten Jember.
Hal itu ditandai dengan Expo PBL dan Talkshow bertema “Mencetak Globalpreneur Muda: Optimalisasi Peran BUMDes dalam Ketahanan Pangan dan Akses Pasar Ekspor” yang digelar Kamis (22/05/2025). Acara ini menjadi puncak dari rangkaian implementasi PBL yang dijalankan mahasiswa Jurusan Bisnis Polije.
Baca Juga: Resmi Dibuka Seleksi Mandiri Polije 2025 tanpa Tes Tulis, Ini Syarat Lengkap dan Jadwalnya
“Sebagai perguruan tinggi vokasi, kampus teaching factory, Polije berharap bisa menyiapkan alumni yang siap mendukung pasar global,” kata Direktur Polije Saiful Anwar STP MP.
Menurut Saiful, implementasi program Project Based Learning (PBL) ini mencerminkan semangat kolaboratif yang dimiliki vokasi.
“PBL dirancang dari berbagai mata kuliah secara sinergis agar mahasiswa siap bersaing secara global,” sambungnya.

Ada dua prodi Jurusan Bisnis yang terlibat aktif dalam kegiatan ini, yakni Prodi Akuntansi Sektor Publik dan Prodi Manajemen Pemasaran Internasional. Melalui sinergi dengan BUMDes, mahasiswa kampus Polije fokus mengembangkan inovasi dalam pengelolaan keuangan desa.
Termasuk peningkatan ketahanan pangan lokal, hingga membuka akses pasar global bagi produk-produk unggulan desa. Salah satu langkah strategis yang dilakukan, melibatkan 28 BUMDes di 28 kecamatan Kabupaten Jember dalam pelaksanaan program.
Pamerkan Karya Kolaborasi Mahasiswa dan Pemdes
Ketua Jurusan Bisnis Polije Dessy Putri Andini SE MM menjelaskan, pameran ini adalah hasil karya kolaboratif antara mahasiswa Polije dan pemerintah desa.
“Ini kolaborasi antara dinas pemberdayaan desa dengan mahasiswa (dua prodi) jurusan bisnis. Serta kepanjangan dari MoU antara Polije dengan 28 BUMDes di masing-masing kecamatan di Jember,” ujarnya.
Dia berharap, kegiatan ini terus berlanjut. Guna membantu pengelolaan 20 persen anggaran alokasi dana desa (ADD) yang diserahkan pada BUMDes untuk ketahanan pangan.

“Sehingga nanti hasil BUMDes terkait pengelolaan keuangan dan produknya dapat masuk dalam pasar global,” sambungnya.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Dodik Merdiawan mengungkapkan, kontribusi mahasiswa kampus Polije sangat signifikan dalam mendampingi desa, terutama lewat BUMDesa aplikasi keuangan yang dikembangkan oleh Jurusan Bisnis.
Baca Juga: Kolaborasi DWP Polije-JTI, Kupas Pentingnya Mental Health dan Kampus Aman Bebas Kekerasan
“Pihak Jurusan Bisnis bersama BUMDes telah melakukan kerja sama untuk meningkatkan kontribusi mahasiswa dalam membantu pengelolaan keuangan di desa. Aplikasi keuangan yang awalnya diperkirakan sederhana, ternyata hasilnya melebihi ekspektasi karena mahasiswa juga membuat panduan-panduan yang aplikatif,” tutupnya.

Dodik menambahkan, sebagai pihak yang menjembatani kerja sama antara Polije dan BUMDes, dia melihat dampak nyata dari PBL terhadap tata kelola desa.
“Hasilnya bukan hanya teoretis, tapi memberi manfaat langsung bagi pengelolaan desa. Harapannya, inovasi ini tidak berhenti di 28 desa, namun bisa diperluas ke 226 desa lainnya, apalagi BUMDes akan terlibat dalam program ketahanan pangan dengan nilai sekitar Rp80 miliar,” tambahnya. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








