Mujiburrohman, Sempat Terusir Akibat Perang Sampit, Kini Jadi Guru Berprestasi

Mujiburrohman, salah satu pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Mujiburrohman, salah satu pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid. (Foto: Dokumen/Ficky)

PROBOLINGGO, Tugujatim.id – Sempat terusir dari tanah kelahirannya saat perang Sampit antara Suku Dayak dan Madura tahun 2000 lalu, tidak membuat Mujiburrohman patah arang. Selalu ada masa depan yang baik, di manapun berada. Itulah yang dia buktikan ketika menjadi salah satu guru yang berprestasi di Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

Tak ada yang menyangka, seorang yang terusir dari tanah kelahirannya itu kini menjadi cahaya di tempat barunya. Ia adalah seorang pendidik di lembaga pendidikan kejuruan di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

Mujiburrohman adalah seorang guru yang lahir di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dia  merupakan anak ketiga dari lima bersaudara.

Mujiburrohman pergi dari Sampit saat berusia 14 tahun setelah tumbuh besar di Palangkaraya. Konflik berdarah antara Suku Dayak dan Madura memaksa dia dan keluarga pergi meninggalkan tempat tersebut untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dia dan keluarga tiba di Surabaya. Di sana mereka sekeluarga memulai kehidupan baru dari nol, tanpa modal apapun yang dibawa akibat konflik yang terjadi.

Lembaran mimpi-mimpi hebat yang ditumpuk Mujiburrohman menjadikannya tangguh dalam menjalankan hidup yang berat ini. Kegigihan dan tak kenal menyerah untuk selalu berusaha menaklukkan keraguan mengantarkannya menjadi sosok yang patut dicontoh oleh kaula muda.

Ketika menginjakkan kaki di tanah Jawa, Ia dimasukkan ke Pondok Pesantren Nurul Jadid oleh orang tuanya. Di awal menjadi santri, cukup kesulitan dalam mengejar prestasi dan menyeimbangkan dengan kegiatan di Pesantren.

Akan tetapi, dengan semangat pantang menyerah terhadap keadaan, Mujiburrohman mampu membuktikan dengan menjadi lulusan terbaik Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

Semangat juangnya semakin terlihat ketika Ia memasuki bangku perkuliahan, tepatnya di Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Jadid. Setelah mendapat gelar sarjana di sana, pondasi kehidupan yang selalu ia junjung tinggi mampu mengantarkannya mengunjungi berbagai belahan bumi.

Saat itu melalui kegiatan YSEALI Summit for Professional Fellowship yaitu Amerika Serikat, Laos, Korea Selatan, dan Singapura. Selain itu, juga mengikuti Short Course di Asian Institute of Technology Thailand serta Konferensi Perdamaian Dunia di Belanda.

Bahkan saat di Amerika Serikat, ia langsung bertemu dan berjabat tangan dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

“Saya sadar semua manusia sama, lahir dengan fitrah serta kelemahan disertai tangisan, namun masa depan kitalah yang menentukan,” ujar Mujib dengan penuh semangat.

Sebagai bentuk pengabdiannya kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid, sejak tahun 2010 Ia mendedikasikan dirinya sebagai guru di Sekolah Menengah Kejuruan Nurul Jadid sekaligus saat ini sebagai Pengurus Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Bak lilin-lilin kecil yang membuat malam menjadi sangat indah, Mujiburrohman mampu mengeluarkan potensi-potensi hebat para santri agar bisa bercahaya membawa nama harum Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Semangat juang yang ia tularkan mampu membawa berbagai gebrakan di antaranya: Santri Nurul Jadid mampu menjuarai kontes game tingkat Asean, membuat lagu Ayo Mondok Despacito Ala Santri yang telah ditonton jutaan kali oleh masyarakat.

Hal itu mengantarkan Santri Nurul Jadid menjadi Duta Siswa Berprestasi Nasional 2019, dan masih banyak hal hebat lainnya yang telah Ia buat.

Sama seperti arti dari Nurul Jadid yaitu cahaya baru, Mujiburrohman mampu membuktikan bahwa Ia merupakan seorang guru yang bisa mengeluarkan cahaya-cahaya baru dari diri para santri.

Motto hidup yang selalu Ia junjung yakni manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat untuk yang lainnya mampu membawa Ia menjadi sosok yang selalu semangat untuk bisa mengajak dan menjadikan kita semua pemenang dari keterpurukan.

“Belajar itu ibadah, prestasi itu dakwah, dan berkarya itu sejarah,” pesan Mujiburrohman.

Catatan ini adalah bagian dari program Jelajah Jawa-Bali, tentang Inspirasi dari Kelompok Kecil yang Memberi Arti oleh Tugu Media Group x PT Paragon Technology and Innovation. Program ini didukung oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Pondok Inspirasi, Genara Art, Rumah Wijaya, dan pemimpin.id.