SURABAYA, Tugujatim.id – Sopir angkutan kota (angkot) di Kota Surabaya pasrah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sopir angkot ini mengaku tak bisa menaikkan harga karena sepi penumpang.
Berdasarkan pantauan Tugu Jatim di Terminal Joyoboyo, Surabaya, terlihat lengang. Sejumlah sopir angkot terlihat sedang antre menunggu giliran beroperasi pada Jumat (09/09/2022).
Sementara itu, jalur transportasi bus Suroboyo nampak lebih banyak penumpang yang terlihat menunggu keberangkatan. Kondisi ini berbeda dengan antrean angkot yang hampir tidak ada penumpang. Beberapa angkot sengaja tak beroperasi lantaran sepi penumpang.
Rizal, 51, salah satu sopir angkot sedang rebahan bersama sopir lainnya. Dia mengaku tidak menarik karena sangat sepi penumpang.
“Jumlah penumpang memang menurun. Saya gak narik hari ini, gak ngantre penumpang. Saya cari di jalan-jalan (penumpang) gak ada,” ujarnya.
Terkait dampak kenaikan harga BBM, Rizal mengaku saat ini tarif angkot tidak ada perubahan, masih seharga Rp5 ribu dari TIJ-Lakasantri, sedangkan ke Menganti hanya Rp8 ribu.
“Belum ada tarif naik. Joyoboyo belum ada kenaikan. Kami ini gak dinaikkan ya gak nututi. Dinaikkan kadang ada takutnya (sepi),” ungkapnya.
Sejak kenaikan harga BBM, dia mengaku, pengisian BBM untuk angkotnya bertambah. Dia harus mengeluarkan Rp130 ribu per hari jika tiga kali pulang-pergi angkut penumpang. Sebelumnya, dia hanya mengisi Rp100 ribu per hari.
“Pendapatan berkurang, untuk menyetor mobil (angkotnya) Rp30 ribu. Pendapatan relatif saya Rp50 ribu, kadang Rp30 ribu. Kadang gak dapat sama sekali,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, meski ada bantuan BBM dari pemerintah, hal tersebut tidak terjamin untuk pendapatan mereka.
“Percuma kami mogok, tarif ndak naik aja susah cari penumpang, ditambah ini ada kenaikan BBM, makin susah cari duit,” keluhnya.