Mengenal Wasto, Aplikasi Pemilah Sampah Buatan Arek Malang

  • Bagikan
Aplikasi Wasto buatan arek Malang yang menjuarai kompetisi Damping Incubator Competition (2021). (Foto: Dokumen)
Aplikasi Wasto buatan arek Malang yang menjuarai kompetisi Damping Incubator Competition (2021). (Foto: Dokumen)

MALANG, Tugujatim.id – Arek Malang asal Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang ini bisa dibilang membawa nama harum Malang Raya. Alan Wahyu Hafiludin namanya. Bagaimana tidak, ia sukses menjuarai ajang Damping Incubator Competition (2021) berkat aplikasi berbasis Android buatannya yang dinamai Wasto setelah menyingkirikan 256 peserta dari seluruh Indonesia.

Aplikasi Wasto sendiri ini merupakan aplikasi pemilah sampah berbasis artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Di mana pengguna bisa memilah sampah berdasarkan jenisnya masing-masing lewat aplikasi ini.

Sebagai informasi, ajang Damping Incubator Competition (2021) ini adalah program kompetisi pembuatan ide bisnis dan pengembangan usaha. Alan sendiri sukses juara 1 dan berhak atas hadiah, pendampingan, inkubator bisnis dana bergulir hingga pemberian modal usaha.

”Misal ada kategori sampah plastik seperti cup kopi kekinian atau botol plastik itu bisa dideteksi d isini oleh pengguna. Jadi peran dia ini bisa dikatakan menggantikan tempat sampah,” jelas Founder Aplikasi Wasto, Alan kepada reporter tugumalang.id, grup Tugu Jatim Selasa (15/6/2021).

Founder Aplikasi Wasto, Alan Wahyu Hafiludin. (Foto: Dokumen)
Founder Aplikasi Wasto, Alan Wahyu Hafiludin. (Foto: Dokumen)

Menurut dia, volume sampah plastik yang besar dan tidak terpilah dengan baik sangat berbahaya bagi lingkungan. Wasto bisa jadi ide alternatif dalam sistem pemilahan sampah suatu daerah. Membantu hal ini, Wasto bahkan jemput bola mengumpulkan sampah yang telah dikumpulkan pengguna dengan aplikasi ini.

Sebagai gantinya, pengguna akan mendapat reward berupa poin di tiap pemilahan dan pengumpulan sampah yang dilakukan. Jika poin telah mencapai titik tertentu, maka pengguna bisa menukarkan poin itu dengan merchandise atau hadiah dari sejumlah merchant kerjasama.

Lebih lanjut, dari sampah yang telah dikumpulkan dari pengguna, Alan yang bertugas untuk mengelola sampah ini untuk didaur ulang dan dijadikan barang bernilai ekonomis kembali. Bisa dijadikan vas bunga, atau pot bahkan bisa diekspor ke luar negeri.

”Sampah-sampah plastik seperti botol plastik itu kan jadi bahan baku produk lain kayak tali rafia dan lain-lain,” kata pria yang tinggal di Kecamatan Sisir, Kota Batu ini.

Saat ini, Alan sendiri tengah terus mengembangkan ide bisnis ini menjadi nyata. Harapannya, bisa ikut membantu sistem pengolahan sampah di Malang Raya, meskipun dalam lingkup kecil di kalangan muda-mudi.

Harapan ini termanifestasi dalam penamaan Wasto sendiri. Kata Alan, Wasto punya 2 makna. Dalam bahasa inggris punya arti membuang. Namun, jika merunut makna dari bahasa sansekerta, wasto ini asalnya dari kata Wastu yang artinya berharga.

”Kalau diartikan secara keseluruhan, maka bisa diartikan bahwa dari barang yang semula tak berguna bisa dijadikan barang yang berharga. Itu asalnya penamaan Wasto,” kisahnya.

Kisah Sukses Di Balik Wasto Usai di-PHK Akibat Pandemi Covid-19

Lahirnya Wasto ini sendiri memiliki kisah inspiratif dibaliknya. Dikisahkan Alan, Wasto lahir saat roda nasibnya berbalik 180 derajat. Alan menjadi satu dari banyak korban PHK sejak pandemi COVID-19 merebak pada 2020 lalu.

Meski begitu, Alan tak menyerah dan berdiam diri. Alan justru melihat potensi bisnis sekaligus ikut menjaga lingkungan. ”Awalnya dulu habis di PHK itu saya banyak liat tumpukan sampah karena orang kan jarang keluar rumah ya. Akhirnya kepikiran hal ini,” kisahnya.

Selain itu, Alan sendiri bahkan punya latar belakang yang tak disangka-sangka. Pria beranak satu ini terpaksa drop out dari UIN Maulana Malik Ibrahim Jurusan Informatika di tahun 2014 lantaran masalah ekonomi.

Akhirnya dia fokus bekerja di Jakarta sejak 2019 di sebuah start up yang bergerak di bidang recycle. Dari berbagai latar belakang pengalaman itu, dia nerintis inovasi bisnis yang menggabungkan bank sampah dengan teknologi.

”Sejauh ini kita sudah mulai menata semuanya, kini sudah di tahap prototyping, pembelian mesin hingga pembangunan pabrik sampah plastiknya. Nanti kita akan terus bergerak merealisasikan ide bisnis ini,” katanya.

Dari Alan, anda bisa belajar bahwa sesulit apapun kondisimu, anda tetap bisa membuktikan diri anda bisa sukses. Seperti dikatakan Alan, bahwa cita-cita sekecil apapun, kebaikan sekecil apapun pasti akan berdampak pada sekitar.

”Terlebih jika dilakukan secara konsisten dan terus-menerus. Apapun itu pasti berarti. Maka dari itu jangan menyerah, jangan berhenti untuk berbuat baik,” pesannya.

  • Bagikan