Kisah Inspiratif Perjuangan Nurhayati Subakat Dirikan Perusahaan Kosmetik Wardah - Tugujatim.id

Kisah Inspiratif Perjuangan Nurhayati Subakat Dirikan Perusahaan Kosmetik Wardah

  • Bagikan
Founder PT Paragon Nurhayati Subakat saat menyampaikan materi dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 beberapa waktu lalu. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)
Founder PT Paragon Nurhayati Subakat saat menyampaikan materi dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 beberapa waktu lalu. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Siapa yang tidak mengenal PT Paragon Technology and Innovation (PTI), perusahaan yang sudah berusia 36 tahun yang bermula dari home industry. Founder PT Paragon Nurhayati Subakat menceritakan jika awalnya perusahaannya hanya memiliki 2 karyawan yang sebenarnya juga asisten rumah tangga (ART). Kini perusahaan ini sudah menjadi perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia dengan karyawan di atas 10.000 orang, dengan luas pabrik 20 hektare. Bahkan, di Malaysia sudah menjadi produk kosmetik nomor 3 yang menjadi favorit.

Nurhayati menceritakan perjalanan bisnisnya tidaklah mudah. Dia bercerita jika pada mulanya dirinya belajar semua hal dari orang tuanya yang merupakan pedagang di kota kecil Padang Panjang, Sumatera Barat.

“Saya adalah anak ke-4 dari 8 bersaudara dari orang tua pedagang di kota kecil Padang Panjang, Sumatera Barat. Ayah saya juga adalah seorang Ketua Muhammadiyah yang berjiwa sosial, dan itulah yang menginspirasi kami hingga saat ini. Beliau juga sosok yang visioner, di mana menyampaikan imtaq dan iptek di tahun 60-an, di mana Pak Habibie baru menyamping di tahun 90-an. Oleh karena kita sekolah tingkat SMP masuk ke pesantren putri, jadi saya alumnus diniyah putri. Dan beliau (ayah) meninggal ketika saya masih SMP,” terangnya saat mengisi materi dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 yang digagas oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan didukung oleh PT Paragon Technology and Innovation beberapa waktu lalu.

Sepeninggal sang suami, Nurhayati menceritakan, ibunya harus menjadi orang tua tunggal bagi 8 anak.

“Tapi, beliau selalu memberikan kata-kata positif di tengah kesulitan seolah-olah ada kemudahan. Dengan keoptimisan itulah, beliau bisa mengantarkan semua anaknya ke perguruan tinggi, kami 8 anak, di mana keenamnya adalah alumnus ITB. Dan itulah juga yang menginspirasi kami hingga saat ini,” tegasnya.

Lalu perjalanan Paragon mulai dari 1985, Nurhayati menceritakan alasannya membuat bisnis kosmetik adalah karena selama 5 tahun pernah bekerja di industri kosmetik juga.

“Saya bekerja dengan inovasi, makanya bisa sampai seperti ini. Saya waktu itu menemukan formula dengan saya modifikasi. Sehingga formulanya tidak jauh berbeda dengan tempat saya bekerja, tapi dengan harga yang jauh lebih murah. Alhamdulillah, waktu itu langsung disambut, terutama untuk produk kebutuhan salon-salon,” tuturnya.

Pada 1990, perempuan berhijab ini mendapatkan ujian yang paling berat, di mana dia harus mengalami kebakaran. Rumah tempat tinggal dan tempat usahanya habis terbakar si jago merah.

“Kondisinya minus karena punya utang sama supplier, sedangkan piutang fakturnya banyak yang terbakar sehingga banyak yang gak mau bayar. Lalu yang saya pikirkan kenapa saya bisa bangkit lagi, waktu itu saya memikirkan karyawan. Sebab, saya ingat sekali kejadian di bulan puasa pada April 1990, jadi kalau saya tutup mereka gak dapat THR. Kemudian saya memikirkan utang, kalau saya tutup berarti saya gak bisa bayar utang,” paparnya.

Dia melanjutkan, bisa saja dirinya memikirkan diri sendiri, tapi itu tidak dilakukan.

“Kalau saya memikirkan diri sendiri ya sudah tutup saja karena suami masih bekerja dan gaji beliau lebih dari cukup. Jadi, semangat kepedulian ini yang saya rasakan sehingga bisa bangkit kembali,” imbuhnya.

Lalu dia merasakan banyak pertolongan Allah juga pada 1990 karena saat itu tiba-tiba ada kenalan yang langsung meminjamkan tempat untuk memulai produksi lagi.

“Kedua, dari supplier karena selama ini menjaga kepercayaan, saya minta 5 sak malah dikasih 10 sak. Padahal, saya juga minta utang ditunda dulu. Ketiga, ada kebijakan BI untuk memberikan utang untuk usaha kecil, saya waktu itu minta Rp 50 juta, malah suruh ambil Rp 150 juta,” kenangnya.

Singkat cerita, ibu 3 anak ini dalam satu tahun bisa membangun pabrik kecil di daerah Tangerang dengan luas 1.500 m2 dan dibangun rumah juga.

“Pada 1995, saya kedatangan tamu dari Pesantren Hidayatullah, diberikan ide untuk bikin kosmetik halal sehingga lahirlah Wardah,” ungkapnya.

Meski demikian, usahanya tidak langsung sukses. Hal ini karena dia juga belum berpengalaman, begitu pun pesantren tersebut juga belum memiliki pengalaman untuk menjual kosmetik.

“Di mana santri juga gak pakai kosmetik sehingga gagal,” katanya.

Tapi, tidak ada kata berhenti bagi Nurhayati, dia mulai mencoba lagi membuat iklan di Harian Terbit meski tidak terlalu populer.

“Kenapa saya mau iklan di sana karena harganya murah. Saya dapat iklan kolom, di mana kalau iklan di Kompas dapatnya iklan baris. Akhirnya mendapatkan 2 distributor kongsi kecil, mulai dari jual reselling, dijual multilevel. Dan akhirnya alhamdulillah berkembang,” tuturnya.

Pada 1998 terjadi krisis ekonomi sehingga memunculkan banyak pengangguran. Dari hal itu justru kemudian banyak orang yang bergabung dengan multilevel dan reselling di perusahaannya sehingga membantu perusahaannya berkembang sangat cepat.

“Malah di tahun itu kami bangun pabrik kedua dengan luas 2-3 kali lebih besar dari pabrik pertama,” bebernya.

Kemudian pada 2002, anak pertamanya Harman Subakat ikut bergabung. Sedangkan 2003, anaknya yang lain Salman Subakat juga ikut gabung. Bersama-sama ketiganya mengembangkan perusahaan ini.

Namun, pada 2004, ketiganya kembali mendapatkan cobaan dengan mengalami penurunan penjualan.

“Tapi, pada 2005 kembali mendapatkan multilevel dari Sophie Martin,” ungkapnya.

Nurhayati melanjutkan, akhirnya dari situlah terjadi perubahan.

“Kemudian anak-anak gabung bersama timnya, lalu diadakan banyak perubahan dan perbaikan. Mulai dari penjualan B to B jadi B to C,” tambahnya.

Kemudian pada 2009 dilakukan relaunching Wardah dengan pembaruan tagline dari “Kometika Suci dan Aman” menjadi “Inspiring Beauty” agar menjadi lebih modern. Dan di tahun yang sama hijabers booming, dia mengatakan, ini adalah satu-satunya kosmetik yang menjawab kebutuhan hijabers adalah Wardah. Dari sini terjadi lonjakan penjualan kosmetik Wardah.

“Pada 2010, pertumbuhannya cukup bagus, pada 2010 mengeluarkan produk lagi make over,” katanya.

Nurhayati menjelaskan, agar menjadi lebih modern dan menjangkau pasar global, pada 2011 perusahaannya berganti nama dari sebelumnya PT Pusaka Tradisi Ibu menjadi PT Paragon Technology and Innovation.

“Tak sampai di situ saja, pada 2014, timnya mengeluarkan lagi Emina untuk remaja. Dan ini juga kelihatannya momennya pas karena saat pandemi dari tahun lalu, ini adalah produk yang masih terus tumbuh. Karena salah satu brand yang menjual kebutuhan milenial,” paparnya.

Nurhayati mengatakan, semakin berkembang lagi dengan mengeluarkan produk-produk lainnya.

“Kemudian pada 2017 launching shampoo, tapi ini memang persaingannya berat tapi tetap masih jalan. Dan 2018 mengeluarkan lagi dekoratif instator fact, alhamdulillah ini juga disambut dengan baik. Sedangkan pada 2019, kami mengeluarkan lagi kristal lulur untuk skincare premium. Kemudian di tahun 2020 di tengah pandemi, kami mengeluarkan lagi produk baru dengan brand Kahf. Alhamdulillah ini juga disambut baik,” ujarnya.

Sementara itu, sang anak sekaligus CEO PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat mengatakan kalau dirinya belajar banyak dari sang ibu.

Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation (PTI) Salman Subakat.(Foto: Dok/Tugu Jatim)
Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation (PTI) Salman Subakat.(Foto: Dok/Tugu Jatim)

“Kalau di keluarga itu lead by example, ibu itu tidak terlalu banyak bicara tapi aksi nyata. Jadi, kerja langsung, terus semuanya serba cepat, terus pekerjaan di rumah juga beres,” tuturnya.

Salman melanjutkan, jadi ibu itu serba bisa, apa saja dikerjakan.

“Jadi kalau ibu di rumah dan mbaknya (ART) lagi sibuk, ya ibu ikut nyuci dan beresin semua. Jadi, memang action oriented,” sambungnya.

Hal itu yang membuat Salman kadang berpikir kenapa ibunya tidak capek-capek, lalu dia mengingat wejangan ibunya bahwa kalau kita kerja buat orang lain itu energinya gak habis-habis.

“Saya baru belajar bahwa energi itu dari luar bisa charge itu baru dari manajemen modern. Ibu di perusahaan juga seperti itu sehari-hari, jadi gak pernah protes kalau ada yang kotor tapi langsung turun untuk membersihkan, bapak juga seperti itu,” ujarnya.

Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan sekaligus Pimpinan Redaksi Tugu Jatim Nurcholis MA Basyari bersama peserta Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 beberapa waktu lalu. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)
Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan sekaligus Pimpinan Redaksi Tugu Jatim Nurcholis MA Basyari bersama peserta Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 beberapa waktu lalu. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)

Sementara itu, Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan sekaligus Pimpinan Redaksi Tugu Jatim Nurcholis MA Basyari mengatakan bahwa sosok Nurhayati ini seperti namanya yang artinya adalah cahaya hidupku.

“Dan sekarang, karena tadi berpikir untuk orang lain, bukan hanya menjadi cahaya hidup dari Pak Abdul Muin Saidi dan keluarga besar. Tapi, Ibu Nurhayati juga menjadi cahaya hidup kurang lebih 11.000 karyawan, dan Indonesia secara keseluruhan,” tutupnya.

  • Bagikan