News  

Kite Coffee & Roastery, Kedai Kopi Berkonsep Industrial Minimalis Terinspirasi dari sang Ayah

Kite Coffee. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Kite Coffee & Roastery, kedai kopi unik di Kota Malang, yang dipenuhi pengunjung. (Foto: Dokumen)

MALANG, Tugujatim.id – Kota Malang kini semakin berkembang dengan adanya industri coffee shop. Seperti Kite Coffee & Roastery yang menjadi tempat nongkrong bagi kaum milenial sambil ngopi yang menjadi tren kehadiran beragam coffee shop dengan konsep yang fresh dan kekinian. Apa sih keunikan Kite Coffee & Roastery Kota Malang ini?

Coffee shop yang berlokasi di Jalan Sugriwo, Sawojajar II, Kota Malang, ini hampir tak pernah sepi pengunjung. Rupanya, kafe dengan bangunan 3 lantai ini memiliki daya tarik yang unik. OwnerKite Coffee & Roastery Ega Yamawidura pun mengungkapkan keunikan kafenya itu pada Sabtu (19/02/2022).

Kite Coffee. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Suasana outdoor Kite Coffee & Roastery. (Foto: Dokumen)

Menurut Yama, sapaan akrabnya, Kite Coffee & Roastery memiliki filosofi yang cukup menarik, yakni mengambil dari kata benda dalam bahasa Inggris “kite” yang berarti layangan. Hal ini dilatarbelakangi lokasinya yang tepat berada di depan Lapangan Kotak, Sawojajar. Lapangan ini kerap menjadi jujugan bermain layangan bagi anak-anak dan warga setempat.

Kite Coffee. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Ega Yamawidura (kiri) bersama keluarganya di Kite Coffee & Roastery Kota Malang. (Foto: Dokumen)

“Memang sederhana, tapi kami ingin tempat ini menjadi jujugan tamu untuk melepas penat dengan melihat pemandangan kebahagiaan anak-anak bermain layang-layang di lapangan tersebut,” ujarnya.

Untuk ketiga lantai kafe memang didesain dengan konsep industrial minimalis yang memiliki space-nya masing-masing. Di lantai satu misalnya, ada indoor area dengan working space yang nyaman bagi pekerja, mahasiswa, maupun pelajar dalam mengerjakan berbagai tugas.

Kite Coffee. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Minuman andalan Kite Coffee & Roastery. (Foto: Dokumen)

Sedangkan untuk lantai dua dan tiga, sengaja didesain semi outdoor dan menyediakan smoking area sehingga menyuguhkan kesan yang lebih santai untuk nongkrong bareng teman maupun kolega sambil menikmati landscape Kota Malang yang sejuk dan indah.

“Pelanggan kami kalau siang didominasi para pekerja. Sedangkan sore sampai malam hari, kebanyakan anak-anak muda yang nongkrong sama teman-temannya. Mereka saling ngobrol ke sana-sini sambil menikmati pemandangan dan hawa sejuk,” imbuhnya.

Kite Coffee. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Proses pembuatan kopi di Kite Coffee & Roastery. (Foto: Dokumen)

Coffee shop ini juga menawarkan berbagai menu spesial dengan ciri khasnya sendiri. Mulai dari minuman dengan kategori espresso based, non-coffee, artisan tea, manual brew, signature, hingga mocktail. Untuk makanannya, juga ada makanan ringan alias snack sampai makanan berat. Ya, berjaga-jaga kalau pelanggan merasa kelaparan. Tak perlu khawatir soal harga karena berbagai menu enak di coffee shop ini hanya berkisar antara Rp15 ribu-Rp20 ribuan saja.

Padahal, coffee shop ini menggunakan bahan-bahan pilihan berkualitas terbaik. Terlebih, olahan biji kopinya.

“Untuk kopi, kami proses roasting sendiri. Bahkan, mulai dari petani sampai jadi minuman, kami tahu seperti apa. Kami ingin memastikan kualitasnya,” urainya.

Kite Coffee. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Pemilihan kopi untuk produk di Kite Coffee & Roastery. (Foto: Dokumen)

Pria yang juga kuliah di Jurusan Manajemen Universitas Brawijaya (UB) tahun 2015 ini mengaku senang menggeluti dunia perkopian sejak lama. Berawal dari keinginan sang ayah yang ingin minum kopi, tapi terkendala kesehatan.

“Awalnya dulu emang sering bikin kopi sendiri di rumah. Lalu ayah yang nggak bisa minum kopi, coba saya bikinan kopi Aceh dan aman. Akhirnya beliau bisa minum kopi. Dari situlah, saya mencari informasi tentang kopi lebih mendalam lagi,” beber dia.

Kite Coffee. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Industrial minimalis menjadi konsep coffee shop ini. (Foto: Dokumen)

Berbekal tekad dan ketekunan, Yama belajar dari satu tempat ke tempat lain sehingga pengetahuannya bertambah. Dia juga kerap menjadi pemenang di berbagai lomba tentang kopi di tingkat Jatim. Hingga suatu titik, dia berkeyakinan untuk membangun usahanya sendiri.

“Berbekal pengalaman dan otodidak sih jatuhnya. Kuncinya itu dua, yaitu sabar jangan mau instan dan tekun. Dengan itu semua, kita akan bisa banyak belajar, termasuk mencari peluang kemudian merintis usaha,” ujar Yama. (ads)