SURABAYA, Tugujatim.id – Di antara ribuan buruh yang memadati Tugu Pahlawan pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2025, tampak Yati (51) berdiri bersama rekan-rekan seperjuangannya dari Sidoarjo. Ia sejak usia 18 tahun mengabdikan diri di salah satu perusahaan makanan yang berbasis di Sidoarjo.
Lahir dan besar di Sidoarjo, Yati tumbuh bersama dinamika kehidupan buruh pabrik. Namun berbeda dengan banyak buruh lain yang bersuara lantang menuntut kenaikan upah dan jaminan kesejahteraan, Yati di aksi May Day justru mengaku sudah cukup puas.
“Tidak ada harapan khusus sih Mbak! Soalnya, kebutuhan dan kesejahteraan sudah terpenuhi oleh perusahaan. Meski gaji naik, biasanya bahan pokok juga ikut naik. Kalau bisa sembako jangan mahal-mahal, biar gaji dan kebutuhan seimbang,” kata Yati, kepada Tugu Jatim, Kamis, (1/5/2025).
May Day: 30 Tahun Hidup Sebagai Buruh Pabrik
Puluhan tahun bekerja di pabrik bukanlah perkara mudah, Yati menjalaninya dengan syukur. Ia mengaku tidak pernah mengalami kesulitan berarti selama tiga dekade bekerja. Kuncinya, menurutnya sederhana yakni tetap bisa beribadah dan menjaga semangat.
“Yang penting bisa sembayang, bisa sholat. Itu sudah cukup,” jawabnya singkat.

Dari hasil kerja kerasnya selama ini, Yati mengaku telah mampu membeli rumah dan mencukupi kebutuhan keluarga. Yati pun tinggal di rumah itu bersama dengan suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan.
“Alhamdulillah bisa beli rumah, (untuk gaji) ya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk jarak rumah ke pabrik tidak terlalu jauh. Setiap hari ke pabrik dengan sepeda motor,” jelasnya.
Harapan di May Day 2025
Pada peringatan May Day tahun ini, Yati mengaku bersama rombongan buruh dari Sidoarjo berangkat sejak pukul 10.00 WIB pagi. Tapi bersama rombongan ia sempat singgah di pendopo atau Alun-alun Sidoarjo untuk bertemu dengan Bupati Subandi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Tugu Pahlawan.
“Ya senang, libur kerja bisa jalan-jalan, bisa kumpul sama teman-teman seperjuangan,” ucapnya ceria.
BACA JUGA: Aktivis Buruh Nilai Kebijakan Ekonomi Jember Abaikan Kesejahteraan Pekerja Sektor Agraria
Saat ditanya soal masa depan, Yati berharap bisa terus bekerja hingga masa pensiun. Sehari, ia bekerja selama delapan jam dan lembur dua jam hanya pada Sabtu.
“Selama masih kuat, pengennya kerja sampai pensiun. Kan dari pabrik usia pensiun itu 56 tahun,” lugas Yati.
Dalam kesederhanaannya itu, Yati menyimpan berjuta rasa syukur yang jarang terdengar di tengah hiruk-pikuk tuntutan buruh. Di matanya, May Day bukan sekadar ajang protes, tapi momen untuk bersyukur dan berkumpul bersama rekan seperjuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








