Melihat Strategi Seniman Tari Ngalambeksa di Malang yang Tetap Berkarya Hadapi Pandemi - Tugujatim.id

Melihat Strategi Seniman Tari Ngalambeksa di Malang yang Tetap Berkarya Hadapi Pandemi

  • Bagikan
Ngalambeksa dalam salah satu penampilannya di Museum Mpu Purwa, Kota Malang saat bisa tampil secara langsung (Foto: M Sholeh/Tugu Jatim)
Ngalambeksa dalam salah satu penampilannya di Museum Mpu Purwa, Kota Malang saat bisa tampil secara langsung (Foto: M Sholeh/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Pembatasan aktivitas masyarakat dalam masa pandemi nyatanya tak melulu menjadi penghalang bagi seniman untuk tetap berkarya. Seniman tari asal Kota Malang yang tergabung dalam komunitas Ngalambeksa nyatanya mampu bertahan dan tetap bisa berkarya menerjang pandemi Covid-19.

Founder Ngalambeksa, Sandhidea Cahyo Narpati menuturkan bahwa situasi pandemi memang menjadi tantangan bagi seniman dalam mempertahankan keberlangsungan karyanya. Terlebih dalam hal ini, seni tari harus memiliki atensi penonton agar bisa menjadi seni tari seutuhnya.

Dalam massa pandemi ini tentu Ngalambeksa juga mengurangi intensitas kegiatan latihan seni tari. Bahkan beberapa anggota Ngalambeksa juga mulai berkurang. Hal itu lantaran beberapa anggotanya juga berasal dari luar daerah.

Merambah Media Digital

Tak mau terus terpuruk dalam kondisi sulit itu, lantas Cahyo melakukan terobosan dengan menjajaki media digital dalam menyalurkan karya. Ngalambeksa pun mulai menyusun tim. Mulai videografi, editing, grafis, penampil dan lainnya.

“Situasi pandemi ini kita dituntut untuk mencari solusi untuk tetap berkarya. Maka salah satunya dengan beralih ke media digital. Ternyata banyak platform yang bisa kita manfaatkan untuk tetap bisa mengekspresikan karya kita,” ucap Cahyo, Minggu (12/9/2021).

Sebagai seniman lepas menurutnya, tetap berkarya dengan cara apapun adalah pilihan yang harus dilakukan. Karena seorang seniman tanpa karya tidak akan bisa bertahan.

Dalam beralih ke media digital pun juga tak semudah yang dibayangkan. Cahyo mengaku harus melakukan penyesuaian dari media offline ke online. Maka Ngalambeksa harus bekerja keras menghasilkan karya berkualitas agar bisa mendapatkan atensi penonton.

“Untuk itu, Ngalambeksa mulai menjajaki platform YouTub, TikTok, Instagram dan lainnya. Alhamdulillah responnya mulai muncul, meskipun awalnya memang susah sekali paling tidak hanya sekedar ada yang menonton,” paparnya.

Cahyo mengaku harus melalui masa sulit selama sekitar 8 bulan untuk bisa mendapatkan atensi penonton. Dia mengaku sempat down dan pesimis lantaran hasil karyanya tidak mendapatkan atensi penonton dan tidak sesuai ekspektasi. Namun berkat konsistensi, kini dia bisa kembali menghidupkan harapan Ngalambeksa untuk bisa tetap berkarya.

“Namanya seniman itu kalau tidak bisa mencurahkan ekspresi melalui karya memang sedikit beban batin. Memang pertama harus mengesampingkan dulu caranya mendapatkan uang. Tapi kita harus fokus bagaimana menarik atensi dari publik,” jelasnya.

Ngalambeksa dalam salah satu penampilannya di Museum Mpu Purwa, Kota Malang saat bisa tampil secara langsung (Foto: M Sholeh/Tugu Jatim)

“Awalnya memang kita tidak menarget bisa mendapatkan uang, tapi ternyata dari sana kita juga bisa mendapat pemasukan. Bahkan ada endors dan lainnya,” imbuhnya.

Hingga pada akhirnya, penampilan Ngalambeksa mendapat atensi besar bahkan juga menarik perhatian tokoh tokoh pemerintahan Kota Malang. Salah satunya Wali Kota Malang, Sutiaji yang merepost karya Ngalambeksa hingga viral di media sosial.

Tak hanya itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa juga sempat merepost salah satu karya Ngalambeksa. Kemudian di awal tahun 2021 Cahyo juga mendapat penghargaan seniman Jatim kategori seni tari dari Gubernur Jatim melalui Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak.

“Secara manfaat, otomatis komunitas saya di Malang bisa lebih dikenal masyarakat. Mungkin secara tidak langsung bisa menginspirasi bahwa dengan situasi ini tidak menjadi penghalang seniman untuk tetap berkarya,” jelasnya.

Cahyo yang sidah terjun ke dunia seni tari sejak duduk di bangku taman kanak-kanak tentu telah melewati pahit manisnya perjalanan seniman tari. Cahyo bahkan sempat vakum dari dunia seni tari saat duduk dibangku SMP hingga SMA lantaran tak ada kawan pria dalam berlatih seni tari.

Namun ketika kuliah, dia mengambil Jurusan Seni di salah satu perguruan tinggi di Solo. Kentalnya dunia seni tari di Solo membuatnya bersemangat lagi dalam menggeluti seni tari hingga saat ini.

Dalam merancang sebuah karya, Cahyo mengaku selalu mempertimbangkan fokus sasaran penontonnya. Jika dia menyasar masyarakat umum, dia akan menghilangkan idealisnya sebagai seniman tari. Namun ketika menyasar penonton seniman, maka dia akan menunjukkan inti sari dari sebuah seni tari itu.

Karya yang dia tampilkan memiliki pesan tersurat maupun tersirat dalam setiap karyanya. Beberapa karyanya mayoritas mengandung unsur komedi, teatrikal dan kontemporer berbasis tradisi.

“Bagi saya seni tari itu passion saya, saya bisa mengungkapkan ekspresi saya meski tidak harus dengan kata kata. Jadi simbolik simbolik melalui gerakan. Di situ saya merasakan kenikmatannya sebuah seni tari. Saya tidak harus berbicara, tapi dengan bahasa tubuh, saya bisa menyampaikan sesuatu,” tuturnya.

  • Bagikan