Surakarta, 2 Mei 2025

Penulis: Dr. Sugit Zulianto, M.Pd.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP dan Peer Group Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi, Universitas Sebelas Maret
Tugujatim.id – Selintas terlihat di jalan raya ada anak-anak yang mengemudikan kendaraan begitu cepat hingga tidak menyadari atas bahaya pada diri sendiri, serta tidak memahami atas keselamatan orang lain. Seiring dengan itu, tampak juga anak-anak yang menyerang orang lain, baik itu perampasan maupun penodongan benda tajam untuk menakuti warga masyarakat. Sudah demikian gambaran ekspresifnya, masih juga ada ujaran yang merundung, bahkan ada ucapan-ucapan yang tidak menghargai orang lain. Akibatnya, kepatutan sikap saling menghargai sesama warga masyarakat melemah. Sepertinya, ada yang terlepas dari jiwa anak, yakni daya apresiasi sastra yang masih perlu dididikkan dengan bijak.
Apa apresiasi itu? Sebenarnya, apresiasi itu merupakan sikap mental seseorang saat mengenal, memahami, dan menghormati sesuatu dengan jujur, tanpa pembelokan atas keadaan yang realitis. Memang, pada awalnya, seorang anak yang mengenal dan membaca karya sastra tidak otomatis menjadi anak baik. Akan tetapi, setelah pengenalan, pemahaman, dan penghormatan dilakukan intensif terhadap beragam karya sastra, misalnya puisi, cerpen, naskah drama, novel, dan biografi, anak-anak akan terbiasa untuk menghargai orang lain. Dengan mengapresiasi karya sastra, mental seseorang akan makin peka terhadap makna untaian kata yang dirajut oleh penyair. Akan tetapi, daya apresiasi tidak dapat tumbuh secepat diharap. Artinya, perlu ada proses bertahap untuk membangun mental apresiator pada diri anak
Apresiasi sebenarnya tidak harus dilakukan hanya terhadap karya sastra. Akan tetapi, melalui karya sastra sikap seorang apresiator dapat terbentuk. Sebagai gambaran, untuk menanamkan kepedulian terhadap kenyataan lingkungan, tentu kita sepakat bahwa lingkungan harus dijaga. Namun, waspadai bila ada pesan dalam larik “lihat kebunku, penuh dengan bunga”.
Apakah benar bahwa kebun penuh dengan bunga? Dari satu larik itu, ternyata ada pesan kebohongan yang tertanam pada jiwa anak. Ya, sekilas, larik itu memang benar. Akan tetapi, ada pesan kebohonan yang perlu direnungi kembali, yakni ternyata kebun tidak penuh bunga. Selain itu, ada juga juga pesan dalam larik “kiri kanan, kulihat saja” yang menyiratkan pesan ketidakpedulian. Sekilas, larik itu benar. Akan tetapi, ada pesan ketakacuhan yang patut dipertimbangkan kembali.
Berbeda dengan itu, melalui karya sastra, sikap apresiator yang manusiawi terhadap sesama dapat tertanam dengan baik. Sebagai gambaran, pada larik “hormati gurumu, sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman” terdapat pesan moral yang humanis. Anak yang melantunkan larik itu akan terpengaruh untuk menghormati seorang guru, bukan melawannya saat dididik.
Senada dengan itu, anak yang menyanyikan larik itu akan terdampak untuk menghargai teman, bukan mengganggu atau mengejek saat beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Memang, ketika melantunkan larik itu, anak yang berwatak kasar tidak otomatis berubah menjadi anak baik. Akan tetapi, secara perlahan, anak-anak akan merenung dan mewujudkan sikap baiknya terhadap sesama, terutama terhadap guru dan sesama kawan di sekolah.
Bertolak dari dua contoh singkat tersebut, realitas martabat suatu bangsa dapat terlihat dari perilaku anak-anak yang akan bertumbuh hari ini, bahkan berkembang di masa akan datang. Siapapun insannya, tentu bangga terhadap anak yang tidak berbohong. Siapapun bangsanya, tentu senang terhadap anak yang peduli pada lingkungan. Kapanpun masanya, sungguh bahagia bila guru dimuliakan dan teman dihargai.
Dengan kata lain, karakter baik dalam kehidupan, yakni jujur, tidak bohong; peduli, tidak acuh tak acuh; santun, tidak nakal; dan bersahabat, bukan berkhianat tentu dapat mencerminkan kadar kemanusiaan yang didambakan oleh segenap warga bangsa di masyarakat. Untuk itu, menempa mental apresiator perlu dilakukan meskipun melalui potongan karya sastra, larik syair lagu, apalagi karya sastra seutuhnya.
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa martabat bangsa ditentukan oleh sikap baik generasinya. Namun, untuk membentuk mental yang baik pada generasi harus dimulai sejak dini, termasuk melalui penghargaan terhadap karya sastra. Sungguhpun begitu harapannya, tidak semua karya sastra dapat memicu kebaikan. Artinya, kata-kata yang terlepas tanpa perenungan yang dalam kadang dapat juga menimbulkan dampak psikologis yang berbahaya bagi penikmatnya.
Dalam kondisi itu, tidak berarti bahwa menikmati karya sastra dihindari. Sebaliknya, mendidikkan karya sastra, termasuk menempa jiwa apresiator pada diri anak perlu dilakukan melalui pendampingan sepatutnya. Melalui proses itu, martabat suatu bangsa akan dapat dirasakan oleh regenerasi akan datang. Salam budaya. Yuk, kita menanam kebaikan melalui karya sasta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Kontak Penulis:
Dr. Sugit Zulianto, M.Pd. (sugit_zulian@staff.uns.ac.id/085241064789)







