MOJOKERTO, Tugujatim.id – Kirab tahunan yakni Kirab Agung Sri Linggar Kertaningrat dilakukan oleh ratusan pegiat budaya dari beragam padepokan, baik dari Mojokerto maupun daerah lainnya di berbagai situs bersejarah di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Rute yang ditempuh pada kirab tersebut berawal dari Wringin Lawang, lalu menuju Candi Brahu, berlanjut ke situs Siti Inggil hingga berakhir di Pendopo Agung Trowulan.
“Kirab agung ini merupakan simbol kebangkitan nilai-nilai luhur Majapahit dan wujud nyata menyatukan wiji-wiji budaya Nusantara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Jadi bukan sekadar seremoni tahunan saja, namun juga momen kultural dan spiritual,” ungkap Ketua Pelaksana Kirab sekaligus perwakilan Padepokan Gajah Kencana Mojopahit, Nurkholis, Selasa (08/07/2025).
Terlihat, peserta kirab agung ini berasal dari berbagai daerah seperti Pasuruan, Ponorogo termasuk kota-kota lain di Jawa Timur. Nurkholis menambahkan, kirab agung ini membawa spirit pelestarian warisan budaya leluhur. Beragam elemen budaya seperti sajian gunungan, umpo rampe, serta sajian tolak balak turut dihadirkan sebagai simbol dari tekad penyatuan Nusantara.
Selain itu, terdapat konsep silihinggah yang menjadi esensi utama dalam Kirab Agung Sri Linggar Kertaningrat. Konsep tersebut berarti melahirkan kembali nilai-nilai budaya yang murni, abadi dan asli. Tidak seperti acara ruwatan pada umumnya, kirab agung ini lebih berfokus pada proses spiritual dari budaya Nusantara.
“Silihinggah itu berarti benar-benar melahirkan wiji budaya yang pilihan, kekal dan asli,” tandasnya.
BACA JUGA: Menilik Tradisi Ruwat Agung di Petirtaan Jolotundo Mojokerto
Masih kata Nurkholis, upaya pelestarian atau uri-uri budaya Majapahit yang hampir terlupakan menjadi agenda utama kirab ini. Pihaknya berharap warisan budaya dan kearifan lokal masih terpatri di hati masyarakat sekaligus menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
“Para leluhur ingin persatuan, dan wajib bagi kami sebagai keturunan untuk menyatukan budaya Nusantara,” tuturnya.
Terpisah, Ketua Paguyuban Srikandi Indonesia, Sumartik mengatakan bahwa kegiatan ini turut menjadi bagian peringatan bulan Suro (Muharram), yang dipandang penuh makna spiritual. “Kami juga berharap budayawan-budayawan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah, mulai daerah sampai pusat,” harapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








