Mengenal Saminisme, Ajaran Unik Suku Samin

  • Bagikan
Suku Samin ketika menerima kunjungan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. (Foto: Dokumen/Kominfo Jatim)
Suku Samin ketika menerima kunjungan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. (Foto: Dokumen/Kominfo Jatim)

BOJONEGORO, Tugujatim.id – Suku Samin merupakan sekelompok masyarakat asli dari Pulau Jawa yang mengikuti ajaran Samin Surosentiko. Suku Samin ini tinggal di Blora dan Bojonegoro.

Meski berasal dari ajaran satu orang, sejarah masyarakat Samin didefinisikan berbeda-beda dalam berbagai literatur. Termasuk tentang persebaran ajaran Samin di daerah Bojonegoro maupun Blora. Ajaran Samin ini sendiri disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Masyarakat ini merupakan keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan.

Ajaran Saminisme banyak berbicara mengenai cara hidup manusia yang sederhana, mengutamakan kedamaian, dan sikap saling menolong. Terdapat ungkapan-ungkapan khas Samin yang dapat merefleksikan nilai-nilai adat masyarakat.

Di antaranya adalah nrimo (sabar menerima), rilo (ikhlas), trokal (kerja keras). Selain itu ada ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe yang memiliki arti membantu orang lain dengan bekerja tanpa pamrih. Ojo waton ngomong, ning ngomong kang waton yang artinya jangan banyak berbicara, tapi berbicaralah apa adanya.

Orang Suku Samin mendasarkan perilaku pada empat hal. Mereka tidak mengganggu siapa pun, tidak mengambil milik orang lain, mencari makan dari miliknya sendiri, dan menjaga perilaku dengan baik.

Orang Samin tidak tinggal bergerombal. Mereka tinggal berpencar di tiap desa yang tersebar di Kabupaten Blora, Bojonegoro dan kabupaten-kabupaten lain di sekitarnya. Seperti Kabupaten Grobogan, Rembang, Pati, dan Kudus. Dalam satu desa, biasanya terdiri dari 5-6 keluarga.

Dalam pergaulan sehari-hari, baik terhadap sesama Samin maupun orang luar, masyarakat Samin memegang prinsip, “ono niro mergo ningsung, ono ningsung mergo niro” (saya ada karena kamu, kamu ada karena saya). Karena prinsip itu, orang Samin tidak mau menyakiti orang lain, tidak mau mengambil hak orang lain, tapi mereka juga tidak mau hak-hak mereka dirampas.

Tulisan ini kami sadur dari beberapa sumber antara lain: Lipi.go.id , bojonegorokab.go.id , jurnaba.co dan buku berjudul “Hanggo Puso Aji: Ajaran dan Sejarah Pergerakan Ki Samin Surosentiko” karya Budi Santoso 2016. (Agus Setiawan/gg)

  • Bagikan