MALANG, Tugujatim.id – Opening ceremony program EQUITY 2026 (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) Community Development, Inbound Mobility Universitas Negeri Malang (UM) telah dilangsungkan pada Rabu (11/2/2026).
Program ini menandai komitmen UM sebagai kampus yang siap memberikan dampak atau kontribusi dalam pemecahan masalah atas isu internasional. Baik soal lingkungan, sampah, transisi energi, pariwisata, perubahan iklim dan lain sebagainya.
Kegiatan itu dibuka langsung oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM, Prof Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.MT.,. Sejumlah mahasiswa dari kampus kampus Mesir dan Malaysia hadir langsung dalam kegiatan yang dihelat di Laboratorium TEB kampus UM itu. Turut hadir pula perwakilan dari Yayasan Inovasi Malaysia.
Kepala Pusat Sumber Daya Wilayah LPPM UM, Dr. Tri Wahyuni Ardan, M.Pd., menjelaskan bahwa ada dua tema utama yang diangkat di hari pertama kegiatan Inbound Mobility ini yakni STEM and Energy Transition serta Tourism and Climate Change.

Mahasiswa lintas disiplin ilmu dari kampus kampus Mesir, Malaysia dan kampus UM dilibatkan langsung dalam program ini. Selama tujuh hari kedepan, mereka akan terjun langsung melakukan pengabdian kepada masyarakat di berbagai wilayah sasaran.
Misalnya di bidang pengembangan sektor pariwisata, mahasiswa peserta EQUITY akan diajak bagaimana pengelolaan limbah kuliner, penerapan circular economy hingga strategi menjaga kawasan wisata agar tidak rusak oleh pembangunan yang tidak terkontrol.
“Pariwisata harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Jangan sampai demi daya tarik, justru merusak potensi alam yang ada,” kata Wahyuni.
Program ini diharapkan juga menghasilkan modul atau formula yang dapat direplikasikan ke desa desa binaan baik di Indonesia, Malaysia, Mesir maupun negara negara lain. Tak hanya soal pariwisata, tetapi juga bisa soal transisi energi, pendidikan, lingkungan dan lain sebagainya.

“Program ini pada dasarnya untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan strategis dengan universitas luar negeri yang sejalan dengan prioritas pembangunan nasional, sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDGs,” imbuhnya.
Koordinator EQUITY UM, Prof. Markus Diantoro, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam mewujudkan visibilitas UM di kancah internasional.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa dari berbagai negara itu bukan hanya memperkaya peluang pertukaran akademik, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Indonesia, kearifan lokal, bahkan program program unggulan kampus yang berorientasi global.
“Ini bukan sekadar kegiatan pengabdian, tetapi juga mengenalkan budaya, kearifan lokal, sekaligus menunjukkan bahwa UM siap berkontribusi terhadap isu internasional,” tuturnya.
Dengan mengangkat isu sampah, air, lingkungan, energi, hingga pendidikan, program ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga pusat solusi bagi persoalan global yang dimulai dari tingkat lokal.
Salah satu mahasiswa peserta EQUITY dari Universitas Kairo Mesir menyebut program ini sangat menarik. Ia bahkan optimis dapat memberikan dampak manfaat bagi masyarakat luas.

Di bidang lingkungan, ia menyebut akan memberikan gagasan soal pengelolaan air bersih berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia punya potensi yang besar. Salah satunya keberadaan sungai sungai besar di berbagai daerah. Namun ia melihat banyak sungai di Indonesia yang airnya telah tercemar.
“Jika semua air di sungai bersih, itu akan sangat bermanfaat untuk Indonesia,” ucapnya.
Perwakilan dari Yayasan Inovasi Malaysia, Nia mengatakan bahwa program EQUITY ini dapat menjadi wadah pertukaran gagasan para mahasiswa yang strategis dalam menghadirkan solusi atas persoalan isu isu internasional.
“Semoga program ini bisa berkelanjutan. Termasuk untuk kolaborasi kampus antar negara. Sehingga bisa menjadi wadah pertukaran gagasan atau saling membantu baik soal lingkungan, teknologi atau lainnya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: M Sholeh
Editor: Darmadi Sasongko








