Muhammad Rifky Wicaksono, Dosen UGM Gagal UN tapi Lulus di Oxford dan Harvard

Muhammad Rifky Wicaksono, Dosen UGM Gagal UN tapi Lulus di Oxford dan Harvard

  • Bagikan
Muhammad Rifky Wicaksono saat wisuda di Harvard Law School/tugu jatim
Muhammad Rifky Wicaksono saat wisuda di Harvard Law School. (Foto: Instagram @M.rifky.w)

Tugujatim.id – Muda, inspiratif, dan berprestasi. Tiga kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan sosok Muhammad Rifky Wicaksono. Dia merupakan dosen muda UGM (Universitas Gadjah Mada). Rifky, demikian sapaan akrabnya, mendapatkan gelar magister hukum dari Harvard University. Sebelumnya pria berusia 28 tahun ini juga berhasil menyandang gelar sarjana hukum dari UGM.

Selama menjalani kuliah S1, Rifky menjadi pengacara di Assegaf Hamzah and Partners. Usai lulus SI, dia mengambil pendidikan magister di Oxford University melalui Beasiswa Jardine Foundation.

Putra tunggal pasangan Ir. Nur Iswanto dan Ir. R.R Rukmowati ini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang lulus dari program magister of Harvard Laws School tahun 2021. Ia berhasil lulus dengan penghargaan Dean’s Scholar Prize karena mendapatkan nilai tertinggi untuk mata kuliah Mediation dan International Commercial Arbitration.

Tak hanya itu, Rifky juga mendapatlan predikat Honors untuk tesisnya yang merumuskan Theory of Harm baru untuk hukum persaingan usaha Indonesia dalam menganalisis merger di pasar digital.

Dibalik prestasi gemilangnya, Rifky ternyata pernah gagal dalam Ujian Nasional (UN). Kegagalan ini dialaminya semasa SMA. Hal ini dikarenakan menjelang ujian Rifky disibukkan dengan lomba debat Bahasa Inggris dari kompetisi nasional hingga internasional.

Kesibukan debatnya menyita waktu belajar untuk UN. Mulai dari seleksi hingga masa karantina. Apalagi, pada saat itu, UN dimajukan sebulan lebih cepat dari Mei ke April 2010. Akhirnya, persiapannya kurang maksimal dan dia gagal dalam UN.

Mendengar kabar bahwa anaknya gagal dalam ujian membuat kedua orang tua Rifky kecewa sekaligus khawatir dengan masa depan anaknya. Merasa bersalah, dia kembali bangkit dan belajar intensif untuk mengejar ketertinggalannya.

Dia juga rajin membaca kisah-kisah sukses tokoh-tokoh dunia seperti Thomas Alva Edison, Steve Jobs, hingga Bill Gates. Hal ini membuatnya yakin bahwa bakat dan kecerdasan saja tidaklah cukup untuk mengantarkan pada kesuksesan.

  • Bagikan