MALANG, Tugujatim.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) resmi melantik Prof Aji Prasetya Wibawa ST MMT PhD sebagai ketua baru pada Jumat lalu (06/02/2026). Melalui pelantikan ini, Ketua LPPM UM Aji membawa semangat dengan sebuah tagline “Senang Meneliti, Tenang Mengabdi, Menang Berkolaborasi”.
Sebelum membedah makna dari tagline tersebut, mari mengenal sosok Ketua LPPM UM Aji lebih jauh lagi!
Baca Juga: LPPM UM Perkuat Kualitas Penelitian Melalui Review Proposal Terstruktur
Profil Singkat
Prof Aji Prasetya Wibawa ST MMT PhD lahir pada Desember 1979 di Kota Malang, Jatim. Dia menyelesaikan sekolah menengah atas (SMA) di SMA Negeri 1 Surabaya pada 1998, kemudian melanjutkan jenjang S1 Teknik Elektro di Universitas Brawijaya (UB).
Setelah menyelesaikan S1 pada 2004, dia memulai karir sebagai dosen selama setahun kemudian di Universitas Negeri Malang (UM) serta melanjutkan pendidikan S2 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan fokus jurusan yang sama, dan lulus pada 2007.

Pada 2010, dia menempuh pendidikan S3 Electrical and Information Engineering di University of South Australia dan lulus 4 tahun kemudian.
Dengan rekam jejak pendidikan yang berada di bidang teknik elektro dan informatika, siapa sangka jika pria berusia 46 tahun ini juga seorang seniman. Ayahnya yang seorang dalang menjadi salah satu inspirasinya menekuni hobi mendalang dan bermain gamelan. Bahkan, beberapa kali dia menampilkan pertunjukan wayang kulit di luar negeri.

Saat ini, pria yang memiliki 4 anak itu masih mengajar di Universitas Negeri Malang, utamanya sebagai dosen S3 Teknik Elektro dan Informatika. Selain itu, dia diamanahi sebagai ketua LPPM UM.
Sebuah Tantangan Menjadi Ketua LPPM
Menurut Aji, menjadi ketua LPPM UM merupakan sebuah tantangan.
“Sebelumnya saya tugas di UPT Publikasi Ilmiah yang mengurusi salah satu bentuk luaran penelitian, yaitu artikel. Nah, sekarang saya ada di satu step sebelum artikel itu jadi. Ternyata ngurusi itu ya repot banget mulai dari proses pengusulan, review, itu detail sekali. Jadi, kalau dibilang ini bebannya bisa 3-5x lipat tugas sebelumnya,” tutur Aji pada Senin (06/04/2026).
Tapi, dia berterima kasih karena disambut baik oleh para rekan ketika telah menjalankan tugasnya.
“Nah, saya sangat berterima kasih juga karena ajakan saya disambut dengan baik oleh WD III (Wakil Dekan III, Red) masing-masing fakultas, teman-teman di LPPM, dosen, dan mahasiswa juga yang mau mengikuti penelitian. UM ini giatnya sangat cepat,” ujar Aji.

Dia mengatakan bahwa UM saat ini sedang bergerak pesat untuk menjadi lebih baik.
“Saya sudah 20 tahun di UM dan bisa merasakan, oh iya UM ini sedang bergerak, dan bergeraknya semakin cepat,” lanjutnya.
Saat ini, dia mengatakan, proposal riset yang diajukan untuk mendapatkan pendanaan telah meningkat dari sebelumnya.
“Paling gampang kan menilai dari kuantitatif ya. Alhamdulillah, kalau dari sisi angka, ajuan proposal penelitian tahun lalu masih 4.000-an, tahun ini naik menjadi sekitar 5.000 yang sekarang sedang dinilai oleh bapak/ibu reviewer,” kata Aji saat ditemui dalam kegiatan review proposal penelitian di Hotel Montana Dua, Kota Malang, beberapa waktu lalu.
Senang Meneliti, Tenang Mengabdi, Menang Berkolaborasi
Sebagai Ketua LPPM UM yang baru, Aji mencanangkan tagline “Senang Meneliti, Tenang Mengabdi, Menang Berkolaborasi”.
“Nah, yang pertama kali harus dibentuk itu harus senang meneliti, karena meneliti itu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari sivitas akademika. Di universitas harus meneliti entah itu didanai atau tidak. Biasanya karena suatu keharusan, itu membuat kami jadi nggak seneng, susah, nggak enak. Jadi, saya ingin menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam meneliti,” tutur Aji.
Dia melanjutkan bahwa salah satu bentuk mewujudkan senang meneliti ialah dengan cara memperpanjang waktu submit proposal.
“Salah satu contohnya di 30 hari ini, yaitu mengundurkan jadwal penerimaan. Nah, itu kan menyenangkan orang lain ya to? Dengan diundurkan itu peneliti masih punya kesempatan untuk mengajukan lebih banyak proposal,” jelasnya.
Kemudian, dia menjelaskan tag selanjutnya, yaitu tenang mengabdi.
“Yang saya pegang dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat pertama adalah tenang karena proses yang transparan. Kami harus mengupayakan proses yang transparan, akuntabilitasnya bagus, semua orang tahu bahwa ini direview walaupun kami nggak boleh tahu siapa yang me-review, tetapi tahu bahwa proposal ditolak atau diterima harus melewati proses review,” tutur Aji.

Dia melanjutkan bahwa kata tenang juga merujuk pada kepastian distribusi hasil riset yang telah dikembangkan.
“Kemudian tenang yang berikutnya adalah LPPM harus bisa memastikan bahwa produk-produk dari research ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal atau bahkan global, sehingga penelitinya juga tenang oh iya produk saya punya manfaat,” jelasnya.
Dia melanjutkan bahwa manfaat tidak bisa diukur secara pasti, tetapi bisa dirasakan secara langsung maupun tidak langsung.
“Manfaat itu sesuatu yang tricky ya, terkadang menurut peneliti bermanfaat, tetapi menurut penerima nggak bermanfaat, dan sebaliknya. Maka, LPPM memiliki 7 pusat penelitian yang dapat memberikan arahan pengimplementasian riset,” ujar Aji.
Saat ini, UM juga memiliki beberapa daerah sebagai tempat untuk mengimplementasikan hasil dari penelitian.
“Kalau produknya memang bisa memberikan manfaat secara langsung ya kami usulkan, tetapi kalau tidak ya dimasukkan ke dalam pemetaan, sehingga nanti menjadi usulan untuk perluasan daerah binaan,” jelasnya.
Untuk tagline ketiga tentang menang berkolaborasi, dia menjelaskan butuh adanya sinergitas.
“Kami tidak bisa menutup mata bahwa UM ini adalah kampus yang besar, tetapi ada yang lebih besar, ada juga yang lebih kecil di dalam maupun luar negeri. Nah, hidup sendiri-sendiri di zaman sekarang itu nggak akan bisa maju, makanya saya katakan berkolaborasi itu penting untuk bisa jadi pemenang, tentunya dengan menonjolkan keunikan UM dalam hal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” Aji menjabarkan maksud dari tagline ketiga.
Oleh karena itu, kegiatan berkolaborasi sangat penting, salah satunya untuk menyalurkan hasil dari penelitian serta membangun kepercayaan mitra dengan alumni yang berkapabilitas.
“Menurut saya, aset universitas paling penting adalah lulusan. Kalau tidak bermitra dengan pihak lain, bagaimana kami mau menyalurkan lulusan, bagaimana mereka percaya kalau lulusan UM itu punya kompetensi yang cocok dengan lembaga mereka,” kata Aji.
Dia mengatakan bahwa kolaborasi harus dibangun sejak dini, pihak luar harus tahu UM seperti apa, apa potensinya, apa modal yang dimiliki tidak hanya berupa benda, tetapi juga human capital.
“Memfasilitasi publikasi penelitian sama dengan ketika memublikasikan karya kita ke luar negeri. Misalnya, mahasiswa X ini sudah punya publikasi sejak S1, sehingga kalau saya memberi beasiswa nggak akan rugi, begitu juga dengan dosen yang bisa mendapatkan lebih banyak proyek,” Aji menguraikan manfaat publikasi penelitian.
Awal Ketertarikan Aji terhadap Penelitian
Mulanya, Aji berpikir bahwa menjadi dosen hanya memiliki tugas untuk mengajar.
“Saya masuk UM pada 2005. Saat itu di pikiran saya, dosen hanya mengajar. Kalau diajak teman bantu ngajar ya sudah ngajar, bukan tipikal yang agresif,” kata Aji.
Dia melanjutkan bahwa pertama kali mengetahui penelitian yang baik ketika menempuh pendidikan S3 di Australia.
“Pertama kali saya tahu penelitian ya waktu S3 di Australia. Waktu itu bertemu pembimbing dan saya bercerita kalau tidak pernah melakukan research selain skripsi dan tesis, spesialisasi saya adalah mengajar, lalu sama beliau diajari,” Aji bercerita.
Kemudian, dia juga menceritakan disertasinya yang memiliki topik fusion, gabungan antara computer science dengan budaya.
“Nah, di dunia lain saya, saya adalah dalang wayang kulit dan pemain gamelan, sempat main juga beberapa kali di luar negeri, sehingga disertasi saya topiknya fusion antara computer science dan budaya,” ujar Aji dengan semringah.
Dia melanjutkan penjelasan terkait isi disertasinya soal Google Translate berbahasa Jawa.
“Pada waktu itu saya membuat Google Translate Bahasa Jawa dengan berbagai macam ragam tutur, seperti ngoko, krama, dan madya. Kalau sekarang mungkin sudah kuno ya, tetapi waktu itu belum ada yang mengerjakan,” jelas Aji.
Dari situlah Aji mulai tertarik untuk bergerak mengerjakan riset, publikasi paper, dan lain sebagainya.
Penelitian Fusion Favorit untuk Memperluas Cakrawala
Sejak saat disertasi, Aji mulai menganggap bahwa topik fusion sangat menarik.
“Saya suka topik yang bersifat fusion. Sampai saat ini saya masih bekerja sama dengan teman-teman sastra, ilmu sejarah, dan ilmu sosial,” ujar Aji.
Menurut dia, riset multidisiplin adalah riset yang menarik untuk dikerjakan.
“Kenapa riset multidisiplin? Karena dari situ cakrawala kita dapat berkembang,” katanya.
Dia melanjutkan bahwa melalui riset multidisiplin, keahlian seseorang dapat bertambah.
“Kita tidak hanya berpikir tentang diri sendiri yang expert, masih butuh orang lain untuk berkolaborasi. Nah, dari situ expertise kita nambah,” jelas Aji.
Bahkan, dalam hal mengajar pun Aji juga lebih memilih bidang yang multidisiplin.
“Mengajar pun saya bidangnya di sosial informatika, jadi ada irisan misalnya dengan sosial budaya,” kata Aji.
Dia melanjutkan bahwa adanya kolaborasi antar ilmu sangat penting.
“Kita nggak bisa mengkotak-kotak ilmu, misal orang computer science belajarnya itu saja, ya susah untuk berkembang. Roda kehidupan saling mendukung antar berbagai ilmu, jadi harus ada kolaborasi,” jelasnya.
Harapan untuk Kemajuan Riset Sivitas Akademika UM
Aji berharap di beberapa tahun ke depan akan ada proyek multidisiplin yang dikerjakan oleh berbagai kelompok sivitas akademika di UM yang fokus menyelesaikan permasalahan masyarakat di Jawa Timur.
“Kalau saya melihat dari sisi ilmu saya, misalnya problem yang dihadapi saat ini adalah pembelajaran bahasa daerah dengan banyak dialek. Dalam mempelajari itu saya harus menggandeng sivitas yang lain, mungkin balai bahasa, dari pemerintah juga yang membuat kebijakan,” kata pria beranak empat itu.
Dia melanjutkan, jika hanya mengandalkan pembelajaran bahasa daerah akan lebih sulit memecahkan masalah.

“Ini bisa kita teliti, dari penelitian itu berapa judul skripsi yang bisa dibuat, berapa sekolah yang terbantu dari penelitian itu, berapa guru bahasa daerah yang dilahirkan dari program itu, berapa kebijakan yang proaktif dalam mengembangkan bahasa daerah,” Aji coba menguraikan arah penelitian.
Kemudian, Aji mengatakan bahwa saat ini dia sedang memiliki sebuah proyek yang berkaitan dengan pelestarian bahasa daerah.
“Saya sedang ada proyek dengan 5 universitas di Jawa Timur terkait pelestarian bahasa ini, ada dari UNEJ, UM, UPN Veteran Jatim, Unesa sama UIN Maliki. Kami mencoba menggagas pembelajaran daerah multidialek Jawa Timur-an menggunakan AI,” Aji mulai menjabarkan risetnya.
Dia melanjutkan saat ini risetnya sudah dirancang dan sedang dalam proses pengerjaan.
“Saat ini sedang kami rancang dari kurikulumnya sampai evaluasinya nanti. Modelnya nanti kira-kira kayak chatbot, tetapi kita coba fokus ke bahasa daerah Jawa Timur-an dengan berbagai dialek,” jelasnya.
Saat ini, riset tersebut sedang didiskusikan dengan KBRI Australia karena Australia sedang sangat membutuhkan dukungan dalam hal bahasa dan budaya.
“Termasuk program ini juga akan diusulkan sebagai salah satu program unggulan kalau sudah ada produknya,” pungkas Aji.
Pemicu Utama untuk Terus Berkarya
Alasan Aji untuk terus berkarya berawal dari perkataan dosennya ketika menempuh S3 di Australia.
“Pada waktu itu guru saya orang Polandia bilang ‘Bangsamu itu pinter ngomong, nggak pinter nulis. Aktifnya di retorika aja, buktinya mana?’ Nah, itu yang memicu saya untuk terus berkarya,” Aji mulai bercerita.
Dia juga memiliki kalimat motivasi yang menjadi penguatnya hingga saat ini.
“Kalau saya cerita kadang kata orang terlalu duwur (tinggi, Red) gitu, tetapi kalau buka disertasi saya, di halaman depan ada tulisannya ‘For The Glory of My Country’, demi kejayaan negeriku, ya itu alasan saya,” lanjutnya.
Baca Juga: Finalisasi Review Proposal Penelitian, LPPM UM Akurasi Riset Terbaik Layak Didanai Non APBN
Dia bercerita bahwa benar-benar berawal dari nol sebelum mengenal penelitian di bangku S3.
“Padahal waktu sekolah ya saya yang paling tertinggal, benar-benar berangkat dari 0. Paling gampang ya memang harus ngaku kalau dari 0, biar larinya banter (cepat, Red),” ujarnya.
Aji membuktikan bahwa bersikap rendah hati menjadi salah satu hal yang bisa membawa diri lebih cepat mencapai impian.
“Dan akhirnya ya terbukti, di antara 7 bimbingan guru saya dari berbagai negara, saya yang paling cepet lulus dan paling dulu mendapatkan gelar profesor,” ucap Aji bangga.
Dia berpesan untuk tidak jemawa ketika sedang mengejar sesuatu.
“Kalau kita menggunakan background knowledge untuk berargumen, malah ini yang kadang bisa menghambat kita, jadi low profile aja biar bisa lari lebih cepat,” pesannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Nur Laila Khoriroh
Editor: Dwi Lindawati








