SURABAYA, Tugujatim.id – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi di sejumlah daerah selama Januari 2026 alami peningkatan. Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Timur periode 1 hingga 25 Januari 2026, tercatat sebanyak 803 kasus PMK di Jatim tersebar di 38 kabupaten/kota.
Koordinator Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan Jawa Timur Dr drh Iswahyudi MP menjelaskan, dari total kasus tersebut sebanyak 606 ekor sapi dilaporkan sakit, 188 ekor sembuh, hanya delapan ekor yang mati, dan 1 ekor disembelih paksa.
“Secara angka memang terjadi peningkatan kasus, namun tingkat kematian ternak sangat rendah. Ini menunjukkan penanganan berjalan dengan baik,” ujar Iswahyudi saat dikonfirmasi pada Senin (26/01/2026).
Menanggapi informasi terkait ratusan sapi terjangkit PMK di Kabupaten Ngawi, Iswahyudi membenarkan adanya laporan kasus di wilayah tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa peningkatan tidak hanya terjadi di Ngawi dan Magetan, melainkan juga di beberapa daerah lain di Jawa Timur.
“Tidak hanya Ngawi dan Magetan, beberapa sentra peternakan seperti Tuban, Lamongan, Malang, Probolinggo, Lumajang, Blitar juga melaporkan adanya kasus,” katanya.
Baca Juga: Penutupan Pasar Hewan di Tuban Diperpanjang, Kasus PMK Masih Ditemukan
Menurut Iswahyudi, peningkatan kasus PMK di Jatim pada awal tahun bukanlah hal baru. Berdasarkan kajian epidemiologi sejak wabah PMK pertama kali muncul pada 2022, tren kenaikan kasus hampir selalu terjadi pada periode Desember hingga Februari.
“Setiap musim hujan, khususnya Desember, Januari, dan Februari, memang selalu ada peningkatan kasus. Cuaca hujan berdampak pada kondisi kesehatan hewan, membuat ternak lebih mudah stres dan daya tahan tubuh menurun,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, Iswahyudi melanjutkan, virus PMK yang masih ada di lapangan dapat dengan mudah menginfeksi ternak yang belum divaksin atau yang sudah divaksin tetapi belum mendapatkan vaksin ulangan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Dia membandingkan kondisi saat ini dengan tahun sebelumnya. Pada Januari 2025, kasus PMK di Jatim bahkan sempat mencapai 300-400 kasus per hari. Sementara pada Januari 2026, rata-rata laporan kasus harian berada di kisaran 10-15 kasus.
“Jadi memang ada peningkatan, tetapi jauh lebih terkendali dibanding tahun lalu,” ujarnya.
Peningkatan PMK di 10 Provinsi
Secara nasional, Iswahyudi menyebutkan peningkatan kasus PMK juga terjadi di lebih dari 10 provinsi. Seluruh Pulau Jawa, NTB, serta beberapa wilayah di Sumatra dilaporkan mengalami tren serupa.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik. Iswahyudi menegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan langkah antisipatif sejak akhir 2025.

“Ibu Gubernur sudah mengantisipasi kondisi ini sejak November–Desember 2025. Obat-obatan untuk kesiapsiagaan darurat PMK sudah kami siapkan dan didistribusikan ke sekitar 30 kabupaten/kota,” katanya.
Saat ini, petugas di lapangan terus melakukan pengobatan terhadap ternak yang sakit. Selain itu, dinas peternakan juga menerjunkan dokter hewan untuk mengawasi lalu lintas ternak, khususnya di pasar hewan.
“Yang boleh masuk pasar hanya ternak sehat. Jika ditemukan ternak sakit, sementara tidak diperbolehkan diperjualbelikan,” ujarnya.
Baca Juga: Tuban Terima Tambahan 29 Ribu Dosis Vaksin PMK
Upaya lain yang dilakukan meliputi penyemprotan disinfektan di kandang dan pasar hewan, serta pelaksanaan vaksinasi lanjutan secara berkelanjutan. Sesuai SOP, vaksinasi PMK harus dilakukan dua kali dalam setahun hingga Indonesia benar-benar bebas dari PMK.
Pada 2026, Jawa Timur mendapatkan bantuan vaksin PMK dari Kementerian Pertanian sebanyak 1.510.000 dosis. Namun, jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan total ternak rentan PMK di Jawa Timur yang mencapai sekitar 5 hingga 6 juta ekor, termasuk sapi, kambing, dan domba.
“Karena itu, pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, juga harus menyiapkan tambahan vaksin sebagai bentuk pendampingan,” katanya.
Iswahyudi kembali mengimbau peternak untuk segera melapor jika menemukan ternaknya menunjukkan gejala PMK serta tidak menolak petugas yang datang vaksinasi.
“Jangan panik, segera lapor agar bisa ditangani. Dan jika ada petugas vaksinasi, mohon diterima dengan baik. Ini bagian dari upaya pencegahan bersama,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Khaesar
Editor: Dwi Lindawati








