PASURUAN, Tugujatim.id – Dusun Ngembe di Desa Baujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, terkenal sebagai salah satu sentra produsen peci atau kopiah. Mayoritas warga Dusun Ngembe menggantungkan hidupnya dari usaha produksi peci. Tak heran jika dusun ini sering dikenal sebagai kampung peci.
Sejak pagi hari, puluhan warga mulai dari remaja hingga dewasa tampak sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang memotong kain, melubangi kain, hingga menjahit kain menjadi kopiah. Aktivitas tersebut sudah jadi rutinitas warga di tempat usaha H Ahmad (50), perajin peci di Dusun Ngembe.
Namun siapa sangka, sebelum berkembang menjadi Kampung Peci, dulunya Dusun Ngembe dicap sebagai kampung mercon. Ahmad mengingat dulunya setiap menjelang bulan Ramadan, para tetangganya selalu sibuk memproduksi mercon atau petasan.
Karena sudah melekat namanya sebagai kampung mercon, Dusun Ngembe selalu jadi lokasi target operasi polisi. Polisi kerap menyita banyak serbuk-serbuk mesiu hingga petasan siap edar dari rumah-rumah warga. “Sejarahnya dulu di sini memang hampir semuanya warga jadi pembuat mercon,” papar Ahmad, pada Minggu (9/4/2023).
Kala itu, stigma buruk pun kerap diberikan kepada warga Dusun Ngembe. Dusun Ngembe seringkali dianggap sebagai wilayah yang berbahaya dan rawan kejahatan. Orang asing yang masuk Dusun Ngembe selalu diwaspadai oleh warga dan kerap dicurigai sebagai mata-mata yang akan membocorkan praktik produksi mercon.
“Saya kepikiran gimana kalau bikin usaha peci yang mungkin bisa jadi pengganti pekerjaan warga sebelumnya,” ucapnya.
Sejak 1996, Ahmad memutuskan untuk mulai menekuni usaha produksi peci. Mulanya hanya sedikit warga yang mau ikut bekerja dengannya. Bahkan hingga 2000-an awal, hanya ada lima warga yang membantu Ahmad membuat kerajinan peci atau songkok. “Awalnya cuma saya seorang yang bikin peci di sini. Lama-lama mulai ada warga mau belajar, ya saya ajari caranya, ” imbuhnya
Meski sempat jatuh bangun di tahun-tahun awal usahanya, Ahmad tidak menyerah. Keinginannya untuk mengubah stigma kampungnya, menjadi pelecut semangatnya. Dia belajar dari nol cara memasarkan peci hingga menjalin relasi bisnis.
Hingga kini, usaha produksi peci milik Ahmad berkembang pesat. Saat ini, ada sekitar 40 warga Dusun Ngembe yang jadi karyawannya. Tak hanya orang dewasa, Ahmad juga memberi kesempatan kerja bagi remaja yang masih bersekolah di kampungnya. Mereka diperbolehkan ikut membantu produksi peci setengah hari, sepulang sekolah.
“Sekarang warga yang membuat mercon jumlahnya sudah berkurang drastis. Mereka merasakan manfaat dari penghasilannya yang lebih berokah ketika membuat peci,” pungkasnya.









