MMI Digitalisasi 103 Album Musik Keroncong, Abadikan Warisan Budaya hingga Pesan Bung Karno - Tugujatim.id

MMI Digitalisasi 103 Album Musik Keroncong, Abadikan Warisan Budaya hingga Pesan Bung Karno

  • Bagikan
Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia saat menunjukkan dereta koleksi-koleksi musik dan foto-foto musisi zaman dulu. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia saat menunjukkan dereta koleksi-koleksi musik dan foto-foto musisi zaman dulu. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Museum Musik Indonesia (MMI) Kota Malang telah mendigitalkan 103 album musik keroncong untuk mengabadikan koleksi warisan budaya Indonesia. Kecintaan Presiden pertama RI, Ir. Sukarno atau Bung Karno terhadap musik keroncong juga tercatat dalam salah satu album koleksi MMI.

Jejak Bung Karno dalam permusikkan keroncong tercatat dalam album koleksi MMI berjudul Keroncong Tempo Doeloe Galian Bung Karno. Album ini semakin menguatkan bahwa Bung Karno juga merupakan pecinta berat musik keroncong.

Album ini juga dinilai istimewa lantaran berisi tentang perjalanan perjuangan Bung Karno yang dikemas dalam lantunan beraransemen keroncong. Bahkan, dalam album ini juga terdapat pesan tertulis dari Bung Karno untuk salah satu musisi keroncong kala itu.

“Saja inginkan sdr. Netty membuat gramaphone – records dari pada lagu lagu kerontjong asli, galian” saja,” tertulis dalam cover kaset album itu, Bogor, 28 Juli 1966, tertanda Sukarno.

Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia saat menunjukkan dereta koleksi-koleksi musik dan foto-foto musisi zaman dulu. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Hengki Herwanto, pendiri Museum Musik Indonesia saat menunjukkan dereta koleksi-koleksi musik dan foto-foto musisi zaman dulu. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Hengki Herwanto, pendiri MMI menuturkan bahwa pada masa keemasan perkembangan musik keroncong memang telah memikat hati masyarakat Indonesia. Termasuk tokoh pendiri bangsa, Bung Karno juga tak luput turut menggandrungi musik keroncong ini.

“Jadi salah satu album dalam koleksi kita memang menunjukkan bahwa Bung Karno merupakan pecinta musik nasional termasuk keroncong. Jadi dalam album itu, isi lagu lagunya itu merupakan pilihan Bung Karno,” ucap Hengki.

Album tersebut berhasil didokumentasikan dan diarsipkan dalam bentuk digital. Adapun tujuannya semata mata demi dapat mengabadikan bukti bukti otentik sejarah bangsa agar tak hilang ditelan zaman dan tetap bisa diakses masyarakat luas.

“Keroncong sebagai musik yang lahir di negara kita perlu diperkenalkan, disosialisasikan dan diedukasikan ke generasi muda untuk memahami warisan budaya bangsa kita,” tuturnya.

Hengki juga menjelaskan sekilas perjalanan perkembangan musik keroncong di Indonesia. Disebutkan, musik keroncong asli atau klasik lahir di Indonesia sekitar tahun 1820. Keroncong klasik mampu bertahan hingga tahun 1970 an.

Adapun tokoh terkenal dalam masa itu yang tercatat di koleksi MMI yaitu musisi legenda sekaligus pencipta lagu bernama Gesang Martohartono. Gesang dinilai sebagai tokoh ikonik yang mewakili musik keroncong klasik Indonesia.

Kemudian musik keroncong modern mulai muncul dan berkembang pada tahun 1970 an hingga tahun 1990. Dalam masa ini, tokoh terkenal yang mempopulerkan musik keroncong modern yaitu Mus Mulyadi. Bahkan kala itu grup musik Koes Plus juga sering tampil dengan lagu lagu keroncong.

Memasuki abad mulenium pada tahun 1990, musik keroncong modern mengalami perkembangan hingga muncul musik keroncong kontemporer. Unsur keroncong klasik dan modern dikembangkan dengan kreasi yang menghasilkan irama keroncong kontemporer.

“Kita berusaha mengabadikan data dari album musik keroncong yang ada. Sehingga diharapkan bisa mewakili keberadaan jejak musik keroncong yang beraneka ragam ini,” ucapnya.

  • Bagikan