MALANG, Tugujatim.id – Kolaborasi melalui Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) EQUITY, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) meneliti ekosistem pengembangan potensi masa depan di Kabupaten Pamekasan dan di Kabupaten Lamongan. Misi UM dan UNESA, kekayaan alam nantinya dapat dikelola putra daerah menuju kesejahteraan dengan dukungan kebijakan ekosistem berkelanjutan atau hilirisasi yang ideal.
Riset kolaboratif UM dan UNESA itu berjudul “Optimalisasi Pemetaan Potensi Daerah sebagai Dasar Pengembangan Kompetensi dan Evaluasi Keahlian Sekolah Kejuruan untuk Meningkatkan Kesejahteraan”. Fokus penelitiannya di wilayah Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Lamongan.
Ketua Mitra RKI EQUITY LPPM UM Dr Hary Suswanto ST MT menjelaskan, riset ini diawali dengan penyamaan persepsi antara kampus dan pemda setempat, observasi pengambilan data, analisis data potensi daerah, evaluasi kompetensi SDM, hingga menghasilkan dokumen rekomendasi.
Menurut dia, tim peneliti telah memetakan mendalam dan komprehensif untuk menggali potensi berbagai sektor di masing-masing wilayah. Mulai dari ketahanan pangan, pertanian, perikanan, peternakan, pedagangan, industri jasa, hingga kondisi kompetensi sumber daya manusia (SDM).

“Kami memetakan dan menganalisis potensi masing-masing daerah itu untuk direkomendasikan ke pemerintah daerah. Sehingga ada kebijakan pengembangan SDM yang bisa relevan dengan potensi daerahnya,” kata Hary, Jumat (10/04/2026).
Di Kabupaten Pamekasan, riset ini menemukan dua komoditas unggulan yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi namun belum dikelola secara optimal, yakni lorjuk dan rumput laut. Kedua komoditas ini selama ini cenderung dijual dalam bentuk mentah atau olahan sederhana, sehingga nilai tambah yang diperoleh masyarakat masih terbatas.
Hary menilai, kondisi tersebut menjadi titik krusial yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah. Sebab, tanpa intervensi kebijakan dan penguatan kapasitas, potensi besar tersebut berisiko terus dieksploitasi tanpa memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat lokal di masa depan.

“Selama ini lorjuk dan rumput laut lebih banyak dijual dalam bentuk mentah atau olahan sederhana saja. Padahal jika diolah dengan teknologi dan pengemasan yang baik, nilai jualnya bisa meningkat berlipat,” katanya.
Selain analisis potensi lokal, kompetensi pendidikan generasi muda di daerah tersebut juga tak luput dari perhatian dalam riset ini. Sekolah kejuruan bahkan perguruan tinggi setempat akan didorong atau direkomendasikan membuka kompetensi (jurusan) atau program studi (prodi) baru yang relevan dengan potensi daerahnya.
Dorong Sinkronisasi Pendidikan dan Hilirisasi Ekonomi Daerah
Menariknya, LPPM UM juga telah bekerja sama dengan Universitas Madura Pamekasan (UNIRA) dan Pemkab Pamekasan untuk menyiapkan prodi baru yang relevan dengan potensi daerah tersebut. Sementara di jenjang kejuruan, SMK Negeri 1 Tlanakan Pamekasan dinilai potensial untuk dibuka jurusan atau program kompetensi baru. Dengan demikian, kualitas kompetensi generasi muda dapat terus berkembang sesuai arahnya.
“Jadi kompetensi SDM atau generasi di daerah juga perlu dipersiapkan. Sehingga bisa mendukung pengembangan potensi daerah di masa depan,” urainya.

Selain rekomendasi di bidang pendidikan, tim riset juga mengeluarkan rekomendasi untuk pemerintah daerah jika generasi mudanya ingin berwirausaha. Misalnya optimalisasi pembinaan UMKM dan SDM hingga pengembangan teknologi di sektor yang dinilai potensial di daerah.
Hary yang juga merupakan Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM itu menekankan bahwa pengembangan potensi lokal berbasis hilirisasi tersebut cukup strategis untuk digencarkan. Misalnya soal produk lorjuk dan rumput laut, didorong untuk bisa masuk ke industri olahan bernilai tinggi, seperti makanan kemasan hingga bahan baku kosmetik.
Langkah ini dinilai penting untuk memutus rantai ketergantungan daerah terhadap pasar luar. Selama ini, sebagian besar hasil produksi justru diolah di luar daerah sehingga keuntungan ekonomi tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat.
Sementara itu, Ketua Host RKI EQUITY UNESA Prof Dr Agus Wiyono SPd MT menekankan bahwa persoalan utama yang dihadapi daerah bukan pada kurangnya potensi. Melainkan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan setempat dengan potensi daerah.
Dia mencontohkan, banyak SMK yang membuka program keahlian populer seperti teknik komputer dan jaringan (TKJ) atau multimedia, namun tidak mempertimbangkan kebutuhan riil daerah. Akibatnya, lulusan kesulitan terserap di pasar kerja lokal dan cenderung melakukan urbanisasi atau bekerja di daerah lain.
“Selama ini banyak SMK membuka kompetensi keahlian yang tidak terhubung dengan potensi unggulan di daerahnya. Tapi lebih didasarkan animo masyarakat. Ini yang menyebabkan gap yang tinggi antara lulusan dan lapangan kerja di setiap daerah,” jelas Agus yang juga merupakan wakil dekan I Fakultas Teknik UNESA itu.
Dia melihat bahwa mayoritas SMK daerah di Jatim lebih fokus pada kemampuan meluluskan anak didiknya tanpa melihat kompetensi keahlian yang dibutuhkan daerahnya. Dampaknya, angka pengangguran tinggi hingga terjadi urbanisasi tenaga kerja karena ledakan lulusan tinggi yang tidak seiring dengan lapangan kerja di daerahnya.
“Data statistik pada 2030, Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi. Kalau lulusannya tidak terpakai, ngapain buka SMK,” ungkapnya.
Melalui analisis berbasis data seperti Location Quotient (LQ) dan Shift Share, tim peneliti memetakan potensi unggulan yang terpendam hingga tingkat kecamatan. Di Lamongan, hasilnya menunjukkan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda.

Di Kecamatan Babat memiliki potensi di sektor perdagangan industri, Bluluk punya potensi pertanian dan peternakan, di Brondong ada perikanan, Deket punya perdagangan dan jasa, di Glagah ada pertanian dan perdagangan, lalu di Kalitengah ada potensi pertanian.
Peta potensi wilayah itu kemudian menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi kebijakan pendidikan berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan tersebut, lulusan SMK diharapkan mampu langsung berkontribusi dalam pengembangan sektor unggulan daerahnya.
Menurut dia, pendekatan ini juga menjadi strategi penting dalam menekan angka urbanisasi. Jika peluang kerja tersedia di daerah asal melalui pengembangan potensi daerah, maka lulusan tidak perlu mencari pekerjaan ke kota besar yang justru sudah jenuh.
“Dinas Pendidikan Provinsi harus tahu apa kompetensi yang perlu dibuka. Karena di daerah, ada potensi yang tidak dikembangkan masyarakat. Semua dijual mental sehingga diolah di daerah lain. Ini kan bukan masyarakat setempat yang menikmati,” bebernya.

Dia mengatakan, pengentasan kemiskinan harus memberdayakan potensi lokal yang dikelola masyarakat setempat.
“Kalau kita mau mengentaskan kemiskinan, maka potensi lokal harus dikelola sendiri oleh masyarakat setempat. Bisa jadi, lulusan SMK ternyata anak petani. Kan bisa mengembangkan lahan pertanian orang tuanya dengan bekal keilmuannya. Sehingga kesejahteraan meningkat, urbanisasi dan bonus demografi 2030 terkendali,” tegasnya.
Sebagai informasi, riset kolaboratif RKI EQUITY (Enhancing Quality Education and International University Impact and Recognition) ini didukung pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk tahun anggaran 2025-2026.
Proses riset dilakukan bertahap, mulai dari penyamaan persepsi pada Desember 2025. Lalu observasi lapangan di Lamongan pada Januari 2026 dan Pamekasan pada akhir Januari hingga awal Februari 2026. Tahapan dilanjutkan dengan analisis data dan evaluasi hingga akhir Maret 2026.
Adapun tim riset ini terdiri dari akademisi dari UM dan UNESA. Dari kampus LPPM UM di antaranya Dr Hary Suswanto ST MT, Evania Yafie SPd MPd PhD, Dr Nurul Laili Sa’adah SPd MPd. Sementara dari UNESA yakni Prof Dr Agus Wiyono SPd MT, Gusti Aditya Rahadyan ST MURP, Nurul Makhmudiyah SSi MT, dan Dr Jaka Purnama ST MT.
Baca Juga: LPPM UM Perkuat Kualitas Penelitian Melalui Review Proposal Terstruktur
Lebih dari sekadar riset akademik, hasil penelitian ini diharapkan menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah daerah dalam merancang strategi pembangunan berbasis potensi lokal dan penguatan SDM.
Secara lebih luas, riset ini juga merepresentasikan kontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada misi pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri inovasi dan infrastruktur, kota dan komunitas berkelanjutan, ekosistem laut, darat dan kemitraan untuk mencapai tujuan.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan potensi daerah, pendidikan, dan ekonomi lokal, riset ini menjadi salah satu upaya konkret untuk mendorong pembangunan daerah yang lebih inklusif, berdaya saing dan berkelanjutan. Lalu puncaknya adalah kesejahteraan masyarakat. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Sholeh
Editor: Dwi Lindawati








