Muhadjir Effendy: Perlu 100.000 'Tracer' Covid-19 untuk Layani 270 Juta Penduduk Indonesia - Tugujatim.id

Muhadjir Effendy: Perlu 100.000 ‘Tracer’ Covid-19 untuk Layani 270 Juta Penduduk Indonesia

  • Bagikan
Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia bersama Plt Wali Kota Surabaya, Whisnu Saktu Buana di Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya, Selasa (16/02/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia bersama Plt Wali Kota Surabaya, Whisnu Saktu Buana di Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya, Selasa (16/02/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Republik Indonesia (RI) memaparkan bahwa jumlah ‘tracerCovid-19 (orang yang bertugas melakukan tracing virus) yang dimiliki Indonesia tidak sampai 5.000 orang. Padahal menurut kalkulasi, Muhadjir melanjutkan, bahwa setiap 100.000 penduduk harus dilayani dengan 30 ‘tracer’ agar dapat menjalankan ‘tracing’ dengan ideal dan cepat. Apalagi total keseluruhan penduduk Indonesia sampai 270 juta jiwa.

“Saya baru tahu kalau jumlah ‘tracer’ kita tidak sampai 5000 orang. Setiap 100.000 penduduk harus dilayani dengan 30 ‘tracer’. Kalau penduduk 270 juta perlu 100.000 ‘tracer’. karena itu Menteri Kesehatan RI juga melakukan rekrutmen ‘tracer’, kalau tidak bisa 100.000 orang ‘tracer’, separuh saja yaitu 50.000 juga gakpapa,” terang Muhadjir Effendy di Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya, Selasa (16/02/2021).

Muhadjir membuat semacam analogi yang dinamakan ‘ndas tawon’, maknanya ketika hanya membunuh tawon yang terbang saja, tawon-tawon lain bakal muncul lagi mengganggu. Berbeda bila yang dimusnahkan ialah sarang tawon, seluruh tawon akan ikut musnah. Muhadjir kemudian menyamakan analogi itu dengan persoalan penanganan penyintas Covid-19 yang ada di perkampungan Surabaya.

Virtual Class Tugu Malang x Paragon, Tugu Jatim, Tugu Media Group
Ads.

“Saya ingat betul ketika Bu Risma (Menteri Sosial RI, red) melakukan ‘tracing‘ di kampung ketika ada kasus langsung didatangi. Untuk yang berat dan sedang diangkut di luar dan dirawat. Kalau kita mengandalkan 3M saja, kita ibarat membunuh ‘tawon ndas’ yang terbang tapi tidak pernah mematikan di sarangnya, jadi akan muncul terus. Makanya dibunuh sekalian di sarangnya,” imbuhnya.

World Health Organization (WHO) menambahkan kategori penularan Covid-19 di Indonesia sebagai level komunitas. Muhadjir mengatakan, bukan lagi level klaster, sehingga perlu menjaga keluarga dan orang terdekat agar tetap sehat.

“WHO sudah menetapkan bahwa tingkat penularannya (Covid-19 di Indonesia, red) level komunitas, bukan lagi klaster. Setiap keluarga bila ada yang terjangkit harus dikarantina dan kalau sehat perlu diamati dulu apakah masih masa inkubasinya. Kalau ringan, perlu dilakukan isolasi di tempatnya mandiri,” tuturnya.

“Kasih jamu dan vitamin kalau semakin baik alhamdulillah, kalau semakin buruk segera diambil. Inilah yang dilakukan oleh India dan Hongkong, karena di India sekarang ada penurunan yang sangat drastis,” lanjutnya.

Muhadjir menambahkan, untuk 3T (tracking, testing dan treatment) harus terus dilakukan, selama atau setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) harus dilakukan. Kata Muhadjir, yang sehat ditunggu betul untuk memastikan bahwa dia sehat melalui masa inkubasi. Kalau memang sakit harus segera ditangani. Sehingga akurasi data menjadi sangat penting untuk penyelesaian Covid-19.

“Ini pengalaman baik (dalam upaya menangani kasus Covid-19 di Surabaya, red), maka bawa dirimu dan Kota Surabaya harus dipertahankan, inshaaallah ini adalah yang benar. Tinggal tunggu (pengiriman, red) vaksinasi yang masif, harus kita tangani,” pungkasnya. (Rangga Aji/gg)

  • Bagikan