Masalah Gender Makin Kompleks, Komunitas Averroes Terus Mengedukasi Masyarakat lewat Program GEA - Tugujatim.id

Masalah Gender Makin Kompleks, Komunitas Averroes Terus Mengedukasi Masyarakat lewat Program GEA

  • Bagikan
Program Gender Equality Academi (GEA) yang digelar Jumat (26/02/2021) yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Canada. (Foto:Dok/Tugu Jatim)
Program Gender Equality Academi (GEA) yang digelar Jumat (26/02/2021) yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Canada. (Foto:Dok/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan, baik dalam lingkup domestik maupun publik, tentunya menjadi masalah yang urgen untuk dicari solusi pemecahannya. Dari permasalahan itulah, komunitas Averroes yang bergerak di bidang demokrasi bekerja sama dengan Kedutaan Besar Canada menggelar program Gender Equality Academi (GEA) pada Jumat (26/02/2021).

Dalam sesi sambutan pada opening ceremony via aplikasi pertemuan online, First Secretary (Politic and Public Affairs) Colin Wetmore menyampaikan terima kasihnya kepada komunitas Averroes atas kerja samanya dalam upaya meningkatkan edukasi gender kepada masyarakat.

“Saya sangat berterima kasih kepada pihak Averroes dan peserta yang ikut berpartisipasi. Semoga acara ini dapat bermanfaat bagi kita ke depannya,” ucapnya.

Banyak kalangan mengganggap bahwa diskusi gender sudah final, tapi realitanya berbanding terbalik dengan permasalahan gender yang kian hari semakin kompleks. Hal ini sesuai dengan penuturan Fahrul Ulum selaku Project Manager di Averroes.

“Sebetulnya permasalahan ini belum selesai, bahkan terus berkembang. Dulu saya sempat berpikir demikian, tapi semakin saya dalami ternyata masalah ini malah semakin besar,” ungkapnya.

Para peserta diajak outbound agar diskusi tidak monoton dan lebih fresh pada Jumat (26/02/2021). (Foto: Dok/Tugu Jatim)
Para peserta diajak outbound agar diskusi tidak monoton dan lebih fresh pada Jumat (26/02/2021). (Foto: Dok/Tugu Jatim)

Perkembangan teknologi dan digitalisasi yang semakin luas menjadi penyebab munculnya banyak ragam diskriminasi gender. Di antaranya kekerasan seksual, eksploitasi tubuh, kampanye nikah muda, sampai qoutes tentang poligami secara tidak langsung dapat mengancam eksistensi perempuan sebagai mahkluk yang memiliki kemandirian berpikir dan bertindak.

Konsep acara yang terdiri dari diskusi ruangan dan outbound tersebut bertujuan agar acara tidak monoton dan peserta bisa lebih dekat secara emosional. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi esensi kegiatan tersebut.

Games-nya adalah games edukasi. Meski games, kami tetap fokus pada tujuan awal yakni mengedukasi, menciptakan critical thinking, dan membangun jiwa leadership,” terangnya.

“Kami sangat menghormati hak-hak proregatif perempuan dan kami percaya bahwa perempuan memiliki kapasitas keilmuan dan potensi sebagai agen perubahan di masyarakat,” imbuhnya.

Nur Mutiah Maulida, peserta yang saat ini menjabat sebagai ketua Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), Kabupaten Malang, ini menyampaikan kesannya selama mengikuti kegiatan tersebut.

“Kegiatannya luar biasa, pematerinya kompeten semua, pesertanya juga luar biasa. Pokoknya semua luar biasa, hanya kurang lama durasinya saja,” tutupnya saat diwawancarai sebelum meninggalkan lokasi acara. (Ovi/Gufron/ln)

  • Bagikan