JEMBER, Tugujatim.id – Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya dan tradisi yang beragam. Salah satu warisan budaya unik yang lahir dari kreativitas masyarakat pedesaan yakni, Can-Macanan Kadduk.
Sebuah tradisi khas Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tradisi ini melibatkan pertunjukan boneka harimau raksasa yang terbuat dari karung goni dan secara historis berkembang sebagai bagian dari acara perayaan atau ritual tertentu.
Dilansir dari berbagai sumber, Can-Macanan Kadduk ini, menjadi tradisi yang masih bertahan di tengah pesatnya arus modernisasi dan persaingan budaya lokal. Can-Macanan Kadduk menjadi tradisi yang masih kuat dipertahankan oleh para pegiat komunitas kesenian yang ada di Jember.
Meski tidak diketahui pasti, sejak kapan Can-Macanan Kadduk hadir di Kota Cerutu, namun tradisi ini memuat filosofi yang erat dengan masyarakat lokal. “Can-Macanan Kadduk merefleksikan kehidupan warga masyarakat perkebunan, yang menjaga kebun dari ancaman hewan yang merusak,” dikutip Tugujatim.id pada laman jembertourism.jemberkab.go.id, Sabtu (19/10/2024).
Jika dilihat sepintas, tradisi Can-Macanan Kadduk seperti Barongsai khas budaya Tionghoa. Kendati demikian, Can-Macanan Kadduk memiliki identitasnya sendiri, yang terbuat dari bahan sederhana, tanpa menghilangkan keunikan saat melakukan aksi.
Bagaimana tidak, ketika Can-Macanan Kadduk beraksi, seketika karung goni yang menyerupai bulu lebat itu ikut bergoyang-goyang, mengikuti lantunan alat musik tradisional.
Biasanya, dalam sekali pementasan, tradisi Can-Macanan Kadduk membutuhkan sekitar 45-50 orang, yang saling berkolaborasi dan menghasilkan pertunjukan yang memberi kesan tersendiri bagi yang melihatnya.
Selain Can-Macanan Kadduk, pagelaran tradisi ini biasanya diiringi dengan berbagai pertunjukan, seperti atraksi burung garuda, bela diri dengan tangan kosong, atraksi anak-anak, atraksi berpasangan, hingga atraksi Marlena.
Tradisi Can-Macanan Kadduk menunjukkan, bagaimana budaya dari berbagai komunitas dan daerah, saling memberikan pengaruhnya. Salah satu komunitas atau kelompok masyarakat, yang terus mempertahankan tradisi ini adalah Bintang Timur.
Diketahui, keberadaan komunitas tersebut sejak tahun 1972 yang berada di kawasan Tegalboto, Kecamatan Sumbersari. Berbekal gotong royong antar anggota, yang berasal dari berbagai kelas sosial, komunitas ini mampu menggelar kesenian Can-Macanan Kadduk secara rutin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








